19 Agustus 202x. Dunia berhenti berputar dalam satu embusan napas yang sama. Tanpa peringatan, 1.440.000 manusia di berbagai penjuru bumi jatuh, terperosok ke dalam tidur yang kedap. Mereka tidak mati; jantung mereka tetap berdenyut, paru-paru mereka masih memompa udara dengan tenang, namun kesadaran mereka raib ditelan kekosongan.
Satu dekade dunia berkabung, sepertiga dari mereka telah pergi untuk selamanya. Dunia menganggap mereka sebagai lubang hitam dalam sejarah, hingga dua tahun lalu—secara ajaib, seperti mereka 'pergi'—mereka membuka mata kembali.
Udara di dalam kantor itu terasa seperti bilah es yang mengiris kulit. Di luar jendela, Jakarta tengah memamerkan keriuhannya yang paling bising—klakson yang saling bersahutan dan gerungan mesin yang membelah aspal di bawah terik matahari. Namun, di dalam ruang relaksasi ini, atmosfernya begitu ganjil. Televisi di dinding tengah menayangkan potongan dokumenter cepat sebelum memutus transisi ke sebuah studio talkshow yang gemerlap.
Dua pembawa acara berjas hitam berdiri tegak. Wajah mereka terkunci dalam ekspresi khidmat yang dibuat-buat.
"Dua tahun lalu," salah satu dari mereka membuka suara, berat oleh beban dramatisasi, "mereka akhirnya membuka mata. Setelah sepuluh tahun terjebak dalam hampa yang tak berujung dan kematian yang memburu. Sebuah harapan yang kita kira telah layu, kini bersemi kembali."
Sepuluh tahun ... yah, waktu yang sangat lama. Begitu lama.
"Dan setelah mengguncang dunia dengan kepulangan mereka," lanjut host kedua dengan nada yang sengaja diceriakan, "ternyata mereka membawa 'oleh-oleh' yang tak ternalar. Mari kita sambut, wajah dari survivor generasi kita, Lost Generation—Tariq Alfarizi!"
Musik yang ceria meledak, juga menyiramkan semangat ke dalam ruangan relaksasi yang memang dirancang dengan nuansa ceria ini. Seorang pemuda dengan kemeja biru tua—yang terlihat kontras dengan lampu studio—melangkah masuk. Dengan langkahnya yang tegap, senyumnya lebar, memeriahkan suasana. Kedua tangannya melambai ke kamera, gerakan yang begitu familiar di media sosial, di tengah studio ia membungkuk ringan.
Kedua host itu langsung menghimpit sang bintang tamu, membalas sapaannya. Salah satu dari mereka menunjuk sofa, sebuah isyarat agar mereka bertiga segera memulai acara.
"Influencer viral kita, nih~" Host itu menyambutnya, nadanya jahil, akrab, seolah mereka sudah berteman lama.
"Semalem gua juga denger tuh klip dari podcast-nya." Host yang satu lagi membalas sambil menepuk ringan pundak sang bintang tamu. "Langsung masuk FYP dong~"
FYP. Benar, dia ada dimana-mana. Ia adalah wajah dari fenomena asing ini.
Pintu kaca ruang relaksasi terbuka, memuntahkan para karyawan yang terlambat makan siang. Mereka datang untuk memulihkan tenaga mereka yang terkuras habis. Ada yang membawa bekal, kantong plastik dari pesanan online, dan mi instan yang disediakan kantor. Keluhan pada meeting yang molor sayup-sayup terdengar, inilah yang menahan mereka hingga tertinggal oleh padatnya jam kantor.
Nina yang kini baru saja selesai merapikan kursi dari penghuni sebelumnya kini, menatap meja yang mengkilap itu dipenuhi oleh makanan dan botol minum baru. Ia melanjutkan tugasnya mengelap kaca yang menjadi dinding ruangan ini. Lantunan obrolan meriah di televisi menyelinap ke telinga Nina.
"Nah, iya. Kita pengen denger lagi dong, tapi cerita yang lain. Episode yang ada warlok-nya ada ga?"
"Iya tuh, itu aja. Modelannya gimana dah warlok sana, mirip-mirip kita apa beda jauh? Soalnya ada sihir begitu, kan."
ESTÁS LEYENDO
Riven Obsidio
FantasíaUpload setiap sabtu dan selasa pada pukul 20.00 WIB Apa yang terjadi jika 1,4 juta manusia yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun tiba-tiba terbangun kembali? Dunia menyebut mereka "Lost Generation". Beberapa kembali sebagai pahlawan, inf...
