Follow ig @agartha_attala.
Selamat membaca...
***
Menjadi Direktur utama dari ChocoBliss Group, imperium bisnis yang menguasai es krim, cokelat, dan cookies sewilayah Asia Tenggara, sama sekali tidak semanis produknya. Hari-hari Liam Giordani Baskara hanya berputar di antara tumpukan berkas, rapat direksi yang membosankan, serta tuntutan untuk memikirkan inovasi rasa baru demi memuaskan lidah pasar. Hingga membuat Liam berada di titik jenuh tertinggi selama dua tahun menjabat.
Pantas saja dulu Papanya jarang punya waktu untuk keluarga. Kantor sudah seperti rumah kedua. Kalaupun ada waktu, itu sangat-sangat langkah, dan hanya terjadi di hari-hari besar.
Seakan belum habis penderitaannya setelah seharian di kantor, kini Liam harus terjebak macet. Ia mengembuskan napas berat, lalu menyentak dasinya hingga sedikit longgar. Wajahnya ditekuk.
Di balik kemudi, Robin, sopir sekaligus asisten pribadi setianya, melirik lewat spion tengah. "Stres banget kayaknya, Pak Bos."
"Diam kamu."
"Sabar, Pak Bos."
"Diam kamu!" Suara Liam meninggi.
Buset. Robin langsung tutup mulut. Mengubur dalam-dalam niat mulianya untuk menghibur pria pemarah itu.
Di tengah kekesalannya, pandangan Liam terlempar ke luar jendela. Matanya menangkap sebuah kedai es krim franchise milik perusahaannya sendiri di tepi jalan, terpampang logo ChocoBliss yang mencolok di sana.
"Nanti tolong berhenti di depan, ya," perintah Liam. Ia butuh asupan gula untuk meredakan stres, sekaligus ingin melihat langsung bagaimana produknya dinikmati orang-orang.
Robin segera mengarahkan mobil ke bahu jalan yang sedikit lenggang. Begitu turun, Liam langsung menuju kedai, diikuti Robin yang setia mengekor di belakang seperti anak itik.
Baru saja Liam ingin buka mulut untuk memesan, tiba-tiba ia merasakan sebuah tarikan di ujung celana kain mahalnya. Liam pun menunduk.
Seorang bocah laki-laki berusia sekitar lima sampai tujuh tahun berdiri di sampingnya, mendongak sambil tersenyum lebar. Masih mengenakan seragam SD kebesaran dan tas biru Spider-Man.
Detik itu juga, kening Liam mengernyit, ekspresinya jijik. Bagaimana tidak? Ada ingus bening yang keluar dari hidung bocah itu.
"Mau es krim juga, Om," pinta si bocah seenaknya, tanpa tahu malu, tanpa merasa berdosa.
Kerutan di kening Liam semakin dalam. "Mau? Rasa apa?"
"Yang itu, yang putih ada cokelatnya."
"Rasa cookies and cream?" tanya Liam memastikan.
Si bocah mengangguk antusias. "Iya itu, yang banyak segini ya, Om."
"Ngelunjak," gerutu Liam. Namun tak urung tetap merogoh dompetnya dan memesankan es krim tersebut. "Tapi itu ingusnya dilap dulu. Geli saya lihatnya."
Anak laki-laki itu bergegas mengelap hidungnya dengan punggung tangan, lalu mengusapkannya ke baju. Sisanya ia sedot kembali ke dalam hidung.
Huweeekkk! Liam mau muntah. Anak siapa sih? Jorok banget.
Sembari menunggu pesanan dibuat, Liam scroll-scroll tak jelas di ponselnya. Robin menoleh ke sana kemari, tetap setia di samping Liam, berharap juga dibelikan es krim.
Begitu es krim kerucut berwarna putih dengan taburan choco chips itu selesai, Liam menerimanya dan menyodorkannya ke arah si bocah.
"Nih, es krim kamu."
YOU ARE READING
Hello, Papa
Romance50% komedi | 50% romantis ~~~~~~~~~~~~~~~~~ "Siapa juga yang mau merebut anak-anak dari kamu? Orang saya maunya merebut hati kamu lagi." Karena jika Liam bisa mendapatkan kembali hati mantan pacarnya, otomatis ketiga anaknya akan ngikut. Tapi kalau...
