1

158 18 5
                                        

Hujan turun sejak pagi, tipis dan nyaris tidak tergesa, membasahi jalanan kecil di lingkungan itu dengan warna abu-abu yang muram. Langit menggantung rendah di atas deretan rumah yang berdiri diam tanpa banyak suara, seolah tempat itu memang terbiasa hidup dalam kesunyian. Tidak ada anak-anak berlarian di halaman. Tidak ada percakapan tetangga yang terdengar dari luar pagar. Hanya suara rintik hujan yang jatuh pelan di atas aspal basah dan dedaunan yang sesekali bergerak tertiup angin dingin.

Mobil yang Anna tumpangi berhenti tepat di depan rumah kecil bercat putih kusam di ujung jalan.

Rumah itu tidak buruk. Bahkan bisa dibilang cukup nyaman untuk ditinggali sendirian. Halamannya kecil, dengan pagar kayu rendah yang mulai memudar warnanya dimakan usia. Ada pot tanaman kosong di dekat teras depan dan jendela besar yang menghadap langsung ke jalan kompleks yang sepi.

Namun entah mengapa, saat pertama kali turun dari mobil dan berdiri di depan rumah itu, Anna justru merasa tempat tersebut terlalu sunyi.

Seolah rumah itu sedang menunggunya sejak lama.

Anna menarik koper hitamnya turun perlahan, sementara sopir yang tadi membantunya hanya sempat mengangguk sopan sebelum kembali masuk ke dalam mobil. Tidak butuh waktu lama sampai kendaraan itu pergi meninggalkan jalan kecil tersebut, menyisakan Anna sendirian di bawah udara dingin yang lembap.

Dan anehnya, setelah suara mesin mobil menghilang di kejauhan, lingkungan itu terasa semakin hening.

Anna berdiri beberapa detik tanpa bergerak.

Tatapannya menyapu sekitar secara perlahan, deretan rumah yang tertutup rapat, jendela-jendela yang tidak memperlihatkan kehidupan di baliknya, dan jalan panjang yang tampak kosong meski waktu bahkan belum benar-benar siang.

Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa sedikit sesak.

Mungkin karena tempat asing memang selalu terasa seperti itu di awal.

Atau mungkin karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Anna benar-benar sendirian.

Tangannya bergerak pelan merogoh saku mantel, memastikan kunci rumah itu masih ada di sana. Gerakan sederhana yang entah kenapa terasa penting. Seolah benda kecil itu menjadi satu-satunya bukti bahwa ia memang memiliki tempat untuk pulang sekarang.

Meski kata pulang sendiri masih terasa asing baginya.

Anna akhirnya melangkah mendekati pintu rumah. Suara kayu koper yang bergesekan dengan lantai teras terdengar pelan di tengah hujan yang belum berhenti turun. Ketika pintu itu terbuka, aroma lembap khas rumah yang terlalu lama kosong langsung menyambutnya.

Tidak ada apa-apa di dalam sana.

Hanya ruang sempit yang masih dipenuhi kardus, dinding putih polos, dan udara dingin yang membuat rumah itu terasa jauh dari kata hidup.

Anna masuk perlahan.

Lalu tanpa sadar menutup pintu sedikit lebih cepat dari yang seharusnya, seakan ada bagian kecil dalam dirinya yang tidak ingin membiarkan kesunyian di luar ikut masuk bersamanya.

Ia mengembuskan napas pelan.

Untuk sesaat, Anna hanya berdiri diam di tengah ruang tamu yang kosong sambil mendengarkan suara hujan di luar jendela.

Sunyi.

Terlalu sunyi.

Dan di tengah kesunyian itu, pikirannya mulai kembali dipenuhi hal-hal yang sejak awal ingin ia tinggalkan.

Tatapan orang-orang.

Suara pertengkaran.

Kalimat-kalimat menyakitkan yang terus terngiang bahkan setelah semuanya berakhir.

The Saint and The Devil ft Lee HeeseungCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang