"Rel, besok sudah mulai libur semester, kan? Bagaimana kalau kamu ikut aku ke kampung halamanku?"
Suara nyaring Nimueris atau yang lebih akrab dipanggil Eris, memecah keheningan ruang tengah rumah Morella. Gadis berwajah ceria itu sedang tengkurap di atas sofa empuk, mengayun-ayunkan kakinya ke udara dengan ekspresi tanpa beban.
"Lah? Aku baru tahu kamu punya kampung halaman. Kenapa baru bilang sekarang?" sahut Morella tanpa menoleh.
Morella sedang duduk bersila di atas karpet berbulu tepat di bawah sofa tempat Eris bersantai. Di hadapannya, bertumpuk-tumpuk novel fantasi-misteri tebal yang siap rilis berserakan. Tangannya bergerak ritmis, menggoreskan tanda tangan di lembar pertama setiap buku menggunakan pena tinta hitam. Di sampulnya, tertera judul besar dengan font gotik yang elegan: The Secret Memories, ditulis oleh Blackcat, nama pena rahasia Morella.
"Ya, makanya sekarang aku mengajakmu!" Eris langsung merosot turun dari sofa, ikut duduk bersila di samping Morella hingga jarak mereka merapat. "Kebetulan kampung halamanku itu sangat unik. Suasananya misterius, agak gelap, dan yah... bisa dibilang tempat itu bukan sekadar pedesaan biasa. Melainkan sebuah kerajaan."
Gerakan tangan Morella mendadak terhenti. Pena tintanya menggantung beberapa senti di atas kertas. Ia mengerutkan kening, lalu perlahan menoleh ke arah sahabat kuliahnya di jurusan Sastra Bahasa itu.
Morella menatap Eris datar, seolah sedang menilai apakah sahabatnya ini sedang mabuk kafein atau tidak.
"Maksudmu? Kerajaan? Yang benar saja, Eris. Kita ini hidup di negara Nova. Era serba modern, serba digital. Di luar sana ada mobil terbang, pelayan robot, kecerdasan buatan (AI) di setiap sudut jalan, dan kereta cepat magnetik yang bisa mengantarmu membelah pulau dalam hitungan menit. Kamu sedang mengigau, ya? Atau kamu terlalu mendalami draf novel mistis terbaruku?"
Eris sudah menduga reaksi ini. Ia menghela napas pasrah sembari menopang dagu dengan kedua tangannya.
Eris sangat mengenal Morella. Sahabatnya ini boleh saja gila terhadap hal-hal yang berbau kegelapan, teori konspirasi, dan misteri di dalam tulisan-tulisannya. Namun, jika dihadapkan pada realitas, insting logis Morella akan langsung menuntut bukti nyata. Di negara Nova yang sekuler, maju, dan serba instan ini, konsep tentang sebuah 'kerajaan tersembunyi' terdengar seperti dongeng pengantar tidur yang konyol.
Namun, Verperia itu nyata. Kampung halaman Eris yang masih kental dengan budaya kuno, kastil batu, dan aturan-aturan abad pertengahan itu benar-benar ada di balik kabut tebal perbatasan Nova.
"Kalau kamu tidak percaya, makanya ikut aku ke sana," bujuk Eris lagi, matanya berbinar jenaka.
"Hitung-hitung kamu bisa belajar budaya lama, meneliti pola masyarakatnya, dan cari inspirasi baru untuk buku selanjutnya. Bagaimana? Mau, kan? Ayolah, Rel!"
Morella terdiam sejenak. Ia mengetuk-ngetukkan ujung penanya ke dagu, menimbang-nimbang tawaran itu. Sifat keras kepala dan rasa ingin tahunya yang ekstrem mulai terusik. Jika omongan Eris hanya bualan, ia bisa menertawakan gadis itu sepuasnya. Namun, jika tempat itu benar-benar ada... ini akan menjadi ladang emas untuk plot tulisan Blackcat berikutnya.
"Oke," putus Morella akhirnya, membuat mata Eris langsung melebar gembira. "Tapi biarkan aku menyelesaikan tanda tangan tugas novel ini dulu. Setelah selesai, besok pagi kita berangkat."
"Kyaaa! Oke!! Terima kasih, my best friend!" Eris langsung menghambur, memeluk leher Morella dengan erat hingga gadis itu nyaris tercekik.
"Eris! Lepas! Aku bisa mati sebelum sempat melihat kerajaanmu itu!" protes Morella, walau ujung bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
CITEȘTI
Gothic Veiled
FantezieSINOPSIS 🖤 Di balik kemegahan negara modern Nova, ada sebuah kerajaan kuno yang tak tersentuh waktu. Dan di sana, rahasia paling berdarah dijaga oleh sepasang mata terdingin yang pernah ia temui. Morella Desdemona, atau yang lebih dikenal oleh ribu...
