Tolong tandai pada bagian mana saja yang typo atau cacat tulisan ya!
Kalau kalian merasa ada perubahan dalam cerita ini—bagi yang sudah membaca versi sebelumnya, author minta maaf ya, hehehe. Wajar, karena masih penulis pemula, jadi author sering melakukan revisi pada isi ceritanya.
Sekian dari author yang tampan dan selamat menikmati ceritanya!!! UwU
# * * * * * * * * #
Di halaman depan sebuah rumah batu yang terlihat terbengkalai, terdengar suara desingan besi yang memecah keheningan fajar di sebuah desa bernama Teshire.
Sret! Sret! WUUSH!
BRAKK!
"Heh... Heh.. Huff... Latihan kali ini lumayan melelahkan ya."
Seorang pemuda berdiri bertelanjang dada dengan napas memburu namun teratur. Matanya yang tajam menatap lurus ke depan, tertuju pada sebuah pilar kayu yang kini telah hancur tercacah.
Ia berdiri diam menahan lelah, membiarkan peluh yang bersimbah di tubuhnya menguap menjadi uap tipis begitu diterpa angin dingin dari arah hutan di samping rumahnya.
Ia menurunkan kedua tangannya yang masing-masing memegang sebilah pedang. Setelah mengambil napas dalam-dalam, ia meregangkan seluruh tubuhnya yang menegang akibat latihan barusan, lalu mengembuskan napas berat.
Saat itulah, dalam posisi lengan yang terkulai, tampak jelas kontras senjata yang sedang dipegangnya.
Tangan kanannya mencengkeram erat sebilah pedang besi tua bersimbah bercak darah kering, sementara tangan kirinya menimang pedang berbilah lebar dengan gagang kayu usang. Pemandangan itu sudah cukup mengintimidasi untuk remaja seusianya, sebelum fokus beralih pada rahangnya yang mengatup keras—menggigit gagang pedang panjang yang siap menyabet apa saja yang ada di hadapannya.
Siapa pun yang menyaksikan bagaimana pemuda itu mengendalikan senjatanya pasti akan terkejut dan terpaku—menatap heran sekaligus takjub tanpa mampu berkata-kata.
Sep!
Ia menancapkan pedang di tangan kanannya ke tanah, lalu melonggarkan rahangnya. Dengan cekatan, tangan kanannya yang kini bebas berkelebat menangkap gagang pedang panjang tersebut sebelum sempat menyentuh tanah, lalu memutarnya dalam satu gerakan bergaya yang mulus. Pemuda itu tersenyum sendiri, bangga melihat atraksi kecilnya barusan.
"Masih terlalu lambat, ya..." gumamnya pada diri sendiri sembari menyeka sisa peluh di dahi dengan punggung tangan yang kapalan, lalu melihat pedang yang digenggamnya, "Kalau tebasannya cuma secepat dan sekuat ini, aku tidak akan bisa berbuat banyak jika berhadapan dengan hewan buas ataupun kepungan musuh."
Ia menghela napas panjang, lalu kembali menatap pilar kayu yang telah hancur di hadapannya.
"Hmm... Apa aku ulangi saja, ya? Sepertinya hasilnya bisa lebih baik kalau dicoba sekali lagi, mumpung belum masuk waktu istirahat..."
Pemuda itu melangkah mendekati cacahan pilar kayu yang berserakan di atas tanah, lalu merapalkan sebuah mantra pendek.
Tidak lama setelah suku kata terakhir meluncur dari bibirnya, keajaiban pun terjadi. Serpihan kayu yang tadinya tak berbentuk itu perlahan terangkat, melayang, menempel dan saling mengunci satu sama lain, menyatu kembali menjadi sebuah pilar kayu yang berdiri kokoh seperti semula.
Mantra itu adalah ajaran dari ayahnya—sebuah solusi super praktis demi menghemat pengeluaran keluarga agar mereka tidak perlu terus-menerus membeli atau menebang kayu baru setiap kali ia selesai latihan.
YOU ARE READING
MYTHICAL ACADEMIA
Fantasy"Hukum di dunia ini ditulis oleh mereka yang punya kekuatan, status, dan uang. Jika aku tidak merangkak naik... tempat ini dan semua orang yang kucintai akan dihancurkan oleh mereka." Bagi rakyat Teshire-sebuah wilayah terpencil yang miskin dan gers...
