Cinta tidak mengenal batasan, tetapi terkadang cinta tidak jauh berbeda dengan hawa nafsu semata. Itulah yang kupikirkan, namun tidak semua orang berpikiran hal yang sama. Kebanyakan dari mereka akan menyerang dan mengatakan hal agar aku tertarik pada percintaan, padahal itu percuma, karena pria brengsek yang kulihat adalah ayahku sendiri.
"Nara, apa yang kamu pikirkan? Dari tadi mama lihat kamu melamun."
Inilah ibuku, wanita lembut yang disakiti berulang kali oleh ayahku. Terkadang membencinya adalah opsi terbaik, meskipun setengah diriku adalah bagiannya.
"Ma, aku tidak mau menikah.." ucapku yang kesekian kali padanya, yang dibalas senyuman manis.
"Iya, mama tau kamu tidak mau menikah. Mama tidak memaksa kok, jadi tolong antarkan makanan ke tetangga sebelah ya."
Dengan kesal aku membalas tanpa membentaknya, "aku sudah bilang kalau aku tidak mau menikah."
"Loh, apa hubungannya menikah dengan ini."
Kali ini kesabaranku benar-benar habis, aku melangkahkan kakiku ke arah mama dan melihatnya dengan mata memelas.
"Ayolah ma, aku malas ke sana. Setiap hari mama Arkan selalu, selalu saja menjodohkan kami. Aku selalu malas setiap kali ibunya nyuruh aku main di taman bareng Arkan, ma please lah. Why did you meet your best friend again? Actually, I don't care, tapi ma, cukup kalian aja."
Mama tiba-tiba mengelus rambutku dengan lembut, taktik ini lagi. Wajahnya memelas, bahkan lebih mulus dariku. Helaan nafas yang terasa berat dan menyakitkan hatiku, ditambah matanya yang seolah berkata jika, 'aku hanya punya kamu dan satu sahabat.'
"Aah, iya iya, aku antar. Dah!"
Aku langsung pergi sambil membawa rantang yang penuh, sekilas kulihat mama tertawa penuh kebahagiaan. Ya, setidaknya aku suka melihat senyuman itu, karena wajah menyedihkan itu mengingatkanku pada trauma masa lalu.
Hidupku sudah berjalan cukup lama, totalnya 15 tahun ini, dan ini rasanya lama karena aku tidak terlalu pandai memprediksi kematian. Mungkin aku akan mati besok.
Sebenarnya hidupku damai selama 1 tahun belakangan ini, sebelum mama memutuskan untuk pindah ke ibu kota dan mencarikan sekolah yang lebih baik agar aku mudah masuk perguruan tinggi. Aku tidak masalah, asalkan ada mama, namun kenapa selalu ada yang membuatku kesal dengan keputusan itu?
"Tante, ini Nara."
Aku sudah tiba di depan pintu dan beberapa kali menekan bell, tetapi tidak ada respon dari dalam. Hingga akhirnya aku duduk di kursi kecil yang berada di sebelah pintu, sambil sesekali menghela nafas panjang. Setelah beberapa saat pintu akhirnya terbuka, dan terpampang jelas wajah yang tidak ingin kulihat.
"Kenapa kau tidak pergi? Kukira kau akan langsung pergi."
Aku paham, dia sedang mengerjaiku, bahkan tatapannya seakan menganggap diriku ini hama. Energiku hilang saat berdebat dengannya, jadi aku langsung masuk tanpa melihatnya.
"Tante Lili, aku mengantar makanan dari mama." Ucapku sambil memasuki dapur.
Wanita hebat selanjutnya adalah teman mama, dia adalah idolaku karena kesabarannya menghadapi anak nakal yang dilahirkannya.
"Hallo Nara, selamat pagi. Mom Nara masak apa?" Ujarnya sambil membuka rantang satu persatu.
"Kurang tau Tante, tadi Nara siram tanaman jadi tidak sempat bantu mama masak."
"Wah, kamu belum makan? Ayo makan bareng Mommy."
Aku tersenyum lebar, pantas saja beliau bersahabat dengan mama, energinya sama. "Tidak Tante, Nara makan sama mama aja."
YOU ARE READING
Love Silent
Fantasy"Dengar, hidup tidak bergantung pada siapa yang lebih dulu mengungkapkan, tetapi tentang siapa yang lebih dulu membuktikan." Hentakan Nara seketika membuat Arkan termenung, belum lagi tangan Nara yang kiri menggenggam kerah baju miliknya. "Kenapa...
