Prosa Pembuka

13 2 0
                                        

Ada jarak seratus empat puluh tiga tahun yang membentang di antara kita.

Sebuah benteng waktu yang terbuat dari tumpukan debu sejarah, pergantian generasi, dan dinginnya tanah kuburan.

Kau berdiri di sana, di bawah langit Oud Semarang tahun 1883. Mengenakan seragam legiun yang mengekang jiwamu, menghirup aroma mesiu dan kecemasan, sambil meraba tuts piano dengan jemari yang gemetar.

Sementara aku terjebak di sini, di bawah gemerlap lampu Semarang tahun 2026. Menatap aspal basah pasca-hujan, terasing di tengah deru mesin kota modern yang tak pernah tidur.

Kita adalah dua orang asing yang dikutuk oleh zaman.

Namun, takdir adalah alur jenaka sekaligus kejam. Ia menyembunyikan sisa napasmu di dalam ceruk hitam sebuah piringan tua yang tak berlabel.

Di atas piringan hitam itu, waktu melipat dirinya sendiri. Saat jarum gramofon tua ini mulai menggores permukaannya, sekat abad melarut menjadi sunyi.

Suaramu mengalir melintasi waktu, bergaung di kamarku seolah kau sedang berbisik tepat di balik punggungku.

Aku jatuh cinta pada gema.

Aku menyerahkan hatiku pada seorang pria yang raganya telah lama lebur menjadi debu bumi.

"Larilah, Bastiaan," bisikku pada corong tembaga yang bisu.

Menangis saban malam demi mengejar tanggal kematianmu yang telah tercetak rapi di lembar buku arsip kuno.

Namun, sekeras apa pun aku berteriak dari masa depan, jarum besi ini terus bergerak egois-perlahan-lahan mengikis permukaan piringan hitam kita hingga menipis, mengancam untuk memutus satu-satunya jembatan suara yang kita punya.

Sebelum piringan ini aus dan lagu kita habis, biarkan dunia mencatat, bahwa di antara dua garis waktu yang keliru, ada cinta yang pernah hidup dengan megah, meski tak pernah sekalipun sempat saling menyentuh.

Bastiaan Van Rijck (On Going)Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang