1 | perang tanpa ujung

215 42 20
                                        


Hampir seratus tahun kerajaan-kerajaan di Benua Utara saling berperang. Berawal dari masalah perdagangan, merambat pada sentimen politik, kemudian balas dendam tanpa ujung.

Perang kembali pecah di barat Talador yang berbatasan dengan kerajaan Parvis. Di kaki gunung Phyne terjadi pertempuran berdarah, mengotori salju yang putih bersih. Suara besi berdentang kuat, sahut-menyahut bersamaan dengan teriakan sekarat dan perlawanan. 

Leonard memacu kudanya dengan kedua tangan memegang pedang. Ia menyisir sekililing dengan cepat sambil mencari Panglima Parvis. Pasukan musuh terus mendekatinya, membuat langkah Leonard melambat. Dengan tebasan-tebasan kuat, ia membunuh musuhnya tanpa bergidik sedikit pun. Darah mengotori tangan dan wajahnya, tapi matanya masih nyalang mencari kepala pasukan musuhnya.

"Leon, di sana!" Satu suara berteriak dengan parau dan keras, itu berasal dari Logan. 

Segera Leonard berbalik ke arah yang ditunjuk. Di sana Panglima Parvis tengah mengarahkan pasukannya untuk mendobrak barisan pertahanan pasukan Talador. 

Leonard memacu kembali kudanya dengan cepat, kali ini tidak peduli dengan prajurit-prajurit yang mengincarnya. Setiap ada serangan, langsung ia tangkis dengan cepat dan kuat. Sisanya, para prajuritnya sendiri yang membuka jalan untuknya, mengamankan jalur menuju Panglima Parvis.

Panglima Parvis, pria paruh baya itu langsung membalik arah kudanya ketika mendengar derap lain tengah mendekat. Ia tertawa dengan menaikkan tombaknya. "Leonard! Bagaimana kabar ayahmu?"

Suaranya berat dan mengancam. Ia mengarahkan tombaknya ke depan sambil melajukan kuda ke arah datangnya Leonard. Tidak satu pun dari mereka berhenti. Bahkan Leonard yang tidak memiliki tombak tetap berlari menuju panglima itu.

Jarak mereka semakin mendekat, kuda yang ditunggangi meringkik tanda bahaya. Dalam sekedip mata, nyaring terdengar suara tombak dan pedang beradu. 

Mereka memutar kuda masing-masing dengan menarik tali kekang. Leonard langsung lompat dari kudanya dan memutar kedua pedang di tangannya. Melihat itu, Panglima Parvis juga langsung melompat turun. Ia memutar-mutar tombak, membuat siapa saja sulit untuk mendekat. 

Leonard tidak menjadi ciut, ia tetap langsung menerjang dan mengayunkan pedang untuk melemahkan pertahanan musuhnya. Sesekali pasukan musuh akan mendekat dan berusaha menyerang antara Leonard atau Panglima Parvis, tapi begitu mendekat mereka langsung terbunuh karena tidak bisa menyeimbangi kecepatan tarung kedua pemimpin pasukan tersebut.

Leonard mengayunkan pedangnya dengan gerakan memutar, Panglima Parvis mengambil langkah mundur sambil melindungi diri dengan tombak. Ia tidak bisa terlalu membuat tombaknya terbentur. Tekanan yang Leonard salurkan lewat pedangnya terlalu kuat untuk ditahan. 

Panglima Parvis melompat ke belakang. Leonard berlari mengejar, tetapi panglima itu langsung menghunuskan tombaknya dan berusaha menikam pundak kanan Leonard. Leonard yang dalam keadaan berlari agak kesulitan menghindar, akibatnya lengannya sedikit tergores dan menyisakan luka sayat. 

"Kau akan mati seperti ayahmu di medan perang," pancing Panglima Parvis. Dua tahun lalu, ialah yang membunuh ayah Leonard, Panglima Utama Talador.

Leonard berusaha abai dengan pancingan itu. Bertarung dengan amarah hanya akan melemahkannya. Berusaha tak mendengarkan. Ia kembali menyerang sisi kiri Panglima Parvis. Panglima itu sempat lengah. Pingging kirinya robek dan mengucurkan darah.

Leonard masih belum berhenti, tidak memberi waktu bagi musuhnya untuk menarik napas. I terus menyerang Panglima Parvis dari sisi kiri yang membuat laki-laki itu kewalahan. Darah semakin banyak rembes dari pinggangnya. Saat ia mulai kehabisan tenang. Leonard melempar satu pedangnya ke tangan kanan Panglima Parvis.

"Arghhh!!!" Panglima Parvis meraung kesakitan. Tangan kanannya hampir putus terkena tebasan Leonard. 

Beberapa pasukan Parvis langsung datang dan menarik panglimanya ke punggung mereka. Lima orang menyerang Leonard secara bersamaan dengan teriakan mengerikan. Leonard menguatkan kuda-kuda dengan sisa satu pedang. Dengan cepat ia memutar pedangnya mengelilingi tubuh. Tiga orang prajurit tertebas di leher. Dua lainnya kembali maju dari arah yang berlawanan.

Dua prajurit itu dengan mudah dibekuk oleh Leonard. Wajah mereka masih muda, dan mereka terlalu lemah dalam bertarung. Leonard menyentakkan pedangnya. Darah yang menyelimuti besi panjang itu langsung terciprat ke salju yang sudah kotor oleh langkah kaki dan kematian. 

Dengan langkah mengintimidasi, Leonard berjalan menuju Panglima Parvis yang baru akan naik ke atas kudanya kembali. 

"Hari ini kau yang akan mati dalam perang," bisik Leonard tanpa emosi. Tangannya mengayunkan pedang dengan kuat ke arah leher Panglima Parvis.

Kuda putih Panglima Parvis yang sudah tertutup noda perang itu meringkik terkejut ketika tubuh tuannya terjerembab ke arahnya. Darah dari panglima itu mengotori pelana kuda. 

Leonard berdiri di sana, melihat ke bawah memandangi jasad musuhnya yang sudah tanpa kepala. Kemudian ia melirik tangannya yang penuh dengan darah.


[ --0-- ]


Kayanya ini pertama kali aku nulis aksi deh, seru juga wkwk

Berhasil ga si, ada feelnya gak?


Dear EleanorStories to obsess over. Discover now