Chapter 01 : We Meet Again, Kiel

18 3 0
                                        

Happy Reading All! Hehe i hope you like it. :>

.

.

.

.

.

Pagi itu begitu cerah dengan pancaran sinar matahari hangat yang membangkitkan semangat. Suasana ini menjadi latar belakang yang sempurna untuk berbagai kegiatan yang produktif, menenangkan, dan menyenangkan. Jalanan mulai dipadati oleh anak-anak yang bersiap berangkat sekolah dan para pekerja yang bergegas menuju kantor atau tempat usaha mereka.

Seorang pemuda berwajah manis itu sedikit terusik dengan sinar matahari yang menembus wajahnya. Matanya sedikit menyesuaikan sinar matahari yang masuk. Hingga kesadaran pemuda itu sedikit kembali dan mulai beranjak dari kasurnya untuk membersihkan dirinya.

Dekiel Gynasta, berumur 20 tahun dan hidup sebatang kara. Kedua orang tuanya meninggal dunia saat ia baru berusia 10 tahun. Beruntungnya Dekiel waktu itu langsung di asuh oleh bibinya selama beberapa tahun, hingga bibinya pergi entah kemana membuat dekiel mengerti sesuatu. Ia tidak ingin lagi bergantung pada siapapun. Sejak saat itu Dekiel menjadi sosok yang pemberontak dan nakal.

Masa SMA Dekiel sampai sekarang hanya dihabiskan dengan balapan liar untuk mendapatkan uang. Ini yang bisa Dekiel lakukan agar dirinya bisa memenuhi kehidupannya sehari-hari. Jika ditanya kenapa tidak melakukan pekerjaan lain? Itu tentu tidak seberapa dengan yang Dekiel dapatkan sewaktu balapan.

Dekiel yang baru saja selesai mandi kini tampak sibuk mengeringkan rambutnya. Deringan ponsel terdengar membuat atensi Dekiel beralih. Ia mulai mengangkat telfon tersebut saat dia melihat nama siapa yang berada di layar handphonenya.

"Woy El, ada yang ajak lo balap malam ini mau kagak?" Ucap seseorang di seberang telfon. Itu adalah Arly Ferynan, sahabat Dekiel dari SMP sampai sekarang.

"Ck, gue agak males hari ini." Ucap Dekiel pelan sambil menghela nafas pelan. Baru kemarin dirinya selesai balapan, hari ini ada yang mengajaknya balapan lagi?

"Tumben lo, gue tau lo pasti capek sih gara-gara balapan kemarin. Tapi duit yang dia tawarin gede njir." Ucap Arly sedikit bersemangat dan ada sedikit harapan temannya itu akan menerima tawaran itu.

"Berapa?" Tanya Dekiel pelan sedikit ada nada penasaran yang besar didalam ucapannya. Sebesar apa nominalnya sampai temannya berkata seperti itu.

"2 Miliyar, jika lo bisa menang." Ucapan Arly membuat Dekiel membolakan matanya terkejut. 2 Miliyar? Apa dirinya tidak salah mendengar. Apakah orang yang mengajak nya balapan adalah orang kaya gabut? Tapi itu membuat Dekiel sangat bersemangat, dirinya ingin segera mengalahkan rivalnya kali ini dan mendapatkan uang sebanyak itu. Bisa kaya dalam semalam dirinya.

"Oke, gue terima. Jam berapa balapannya?" Tanya Dekiel lagi.

"Jam 10 di tempat biasa." Dekiel mulai mematikan ponselnya sepihak dan mulai tersenyum. Ia akan mengalahkan rivalnya itu, tunggu saja.

***

Malamnya tepat pukul 10, Dekiel terlihat sudah siap di arena bersama teman-temannya. Arena juga sudah dipenuhi begitu banyak orang yang mendukung adanya acara ini. Rivalnya itu belum datang membuat Dekiel harus sedikit menunggu. Hingga terdengar suara motor yang membuat atensi mereka semua beralih. Sosok itu mulai melepas helmnya dan berjalan pelan kearah Dekiel.

Dekiel menatap gerak-gerik yang ia yakini rivalnya itu, perasaanya begitu gelisah hanya dengan melihatnya. Seperti ada sesuatu yang mungkin akan terjadi setelah ini. Tapi Dekiel menepis pikiran itu dan mulai fokus untuk bisa memenangkan pertandingan ini mau bagaimanapun caranya.

"Dekiel?" Tanya sosok itu dengan tenang namun Dekiel merasakan ada sesuatu yang aneh dari sosok itu.

"Hm, lo lawan gue hari ini?" Pertanyaan itu hanya di jawab deheman dari sang rival membuat Dekiel sedikit kesal. Sangat menyebalkan.

"Ck, gue harap lo tepatin janji lo dengan uang segitu." Ucap Dekiel membuat sang rival tersenyum tipis, saking tipisnya tidak ada yang tau dia tersenyum.

"Oke dan jika kamu kalah jadi milikku selamanya." Ucap sang rival mutlak membuat Dekiel tersulut emosi.

"Apa-apaan sih lo?! Gak jelas banget." Bentaknya tapi sang rival hanya mengedikkan bahunya acuh dan tidak menggubris apa yang telah dikatakan oleh Dekiel. Dekiel yang melihat hal itu mulai mengumpat, dirinya tidak bisa meremehkan rivalnya kali ini.

Terlihat seorang wanita dengan pakaian seksi berada ditengah-tengah sebagai wasit dalam pertandingan ini. Kedua kubu mulai menggeber kedua motornya, sang rival menatap Dekiel dengan tatapan kalau Dekiel tidak mungkin menang dalam pertandingan ini. Dekiel menggigit bibirnya, tidak, dirinya harus fokus, jangan pedulikan dia!

Hitungan mundur terdengar dan saat tembakan dilepaskan keduanya mulai melesat dengan cepat. Dekiel memimpin pertandingan kali ini dan itu membuat Dekiel sedikit percaya diri tapi saat menuju garis finish tiba-tiba saja sang rival melaju dengan cepat. Kemenangan diraih oleh rivalnya itu membuat Dekiel tidak percaya.

"Lo kalah El? Gapapa lo?" Ucap Arly pelan. Dekiel menggenggam tangannya erat dan mulai menoleh kearah rivalnya itu dengan tatapan tajam.

"Bagaimana hm?" Ucapan sang rival membuat Dekiel semakin marah.

"Gue gak mau jadi milik lo sampai kapanpun itu, emang lo siapa hah?!" Sentaknya membuat sang rival menatap dirinya datar. Ada perasaan takut saat melihat perubahan wajah sosok itu.

"Pengecut rupanya?" Ucapnya datar membuat Dekiel ingin sekali berkelahi tapi segera dihentikan oleh Arly.

"Sabar El, jangan buat ribut disini." Peringatnya membuat Dekiel menahan sedikit emosinya

"Ganti syarat lo dan ini semua selesai." Tegas Dekiel mutlak.

"Tidak, syarat tetap." Perkataan itu semakin membuat Dekiel emosi.

"Sialan, lo mau kelahi hah?!" Raut wajah rivalnya berubah begitu dingin tapi Dekiel tidak peduli.

"Perhatikan bahasamu." Tekannya dengan tatapan yang begitu tajam kepada dirinya.

"Gue gak peduli, dan cepat ubah syarat lo sialan!"

Hingga tanpa aba-aba, pipinya ditampar begitu keras sampai wajahnya tertoleh kesamping. Rasa panas mulai menjalar di area pipinya. Dekiel begitu kaget sampai tidak bisa berkata-kata. Sang rival mulai menarik tangan Dekiel dengan kasar untuk berjalan mengikutinya.

"Hei, lo mau bawa kemana sahabat gue hah?!" Teriak Arly dan ingin menarik tangan Dekiel tapi segera dihentikan oleh seseorang.

"Kau tidak boleh mengejarnya." Peringat sosok itu membuat Arly menelan ludahnya susah payah.

"Lepasin gue brengsek!" Berontaknya tapi rivalnya itu segera menarik tubuh Dekiel hingga menabrak pinggiran mobil. Dekiel meringis kesakitan tapi saat dirinya ingin melawan mulutnya sudah di apit dengan begitu kuat.

"Mulut kamu mau aku robek hah?" Ucapnya dengan nada yang sedikit menahan emosi tapi Dekiel segera menepis tangan rivalnya itu.

"Lo siapa sih perintah-perintah gue?!" Sentaknya dengan dada yang sedikit naik turun.

"Apa kau tidak mengenalku, Kiel?" Panggilan itu membuat tubuh Dekiel sedikit bergetar. Dekiel mulai menatap tajam rivalnya itu.

"Gak dan jangan manggil gue dengan sebutan itu!" Rivalnya itu tersenyum membuat Dekiel merinding sendiri.

"Apa kau takut hm?" Tanya nya pelan membuat badan Dekiel kaku. Bukan takut tapi hanya satu orang yang bisa memanggilnya dengan sebutan itu dan dirinya telah mengubur memori itu untuk selamanya.

"Bagaimana kalau apa yang kamu pikirkan sekarang adalah sosok didepanmu?" Bisiknya pelan dan mulai menjauh untuk melihat ekspresi Dekiel. Lucu. Sungguh pemandangan yang bagus.

"Apa maksud lo hah?!" Dekiel begitu panik sungguh, dirinya takut jika sosok didepannya benar-benar adalah dia.

"Kiel, Lio mu ini sudah kembali."

♡♡♡

To be continued, wait for the next episode my readers♡

Published : 29 Mei 2026

The Master's Snare : Obsession MarvolioHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora