Sinar mentari menyinari wajahnya, membuatnya tampak tidak nyata terlebih ketika netra biru Starde terpapar mentari hingga muncul warna keemasan pada kornea matanya.
Langkah tegap ia bawa menuju ruang makan keluarga kecil Verius, surai hitam yang telah Starde pomade meski beberapa helai jatuh manis mengenai dahinya diterpa angin pagi.
Iris indahnya ia tujukan pada seorang koki lelaki yang sedang mencicipi rasa dari masakannya.
"Zach, Laper..." Ucap Starde, wajah Zach Meyer—sang koki—membatu seketika, terkejut ketika melihat wajah tuannya yang dingin namun candu seperti memakan es cream dikala teriknya matahari di siang hari.
Zach memutar bola matanya "duduk, bentar lagi jadi." Tangan berurat ia bawa memotong daun seledri dengan kecepatan yang menyaingi cahaya.
"Zach." Panggil Starde dengan pelan, aduh kenapa dengan kucing garong satu ini?
"Iya, kenapa. Hmm?" Ucap Zach menaikkan alisnya dengan kepala bertumpu pada jemari panjangnya, atensinya terfokus pada Angelina Starde Verius seorang.
"Ekhem...!" Deheman keras dikeluarkan oleh Felix Gallardo Verius —anak ketiga Starde—sialnya, itu membuat Starde terhentak kecil karena terkejut.
"Pah, sini duduk." Ucap Felix sembari menepuk kursi pada bagian ujung kanan meja.
Zach hanya mendengus kecil, mendorong dada Starde hingga mundur dua langkah.
Starde mendelik tak terima pada Zach karena mendorongnya tanpa alasan.
Kini anak-anaknya terkecuali anak sulungnya—Williams Ordoson Verius yang sedang pindah tugas di Barak Russia— telah berkumpul di meja makan, dengan Hans Christian—Asisten koki juga kepala pelayan—menaruh makanan pada meja berhias ruby.
Ruang makan yang tadinya hening kini semakin hening, tak ada suara merdu ketika perak bertemu keramik. Semua berlaku dan pergi begitu cepat.
Starde kini berada di garasi penuh Mobil yang harganya bisa bikin elus dada, Kali ini Starde tidak membawa supir untuk pertemuannya dengan direktur perusahaan logistik terkait
Pengembangan sistem tracking.
Mobil Lamborghini Revuelto berwarna Hitam melaju membelah jalanan, tidak ada yang berani menyalip ataupun di dekatnya karena sekalinya rusak harus diganti yang dapat menghabiskan ribuan Euro.
Schwarzwaldstube Restaurant, tertera pada atas restaurant, Starde menghabiskan 2 jam 20 menit dari masionnya di München ke Schwarzwaldstube di Baiersbronn. Tempat dimana dia menjalani meeting dengan klien.
Seorang pemuda bersurai coklat terang menyambutnya ketika membuka pintu tempat pertemuan "Guten Tag, Herr Verius." Ucap Lercta Venida sembari berjabat tangan dengan Starde.
"Guten tag."
"Udah lama ngga ketemu, uwuww!" Ucap Lercta sembari membuat raut muka sok imut, Starde hanya menghela nafas membiarkan Lercta bertingkah sesukanya mumpung baru 21 tahun, Starde malah merasa kasihan dengan Lercta karena menjabat sebagai direktur di usia muda, pasti masa lalunya hanya terisi belajar.
"Ekhem. Terimaksih atas waktunya Mr. Verius, Saya ingin membicarakan terkait solusi tracking real-time untuk 50 armada truk kami. Tetapi kami memiliki anggaran terbatas di awal tahun.” tutur Lercta dengan serius, tangannya menggeser kopi yang tadi di pesannya.
Starde selaku pemilik perusahaan berbasis IT dengan nama VeriusLabs menjawab “Saya paham, Mr. Venida. Dari hasil diskusi tim kami dengan tim operasional kamu minggu lalu, kebutuhan dasarnya adalah: GPS terintegrasi dengan dashboard, notifikasi keterlambatan, dan laporan otomatis. Benar?”
YOU ARE READING
Duda Tamvan [Hiatus]
General FictionAngelina Starde Verius, Seorang pengusaha sukses berdarah campuran, sialnya dia merupakan Ayah yang dingin. Starde memperlakukan anaknya seolah-olah mereka hanyalah penerus tahta, meski begitu dia memberikan segala kebutuhan anak-anaknya terkecuali...
![Duda Tamvan [Hiatus]](https://img.wattpad.com/cover/412482477-64-k306967.jpg)