Anna tidak pernah menyangka, hidup di negara asing akan membuatnya mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan. Di culik oleh seorang pria misterius, membuat Anna tenggelam dalam frustasi diri.
Di perlakukan bak "Boneka" membuat sisi keras kepala A...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
LONDON, INGGRIS
Pukul delapan malam terasa lebih dingin dari biasanya, ketika lampu-lampu di dalam studio balet akhirnya diredupkan satu per satu. Hujan mulai menempel di jendela besar yang menghadap jalan, memantulkan bayangan lantai yang masih hangat oleh jejak latihan berjam-jam.
Anna berdiri di tengah ruangan dengan napas teratur, kedua tangannya masih terangkat dalam posisi akhir yang sempurna. Musik telah berhenti, ia lengannya perlahan, menjaga postur tubuhnya hingga detik terakhir.
Guru baletnya, Madame Laurent, bertepuk tangan pelan. "Lebih baik dari kemarin, Anna. Tapi kamu masih menahan bahu kananmu." Nada suaranya tidak keras, hanya tegas.
Anna mengangguk cepat. "Saya akan memperbaikinya, Madame."
Beberapa murid lain sudah mulai duduk di lantai, melepas sepatu pointe dengan wajah lelah, sementara Anna tetap berdiri.
Clara mendekat sambil mengibaskan rambutnya yang basah oleh keringat. "Kamu seperti tidak pernah salah," katanya setengah bercanda.
Anna tersenyum tipis, sambil menggeleng pelan. Terlihat membantah omongan Clara. "Semua orang selalu salah. Hanya saja tidak semua orang menunjukkannya."
Clara tertawa kecil. "Itu jawaban paling anggun yang pernah kudengar."
Anna hanya meraih botol airnya dan meneguk perlahan, ia merasa perkataan Clara tidak ada gunanya sama sekali.
Madame Laurent kembali bersuara, kali ini lebih lembut. "Pertunjukan musim dingin semakin dekat. Kalian tidak punya ruang untuk lengah." Ia menatap Anna sedikit lebih lama. "Dan kamu, Anna, jangan hanya menari dengan teknik. Tunjukkan rasa."
Anna menundukkan kepala. "Ya, Madame." Jawabannya pendek, tanpa ruang untuk membantah. Ia tahu persis, kapan harus berbicara dan kapan harus menerima.
Suasana studio perlahan berubah menjadi lebih santai ketika para murid mulai berganti pakaian. Tawa kecil terdengar di ruang ganti, bercampur dengan suara ritsleting tas.
Clara kembali mendekat. "Kamu pulang sendiri malam ini?" tanyanya.
Anna menggeleng pelan. "Tidak. Johan menunggu."
Clara mengangkat alis. "Pengawal setiamu itu? Kamu benar-benar hidup seperti tokoh novel."
Anna merapikan rambutnya, membiarkan rambut panjangnya terurai lebih bebas. "Semua orang punya alasan masing-masing." Anna meraih mantel panjang berwarna gelapnya, mengenakannya dengan cepat.
"Padahal aku ingin menawarkan tumpangan jika kamu pulang sendiri." Clara mengunci lemarinya dengan perasaan kalah.
Saat mereka berjalan keluar dari studio, angin malam yang dingin langsung menyentuh wajah Anna. Di seberang trotoar, sebuah mobil hitam terparkir rapi. Johan berdiri di dekat pintu pengemudi, tegap dan diam seperti biasa. Ketika melihat Anna, pria itu membuka pintu belakang tanpa banyak kata.