Malam itu di pelabuhan Tanjung Priok, aroma solar dan amis laut menusuk hidung, tapi bagi Wulan, ini adalah aroma uang dan keringat jantan.
Wulan, wanita dengan bodi bahenol yang asetnya serba besar, payudara yang nyaris meledakkan dress ketatnya dan bokong bulat yang sangat padat, sedang berdiri di sudut dermaga yang temaram.
Dress merah berbahan spandex yang ia kenakan sangat pendek, menonjolkan lekuk tubuhnya yang binal. Wulan sengaja tidak memakai celana dalam, membiarkan memek tembemnya yang sudah becek dan banjir bergesekan langsung dengan kain ketatnya setiap kali ia melangkah.
Matanya tertuju pada seorang pria gempal yang sedang sendirian mengangkat keranjang ikan dari atas perahu. Pria itu hanya memakai kaos kutang lusuh yang basah oleh keringat, memperlihatkan otot lengan yang besar dan kulit sawo matang yang sangat jantan.
Wulan mendekat, sengaja menggoyangkan bokong besarnya tepat di depan pandangan pria itu.
"Aduh, kasihan banget sendirian angkat barang seberat itu. Kuat banget ya si Bapak ini, sampai keringetan gitu," sapa Wulan dengan suara serak yang binal.
Pria itu berhenti sejenak, mengelap keringat di dahi dengan punggung tangannya yang kasar. Matanya langsung melotot melihat gundukan payudara Wulan yang mencuat di depan matanya.
"Cari rezeki, Neng. Namanya juga nelayan, sudah biasa begini," jawabnya dengan suara berat dan dalam.
"Kenalan dulu dong, saya Wulan," ucapnya sambil mengulurkan tangan. Saat bersalaman, Wulan sengaja mengelus telapak tangan kasar pria itu. "Bapak namanya siapa?"
"Saya... Darma, Neng. Panggil saja Pak Darma," sahutnya canggung, tapi matanya tak bisa lepas dari belahan dada Wulan.
"Pak Darma... Wulan perhatikan dari tadi Bapak kerja keras banget ya. Bapak butuh uang tambahan gak buat keluarganya? Dari pada capek angkat ikan begini, mending ikut Wulan sebentar," bisik Wulan sambil merayap mendekat, hingga aroma parfum mahalnya bercampur dengan bau maskulin sang nelayan.
Pak Darma tampak ragu dan waspada. "Pekerjaan apa tuh Neng? Kalau urusan kriminal atau yang aneh-aneh, saya gak mau ikut. Saya orang jujur, Neng."
Wulan tertawa nakal, jemari lenturnya mulai berani menyentuh otot bisep Pak Darma yang keras.
"Ini mudah kok Pak, malah nikmat banget. Gak ada kriminalnya sama sekali. Saya bayar 2 juta deh buat waktu Bapak sebentar saja. Gimana? Lumayan kan buat tambahan setor ke istri?"
Pak Darma terperangah. Dua juta untuk pekerjaan mudah? Matanya kembali melirik payudara Wulan yang berdenyut binal.
"Dua juta? Apa tuh kerjaannya Neng?" tanya Pak Darma penasaran, jakunnya bergerak naik turun saat tak sengaja melihat jendolan di balik dress Wulan yang sudah tampak sangat basah di bagian selangkangan.
"Mudah aja Pak, Bapak cuma perlu bantu saya bikin 'dokumentasi' pribadi. Bapak tinggal melayani saya sebentar. Ayo ke mobil saya di pojok sana, AC-nya dingin, dan Bapak bisa bebas ngapain aja sama bodi saya yang empuk ini," ajak Wulan sambil menarik tangan kasar Pak Darma.
Wulan sengaja menempelkan payudaranya yang kenyal ke lengan Pak Darma, membuat pria itu merinding sange seketika merasakan kehangatan dari balik dress tipis itu.
"Duhh... Neng Wulan ini bisa aja. Ya sudah, kalau memang gak ada urusan polisi mah saya ikut saja," gumam Pak Darma pasrah mengikuti tarikan tangan Wulan
Selengkapnya ada di bio yang berjudul ONE SHOT
