Welcome. - 🐺
.
Hujan turun sejak sore dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Langit berwarna abu-abu pekat, seolah menahan sesuatu yang lebih berat daripada sekadar air. Jalanan kota dipenuhi genangan yang memantulkan cahaya lampu kendaraan, menciptakan bayangan-bayangan samar yang bergerak mengikuti arus malam.
Di antara keramaian itu, seseorang sedang memperhatikan wanita. Bukan karena kebetulan, bukan pula karena rasa penasaran sesaat.
Ia memang datang untuk melihat. Seperti yang selalu ia lakukan.
Zarcio berdiri di bawah atap sebuah bangunan tua di seberang jalan. Jas hitam tailored fit yang dikenakannya sedikit basah di bagian bahu akibat percikan hujan.
Kedua tangannya berada di dalam saku celana, sementara tatapannya tertuju pada satu arah yang sama selama hampir satu jam.
Halte bus.
Di sana, seorang gadis sedang menunggu hujan mereda.
Laura.
Rambut panjangnya jatuh hingga melewati bahu. Sebagian helainya menempel pada pipi akibat udara lembap. Ia mengenakan jaket berwarna terang yang membuatnya mudah dikenali bahkan dari kejauhan.
Zarcio memperhatikan setiap gerakannya. Cara Laura sesekali memeriksa ponsel. Cara ia menggeser posisi berdiri ketika merasa kedinginan.
Cara ia menghela napas ketika hujan semakin deras. Hal-hal kecil yang mungkin tidak akan diperhatikan orang lain.
Namun Zarcio memperhatikannya.
Selalu. Bahkan lebih dari yang seharusnya.
Sudah hampir dua tahun.
Dua tahun sejak pertama kali ia melihat Laura berjalan keluar dari sebuah toko buku pada sore yang biasa.
Dua tahun sejak sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan mulai tumbuh di dalam dirinya. Awalnya sederhana.
Ia hanya ingin melihat lagi. Lalu ingin mengetahui namanya. Kemudian ingin tahu tempat kuliahnya. Lalu tempat tinggalnya. Lalu jadwal kesehariannya. Lalu semua hal tentang dirinya.
Dan tanpa sadar, rasa penasaran itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Sesuatu yang tidak lagi bisa disebut sebagai ketertarikan biasa.
Laura akhirnya meninggalkan halte ketika hujan mulai mengecil.
Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu melangkah keluar dari bawah atap halte.
Seorang ibu yang sedari tadi berdiri di dekatnya ikut bergerak. "Hujannya dari tadi awet sekali ya, nak?"
Laura tersenyum sopan. "Iya, Bu. Saya kira bakal makin deras."
"Untung sekarang sudah mendingan."
Laura mengangguk kecil sebelum melanjutkan langkahnya.
Zarcio menunggu beberapa detik sebelum berjalan mengikuti dari belakang.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Jarak yang aman.
Jarak yang sudah ia hafal.
Laura berjalan menyusuri trotoar dengan langkah santai. Seorang pria yang berpapasan dengannya sempat menoleh dua kali.
Zarcio melihat itu, tatapannya berubah dingin. Ia tidak menyukai orang yang terlalu lama melihat Laura.
Perasaan itu selalu muncul setiap kali seseorang memperhatikan gadis tersebut.
Perasaan yang tidak masuk akal. Perasaan yang membuat dadanya terasa sesak.
YOU ARE READING
I SAW YOU FIRST
Mystery / ThrillerAda beberapa orang yang percaya bahwa cinta bisa membuat seseorang menjadi gila. Sebagian lagi percaya bahwa kegilaanlah yang membuat seseorang menyebutnya cinta. Tidak ada yang benar-benar tahu batas di antara keduanya. Sampai seseorang menghilang...
