Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

prolog

30 8 0
                                        

🕯️Virellia - Balkon Timur Istana Selatan, Senja

Langit menjingga saat matahari terakhir menyentuh lautan. Angin membawa aroma garsea dan suara ombak jauh di bawah. Di balkon marmer berhiaskan ukiran air, seorang ibu dan anak duduk dalam keheningan lembut.

Duchess Elmyra menyulam perlahan, benang perak di jarinya menari membentuk singa bersayap di atas kain biru muda. Di sisinya, Sylvia kecil tertidur setengah duduk, rambut pirangnya dengan ujung merah muda terurai ke bantal sutra.

"Ibu," gumam Sylvia, matanya setengah terpejam, "cerita tentang naga... boleh?"

Elmyra tersenyum, tak menoleh dari sulamannya. "Tentu, sayang. Cerita itu tidak boleh dilupakan."
Ia tidak membuka buku. Cerita itu hidup dalam dirinya-seperti napas.

"Dahulu kala, negeri ini dikepung kegelapan. Seekor naga dari nun jauh sana datang, membakar ladang, menelan kota, dan membuat sungai mengering. Tak ada harapan... sampai Kaisar Aetherion I bangkit."

Sylvia mendekap bonekanya lebih erat.

"Beliau memanggil keempat Duke dari penjuru negeri. Bersama, mereka berperang. Dan yang berdiri terakhir di depan sang naga... adalah sang Raja dan Duke Utara. Beliau menghunus pedangnya, dan dengan keberanian, ia mengalahkan sang naga."

"Tapi... naga adalah makhluk kuno, penuh sihir. Meski tubuhnya mati, jantungnya menyimpan banyak hal. Kau tahu sayang? Jantung naga itu sangat berharga dan langka. Dan Duke Utara yang licik, ia berniat mencuri itu dari Raja lalu merampasnya. Dan ketika Ia menyentuh jantung itu dengan niat yang buruk, karma menimpanya, kutukan menakutkan menyeluruhi tubuhnya, kemudian kutukan tersebut diturunkan kepada seluruh keturunannya."
"Sejak saat itu, kutukan darah naga tinggal di Utara. Dan kita... kita yang hidup di selatan... hanya bisa mendoakan agar kutukan itu tidak pernah bangkit."

Elmyra melirik Sylvia yang matanya mulai terpejam sepenuhnya. Nafas gadis kecil itu tenang, damai.
Ia menunduk kembali pada kain sulamannya dan menjahit baris terakhir. Seekor singa bersayap, berdiri di atas naga yang sudah tiada.

"Tidurlah, putri kecilku... Sejarah akan selalu menjagamu."

Ilusi AmelyaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang