PROLOG

2 0 0
                                        

Hari Ketika Bumi Mati

21 Juli 2110

Tidak ada seorang pun yang mengira dunia akan berakhir pada hari itu.

Pagi di Teegarden berjalan seperti biasa.

Jutaan orang berangkat bekerja. Kendaraan memenuhi jalan raya. Pesawat melintas di langit. Anak-anak berangkat ke sekolah. Para ilmuwan menjalankan eksperimen di kompleks nuklir terbesar yang pernah dibangun manusia.

Hari itu tampak sama seperti ribuan hari sebelumnya.

Sampai teleskop-teleskop di seluruh dunia menemukan sesuatu.

Sebuah objek.

Sebuah titik kecil di antara lautan bintang.

Awalnya tidak ada yang panik.

Manusia telah berkali-kali menemukan asteroid yang melintas dekat Bumi.

Sebagian besar tidak berbahaya.

Sebagian lainnya berhasil dibelokkan menggunakan teknologi pertahanan planet yang telah dikembangkan selama puluhan tahun.

Namun kali ini berbeda.

Sangat berbeda.

Karena asteroid itu tidak muncul dalam prediksi mana pun.

Seolah datang dari kegelapan ruang angkasa tanpa peringatan.

Namanya diberikan beberapa jam kemudian.

MU124.

Diameter tiga puluh kilometer.

Kecepatan hampir seratus ribu kilometer per jam.

Dan jalurnya mengarah langsung ke Bumi.

---

Di ruang kendali Badan Pertahanan Planet Internasional, ratusan ilmuwan bekerja tanpa henti.

Simulasi demi simulasi dijalankan.

Hasilnya selalu sama.

Tidak ada cara menghentikannya.

Tidak ada waktu yang cukup.

Tidak ada teknologi yang mampu mengubah jalurnya.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, umat manusia menghadapi ancaman yang tidak bisa mereka kendalikan.

Presiden, perdana menteri, dan pemimpin dunia melakukan konferensi darurat.

Namun semua keputusan terasa sia-sia.

Karena jam terus berdetak.

Dan asteroid itu terus mendekat.

---

Dua belas jam sebelum tumbukan.

Kepanikan mulai menyebar.

Bandara penuh sesak.

Jalan raya macet total.

Orang-orang berusaha meninggalkan kota-kota besar meskipun tidak tahu harus pergi ke mana.

Media sosial dipenuhi doa.

Permintaan maaf.

Pesan perpisahan.

Dan harapan-harapan yang terlambat.

Sebagian orang berkumpul bersama keluarga.

Sebagian memilih beribadah.

Sebagian lainnya menghabiskan jam-jam terakhir hidup mereka dengan menatap langit.

Menunggu.

---

The Cell From Earth [ON GOING]Stories to obsess over. Discover now