lahir

23 4 0
                                        

sunyi
menakutkan...

karna jika bisa ingin memilih. ingin menjadikan semua hal nyata
ingatan memori hanya mentok di usia 3 tahun

di usia 3 tahun hanya sekilas ingatan yang masih bisa di ingat di kepala
sebuah memori yang katanya ketidak sengajaan. namun sampai sekarang tidak ada kata maaf yang terucap

sebuah jiwa yang kehilangan jalan sampai saat ini, karna tidak merasakan kata maaf dari sekilas ingatan yang sangat jelas. sangat membunuh ku

"ayah" mata berbinar seorang anak kecil berambut pendek memakai baju hitam polkadot. detail yang sangat jelas teringat sampai detik ini

anak itu tertawa karna lelucon dari ayah nya
"ayah ayo gendong aku!!" rasanya bahagia...

aku duduk di perut ayah ku tidak menyadari bahwa dia sedang memejamkan mata untuk istirahat karna kelelahan bekerja seharian

"ayah!"
polos tangan seorang anak kecil yang ingin melihat ayah nya dengan rasa aman
tidak di sengaja aku melakukan tamparan kecil bersemangat dari anak usia 3 tahun

"ayah bangun.. ayo bicara sama aku ayo.." mengguncang tubuh ayahnya

dan tanpa sadar aku tidak sengaja memukul mata ayah ku "ayah.."
dan tanpa aba aba

tubuh kecil itu di angkat dan di lempar ke tembok. tidak puas hanya sampai di situ kepala anak itu di benturkan ke tempok kasar tanpa cat

kepala ku pusing aku menatap ayah ku
pandangan buram seperti melihat embun di pagi hari

tersentak dan menangis. aku berusaha berjalan ke kamar di situ ada ibu ku

"ma.." sambil menangis memegang kepala berusaha lari dari pria dewasa itu

ibu memeluk ku dan menatap ayah ku
tanpa berkata apapun, seolah itu juga ancaman bagi nya jika dia membela anak kecil. anak pertama mereka

hanya sampai di situ ingatan di usia 3 tahun
aku tidak tau mengapa ingatan ku hilang dan hanya menyisakan ingatan menakutkan itu
dan sekilas ingatan lagi saat berusia 4 tahun aku memiliki adik.

memasuki sekolah bahkan aku tidak ingat apapun sampai di kelas 3 sd
entah mengapa semua kejadian buruk terjadi di angka 3
namun ini hanya awalan

aku kira kejadian buruk tidak akan terulang
ternyata kesengsaraan bahkan akan di mulai dan aku mungkin tidak bisa menghapus ingatan atau melupakan ingatan buruk seperti saat aku lahir

'

pagi yang gerimis terasa lembab di sebuah kontrakan kecil dan kumuh dan
banyak jamur di plafon rumah

anak kecil yang berusia 3 tahun itu sekarang berusia 9 tahun

tanpa pamit.

tidak pernah di beritahu caranya pamit bahkan aku tidak tau hal itu harus di lakukan ketika berangkat sekolah. mereka berdua sibuk bertengkar di dapur
aku berusaha tidak melihat apapun tidak mendengar apapun.

aku tidak tau apa yang aku rasakan saat melihat mereka bertengkar setiap hari yang aku pikirkan adalah.
"aku tidak lihat"
"aku tidak tau"
dan
"aku kenapa?"

berangkat ke sekolah berharap bisa memasang wajah seceria mungkin karna hanya itu yang bisa aku lakukan untuk tidak mengingat semuanya yang ada di rumah.

saat istirahat tiba bel berbunyi. seperti biasa anak anak itu berhamburan seperti sesuatu yang tumpah
kantin penuh aku hanya duduk di depan kelas melihat mereka sampai ada seorang perempuan wajah bulat mata sipit menghampiri ku
dia teman sebangku ku

"aku beli slime banyak"

teman ku bernama
Susi
memamerkan mainan yang sedang boomingnya kala itu

"ih aku boleh menyentuh nya???" kataku dengan mata berbinar dan bersemangat untuk menyentuh mainan yang susi pamerkan

"ish gaboleh!. minta ibu kamu beliin dong!"

aku terdiam. mengingat wajah ibuku

dan seolah hatiku berbicara untuk menjelaskan yang tidak bisa aku sampaikan
*aku aja ga dia kasih uang untuk membeli minum di sekolah.*

kebiasaan buruk ku. tidak pernah bisa menyampaikan sesuatu secara nyata

di situ aku cuman tersenyum dan mengalihkan pandangan ke slime dan hanya memperhatikan susi yang asik sendiri dengan mainan lembek itu

"memang nya ibu kamu ga nungguin kamu di sekolah ya?" kata susi dengan suara cempreng khas nya

aku ga menjawab susi. aku cuman geleng geleng kepala untuk jawaban nya dengan tersenyum tipis

"ish yaudah makan bekel aja kita"
susi mengambil kotak bekal pink
saat dia membuka nya di dalam ada nugget ayam berbentuk huruf

"itu nugget ya?" dengan polos aku menanyakan nya

"iya dong. emang kamu baru tau nugget ini?" susi bertanya sambil mengunyah nugget nya

"iya.. aku biasanya makan nugget yang bentuk bintang warna merah itu"
cengegesan wajah ku sambil memperhatikan susi makan nugget itu. aku sangat ingin mencoba nya tapi aku tidak berani untuk mengatakan nya

dan sampai sekarang aku belum pernah
mencoba nugget itu

"itu kan nugget ga sehat. nugget orang miskin! kata ibu aku, jadi kamu ini.. orang miskin ya?" bicara sangat mengejek dan menghina

aku hanya diam. entah kenapa aku selalu diam aku seperti sedang mencerna omongan susi aku tidak tau apa itu orang miskin dan apa itu orang kaya.
perbedaan yang waktu itu aku tidak tau.

aku di sekolah tidak punya teman karna kata mereka aku terlalu pendiam dan pakaian selalu kusut bukan murid pintar seperti yang lain
aku terlihat seperti anak penyakitan dan bisu
ada atau tidak adanya aku di kelas. tidak berpengaruh karna mereka tidak melihat aku dengan nyata



membuka pintu
di siang hari setelah pulang sekolah dengan tujuan ingin makan. karna di sekolah aku hanya bisa melihat mereka yang kenyang tidak ikut merasakan nya

"ma"
masuk ke kamar dan melihat ibu ku sedang meringkuk di kasur kapuk tipis berkelambu kumuh dan banyak robekan itu

aku hanya diam. hati ku berbicara begitu saja. suara di kepala selalu spontan dan aku tidak bisa mengendalikan nya
"pasti mamak habis nangis"

aku tidak menggubris ibuku yang merungkuk dengan adik perempuan ku yang masih kecil
aku jalan ke lorong sempit yang katanya di sebut dapur

membuka tutup saji dan melihat. hanya ada nasi putih kering yang dingin dan kerupuk bulat
aku lapar. tanpa memikirkan apapun aku mengambil nasi dingin berkerak itu dan kerupuk yang
sisa 1 bulat kerupuk warung. aku teringat wajah adik ku atau siapapun yang ingin makan nanti. aku berusaha memotong kerupuk itu dengan tangan ku

"ish susah sih!" ucap ku dengan kesal suara itu keluar hampir tak terdengar

akhirnya aku mengigit nya sampai terbelah menjadi dua ternyata kerupuk itu melempem
lengket di langit langit mulut ku saat berusaha memakan nya

tapi tidak peduli! aku lapar

~

next

kertasStories to obsess over. Discover now