Para pelayat yang ikut mengantar Zia ke peristirahatan terakhirnya, berangsur-angsur pergi meninggalkan pemakaman. Kini yang tersisa hanyalah Runa dan Alina yang menempati sisi kiri kuburan.
Wanita paruh baya itu duduk di sebelah Alina yang sedang meringkuk di dekat kuburan Zia sambil memeluk nisan kayu yang di tancapkan pada ujung kuburan.
Melihat kondisi Alina sejak insiden hingga pemakaman selesai, Runa lebih merasa kasihan dengan gadis itu ketimbang dirinya sendiri. "Alina."
Tangan kanan Runa yang sedang memegang bahu Alina tak menjadi alasan bagi gadis itu untuk menoleh atau sekedar menggubris panggilan wanita paruh baya itu.
"Ayo pulang nak."
Alina tak merespon ajakan Runa tatapan kosong miliknya masih tertuju pada kelopak bunga yang di tabur pada bagian atas gundukan tanah.
Sebisa mungkin Runa menahan tangis yang hendak pecah namun tampaknya hal itu terasa mustahil terjadi. Sebelum berbicara dengan gadis itu, Runa sempat menghembuskan nafas pelan lewat mulutnya agar suaranya tak terdengar bergetar oleh gadis itu. "Alina, please... ikhlasin Zia ya. Mama tahu ini mungkin berat bagi kamu" Runa menjeda kalimatnya lantaran nafasnya tercekat di tenggorokan. "tapi hidup harus tetap berjalan sayang."
Mata Alina berkaca-kaca usai Runa menyelesaikan kalimatnya, tangis Alina yang baru reda beberapa menit lalu kini justru muncul kembali ke permukaan. "ini semua salah aku ma," ucap Alina sambil sesegukan. "andai aku ngga diam aja waktu kebakaran terjadi, mungkin Zia ngga berakhir disini."
"Kamu ngga sepenuhnya salah mungkin, ini udah takdir yang di siapkan Tuhan untuk Zia."
Dalam radius lima meter dari arah berlawanan di tempat mereka duduk, Eve beserta suaminya berjalan melewati makam. Pasutri tersebut datang bersama para bodyguard yang biasa mengawal Alina maupun Bryton.
Eve menghentikan langkah di sisi kanan Runa. Kehadirannya menarik atensi Runa untuk mendongak ke arah wanita tersebut. Tangan kiri Eve terulur menarik lengan Alina agar gadis itu bangun dari kuburan. "ayo kita pulang Alina."
Tak ada respon dari gadis itu, Alina konsisten pada pendiriannya, rebahan di sebelah kuburan Zia.
Melihat Eve masih kekeuh memaksa Alina bangun Runa pun bersuara, "Bu, cukup!"
"Alina, ayo."
Melihat Alina tak kunjung bergerak, Bryton yang sedang berdiri di belakang Runa merasa gregetan dan ingin ikut menyeret gadis itu untuk berdiri.
"Bu, tolong jangan terlalu keras sama Alina."
Eve berhenti menarik tangan Alina, tatapan tajam wanita paruh baya itu tertuju ke arah Runa. "punya hak apa kamu ngatur-ngatur saya, huh?"
"Saya memang ngga punya hak untuk mengatur anda. Tapi tolong, jangan terlalu keras sama Alina."
Eve memutar kepalanya ke arah Bryton, sorot retina wanita paruh baya itu seolah mengode Bryton untuk mengangkat putri mereka.
Bryton pun menoleh ke belakang usai melakukan eye contact beberapa detik dengan Eve. "kalian, tolong bawa Alina ke mobil."
"Baik tuan," jawab salah satu bodyguard yang berdiri di belakang Bryton mewakili rekannya yang lain.
"Terserah, mau kamu tidur di makam ini sampai kamu menyusul anak kamu itu. Intinya jangan ajak-ajak anak saya," ucap Eve memperingatkan Runa.
Alina menarik diri dari makam Zia lalu mendongak menatap Eve. "ini semua gara-gara mami sama papi."
"Jaga ucapan kamu Alina, mami sama papi ngga ada kaitannya sama meninggalnya Zia."
"Aku ngga percaya sama semua kata-kata yang keluar dari mulut mami dan papi," balas Alina menarik tangannya dari cengkraman Eve.
YOU ARE READING
Unexpected Love 2 :Past Or Future
General FictionLima tahun memang bukan waktu sebentar untuk menghilangkan bayang-bayang orang yang di cintai dari hidup. Namun siapa sangka, sosok yang susah payah untuk Alina ikhlaskan justru selama ini berada satu langkah di depannya. Situasi yang telah berubah...
