Suara benturan kayu bergema keras di lapangan latihan.
Brak!
"Aduh, sial!"
Yo terlempar dan mendarat telentang di atas tanah kering. Belum sempat ia bangkit untuk memulihkan posisi, sebuah bayangan sudah berdiri tegap mengunci ruang geraknya.
"Terlalu lambat," ujar Yuuki dengan wajah datarnya yang lempeng. "Jika tadi adalah musuh yang sesungguhnya, kau sudah mati."
"Kalimat evaluasimu itu sama sekali tidak memotivasi, Junior!" protes Yo sembari mendesah kesal.
"Itu kenyataannya."
"Tetap saja tidak memotivasi!"
Di sisi lain area, Magma mengalami nasib yang tidak jauh berbeda.
Dukh!
Senjata kayu di genggaman Magma terpental jauh. Dalam hitungan detik, ujung bilah belati milik Yuuki sudah berhenti tepat di depan permukaan hidungnya.
"Kalah," kata Yuuki singkat.
"SIALAN!" Magma langsung bangkit berdiri dengan geram. "Satu putaran lagi!"
"Ini sudah putaran kelima."
"AKU BILANG LAGI!"
Tak jauh dari pagar pembatas, Kohaku yang baru saja menyelesaikan porsi latihan fisiknya tampak menggelengkan kepala. "Kenapa kalian berdua masih bersikeras meladeni keliaran tabiatnya?"
"Ini urusan harga diri, Kohaku!" bentak Magma penuh harga diri yang terluka.
"Karena aku menolak untuk menerima kekalahan terus-menerus darinya!" Yo ikut berteriak kencang.
"Itu karena kalian berdua bodoh," sahut Kohaku dengan wajah tanpa dosa.
"Kalimat ejekanmu itu tidak membantu situasi kami!"
Yuuki melepaskan suara kekehan pelannya. Sebuah senyuman seringai tipis terukir di bibirnya. Waktu tiga tahun telah resmi terlewati semenjak rentetan peristiwa dahulu, namun kepribadiannya terbukti tidak banyak mengalami perubahan. Ia masih sangat suka bertarung, gemar membuat orang lain pusing, dan selalu menyunggingkan senyum seringai saat berhadapan dengan lawan di lapangan.
Hanya saja, kini ada beberapa pembeda yang jelas. Sisi kekuatannya sudah tumbuh jauh lebih kuat. Dan sekarang, ada sebuah tanda pangkat baru yang tersemat rapi di atas bahu seragamnya.
Wakil Kapten Divisi Tiga. Orang nomor dua yang memegang komando tepat di bawah Ukyo. Sebuah posisi tinggi di dalam struktur divisi keamanan peradaban baru. Banyak prajurit baru yang masih merasa tidak percaya saat melihatnya, lantaran wakil kapten mereka dikenal luas oleh seisi markas dengan julukan istimewa.
Kapten Iblis.
Meski secara administratif, jabatan resminya belum mencapai pangkat kapten penuh.
"Sudah cukup untuk hari ini."
Sebuah suara tenang memotong jalannya keributan di tengah lapangan. Seluruh pasang mata serempak menoleh ke arah datangnya suara.
Ukyo sedang berdiri bersandar di tepi pagar, menyunggingkan senyuman tipisnya yang selalu berhasil memaksa seluruh anak buahnya patuh tanpa bantahan.
"Kalian sudah memeras tenaga sejak fajar menyingsing," ujar Ukyo.
"Staminaku masih berada dalam kondisi kuat, Kapten," sahut Yuuki lempeng.
"Aku tahu kapasitas fisikmu masih memadai, Yuuki," Ukyo melirik lambat ke arah Yo dan Magma yang napasnya sudah memburu parah. "Namun kedua seniormu itu jelas tidak berada dalam kondisi yang sama."
KAMU SEDANG MEMBACA
Be Mine?
Fiksi Penggemar"Tidak mungkin." Kalimat itu sudah terlalu sering terdengar setiap kali seseorang membicarakan Yuuki. Tidak mungkin ada orang yang bisa tersenyum saat dikejar dua puluh musuh sekaligus. Tidak mungkin ada prajurit yang menganggap ancaman pembunuhan s...
