Bab 1

20K 1.4K 35
                                        

Desa Jragat tidak pernah melahirkan pria yang lemah. Sejak dulu, tanah di desa itu terkenal keras dan sulit ditaklukkan. Lereng-lereng curam mengelilingi pemukiman warga seperti benteng alam yang menjaga mereka dari dunia luar. Udara dingin yang turun setiap pagi menusuk hingga ke tulang, sementara jalan-jalan berbatu memaksa siapa pun yang tinggal di sana untuk memiliki tenaga dan ketahanan kuat.

Orang-orang Jragat tumbuh bersama alam yang keras.

Mereka terbiasa memikul kayu dari hutan pinus, berjalan jauh melewati jalur licin pegunungan, dan bekerja di ladang sejak matahari belum sepenuhnya muncul. Tidak ada ruang bagi kemalasan di desa itu. Anak-anak lelaki bahkan sudah diajari membantu orang tua mereka sejak usia belasan tahun.

Namun, di antara seluruh pemuda desa, hanya satu nama yang paling sering dibicarakan warga dengan nada segan.

Nendro Bagus Arraden Jagati.

Namanya sudah seperti simbol kekuatan di desa itu. Di usia dua puluh tiga tahun, Nendro tumbuh menjadi sosok yang sangat disegani sekaligus sulit didekati. Ia adalah cucu dari salah satu tetua adat desa, dan sejak kecil sudah dibentuk untuk menjadi penerus keluarga besar Jagati.

Tubuhnya tinggi dan tegap, hampir seratus delapan puluh sentimeter. Bahunya lebar dengan lengan yang penuh otot keras hasil pekerjaan kasar sehari-hari. Bukan otot buatan gym modern, melainkan kekuatan alami dari bertahun-tahun mengangkat hasil panen, memotong kayu bakar, dan bekerja di ladang teh milik keluarganya.

Kulitnya sawo matang terbakar matahari pegunungan.

Rahangnya tegas.

Dan yang paling membuat orang sulit menatapnya terlalu lama adalah kedua matanya.

Tatapan Nendro selalu lurus dan tajam, seolah mampu membaca isi kepala seseorang hanya dalam sekali pandang. Banyak pemuda desa mengaku gugup ketika berbicara dengannya, bahkan orang yang lebih tua pun kadang memilih berhati-hati saat menyampaikan sesuatu pada Nendro.

Suatu siang, ketika beberapa warga sedang memindahkan pupuk ke gudang penyimpanan, seorang tetua desa memanggilnya dari kejauhan.

"Nandro! Iki lho, tulung bantu mbahmu mindah sak pupuk nang gudang!" [ini lho, tolong bantu mbah mu mindah karung pupuk ke gudang]

Nendro yang saat itu sedang membelah kayu langsung menghentikan pekerjaannya. Keringat membasahi leher dan dadanya yang terbuka, tetapi wajahnya tetap tenang tanpa tanda lelah sedikit pun.

"Nggih, Mbah," jawabnya singkat.

Ia berjalan mendekat tanpa banyak bicara. Dua karung pupuk besar langsung diangkat sekaligus ke kedua bahunya seolah benda itu tidak memiliki berat apa pun.

Beberapa pemuda lain hanya bisa saling melirik kagum.

"Sak karung wae aku wes encok," bisik salah satu dari mereka pelan. [Satu karung aja aku udah encok]

"Heh, wong iku Nendro," sahut temannya sambil tertawa kecil. [heh, orang itu Nendro]

Setelah selesai memindahkan seluruh pupuk, Nendro hanya mengusap peluh di dahinya menggunakan handuk kecil.

"Wis beres, Mbah. Sing liyane tinggal disusun wae," katanya tenang. [sudah beres,mbah. yang lain tinggal disusun aja]

Tetua desa mengangguk puas.

"Le, awakmu kuwat tenan. Koyo mbahmu biyen." [nak, badanmu/dirimu kuat banget. seperti mbahmu dulu]

Nendro hanya memberi senyum tipis sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.

Bagi Nendro, hidup selalu tentang kendali dan tanggung jawab. Ia terbiasa memastikan segala sesuatu berjalan sesuai aturan. Ladang keluarga mereka terkenal paling rapi di desa karena Nendro tidak pernah membiarkan pekerja bermalas-malasan.

Desa Jragat [End] [Revisi]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang