Pada akhirnya, kita semua hanyalah kenangan dari orang-orang yang pernah kita cintai.
-Sapardi Djoko Darmono
Aku ingat betul pada saat itu aku sedang menatap jam dinding cukup lama. Hari senin, hari pertama yang membuatku harus tinggal selama satu bulan di sebuah desa yang dingin dan menyenangkan. Bukan untuk bermain, namun aku ditugaskan bersama teman-temanku yang lain agar menjalankan tugas Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai Mahasiswa.
"Hm?" Gumamku karena mendengar suara yang berada di luar kamar.
Aku menghampiri suara itu, rupanya nada dering HandPhone yang berulang-ulang.
"Iya?"
"Halo, Ibnu, udah siap-siap?" Tanya temanku, Fahmi.
"Udah, dari tadi. Hayu berangkat."
"Oke. Tunggu sebentar, baru beres ngebubur."
"Iya santai."
Dia memanggilku Ibnu, karena itu memang namaku. Umurku 22 tahun. Aku suka kopi, apalagi kopi yang ada gambar naga. Setiap hari, aku juga sering merokok. Mungkin sudah cukup untuk perkenalan singkat. Semoga informasi ini bermanfa'at.
Fahmi sudah sampai di depan rumah dan memanggilku selama 2 kali. Aku langsung bergegas, meminta izin kepada Ibu lalu berangkat menaiki motor bebek produksi tahun 2005.
Sekarang pukul 07.50 WIB, masih pagi tapi sebenarnya kami berdua dalam posisi yang sedang terlambat. Mahasiswa lain sudah berkumpul di kantor kecamatan untuk acara pembukaan KKN. Sedangkan aku dan Fahmi yang baru saja berangkat, memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk sampai disana.
"Nu, kayanya udah dimulai acaranya." Ucap Fahmi yang sudah melihat isi grup di HandPhone nya.
"Ya pastilah, yaudah langsung aja ke desa KKN kita aja biar santai." Jawabku sambil berusaha untuk tenang.
"Aman?"
"Mudah-mudahan."
Di jalan, banyak perkebunan sayur yang luas menemani perjalanan kami. Kebetulan, lokasi desa yang akan aku tempati berada di kaki Gunung Gede Pangrango, jadi disana bahkan lebih banyak perkebunan yang terhampar.
"Mi, bawa uang berapa?" Tanyaku di perjalanan.
"Sedikit euy." Jawab Fahmi.
"Berapa?"
"200, buat sebulan cukup ga?"
"Cukup, asal hemat aja."
"Super hemat hahaha."
Ketika kami sampai di gerbang desa, kami berdua mendengar suara orang-orang memanggil dari dalam mobil yang ada di depan kami. Aku berhenti dan menunggu dari samping untuk mengetahui siapa yang ada di dalam.
"Hayoo," teriak Ratna ketika membuka kaca mobil.
Ternyata mereka semua adalah teman-teman dari kelompok kami, yang berjenis perempuan kecuali supir yang tidak aku kenal.
"Kok engga ikutan ke kantor camat sih?"
"Udah tau telat, makanya langsung aja ke kontrakan." Kata Fahmi.
"Huh dasar, tapi kita juga engga sih hehehe."
"Eh? Terus sekarang mau pada kemana?" Tanyaku.
"Mau makan nasi goreng di bawah, nih," Sarah menyodorkan kunci. "kunci kontrakan."
"Pengen atuh, lapar aku juga." Ucap Fahmi sambil memelas agar ditraktir.
"Eyy, beli sendiri huh." Jawab Sarah sambil menutup kaca mobil.
Mereka melanjutkan perjalanan. Diantaranya adalah Ratna, Sarah, Mita, dan yang terakhir Dewi. Jika tidak salah, mobil yang mereka tumpangi adalah milik orangtua Sarah karena aku pernah melihat di kampus sebelumnya, Dari mereka semua, aku hanya kurang akrab dengan Dewi. Tapi aku baru mengetahui bahwa dia satu kelompok denganku. Ditambah lagi, sudah agak lama aku tidak bertemu dengannya karena yang kudengar dia baru saja sembuh.
Kembali berjalan, aku disambut oleh udara sejuk yang nyaman. Melihat orang-orang desa berjalan sambil memakai caping. Selain itu, ada juga beberapa pendaki yang berlalu-lalang disini. Gunung Gede Pangrango begitu jelas kulihat dari dekat. Gagah sekali, aku jadi teringat saat pertama kali mendakinya kesana ketika masih SMA. Warga desa disini sangat ramah, aku mengetahui itu karena saat itu aku ikut survey mencari kontrakan dengan Malik (Ketua kelompokku). Aku akan jatuh cinta pada tempat ini. Aku merasa akan ada banyak cerita yang akan aku dapatkan mulai dari sekarang.
Badai Tuan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap pagi menjelang, kau di sampingku
Ku Aman ada bersamamu
-Sampai jadi debu, Banda Neira.
KAMU SEDANG MEMBACA
Desember yang kupunya
Non-Fiction"Menurut aku, semua orang itu pantas dapat yang mereka mau, termasuk kamu. Gapapa kalo harus terlambat, yang penting usahanya gapernah telat". Itu adalah kalimat yang benar-benar menggema dalam ingatanku sampai kapanpun. Aku merasa hidup kembali unt...
