1 | Datang Lagi

173 25 12
                                        

- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE SETIAP UPDATE
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.

* * *

SATU TAHUN KEMUDIAN ...

Azwar baru saja turun dari mobilnya, ketika mobil milik Rama memasuki halaman rumah sore itu. Kedua pria itu bertemu tepat di tengah halaman, sambil memperlihatkan yang mereka beli saat dalam perjalanan menuju rumah. Keduanya pun tertawa, saat tahu bahwa kali itu siomay dan dimsum akan bertarung di meja ruang tengah. Mereka sudah berniat akan menonton TV, karena sebentar lagi pertandingan sepak bola akan segera dimulai.

"Tadinya aku mau beli bakmi. Tapi entah kenapa moodku langsung tidak bisa diajak kerja sama, saat kepikiran sama makanan yang berbahan mie. Akhirnya aku melipir dan memilih beli dimsum saus mentai yang biasanya Mas Rama suka," ujar Azwar.

"Aku tadinya mau beli bakso, Az. Tapi saat aku pikir-pikir lagi, kamu pasti lebih senang kalau aku belikan siomay di tempat langganannya Ayah. Aku pengen lihat kamu makan dengan lahap malam ini, biar pipimu tambah endut," balas Rama.

"Eh? Apa? Endut apanya, endut? Enggak ada, ya, pipi aku endut. Pipi tirus proporsional begini, kok, dibilang endut," omel Azwar, sambil menatap kaca jendela di teras.

Rama pun tertawa terbahak-bahak, karena tahu kalau Azwar paling tidak mau kalau pipinya jadi lebih berisi. Wajahnya akan terlihat bulat, kalau kedua pipinya jadi lebih tembam dari biasanya.

"Bercanda, Az. Ya Allah, segitu takutnya kamu punya pipi tembam," goda Rama.

Mereka segera masuk ke rumah dan pergi ke kamar masing-masing. Mereka mandi sore terlebih dahulu, sebelum turun kembali ke bawah untuk mempersiapkan acara nonton bola bersama setelah shalat maghrib. Murdiyah terlihat sudah menyiapkan makan malam di meja. Sayur asem, ikan goreng, tahu serta tempe goreng, dan sambal terasi sudah tersaji di sana. Azwar turun paling pertama. Ia tersenyum saat melihat isi meja makan kali itu. Rama menyusul tak lama kemudian, lalu segera duduk di sana bersama Azwar untuk menikmati makan malam.

"Dimsum dan siomaynya mau dipanasi dulu, Mas?" tanya Murdiyah.

"Iya, Bi. Boleh," jawab Rama, sambil menyendok sayur asem yang masih panas ke dalam mangkuk miliknya.

"Mas ... jangan semuanya diciduk, dong. Masa aku kebagian kacang panjang sama daun melinjo doang, sih?" sebal Azwar.

"He-he-he-he-he! Maaf, Az. Aku selalu khilaf kalau sudah lihat sayur asem. Suka lupa kalau harus bagi-bagi sama kamu," ujar Rama.

"Khilaf kok sering, sih, Mas? Khilaf tuh sekali. Kalau lebih dari sekali mah namanya terbiasa khilaf," balas Azwar.

"Khilaf itu tidak pernah direncanakan, Az. Makanya bisa terjadi sangat sering."

"Ah, iya. Suka-suka Mas Rama saja, deh, kalau begitu. Intinya, sisakan aku jagungnya, Mas. Jangan diambil semua," pinta Azwar, sekali lagi.

Murdiyah hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala, saat mendengar perdebatan kedua pria itu di meja makan. Sejak dulu rumah itu memang selalu ramai, jika Rama dan Azwar sudah mulai berdebat di meja makan. Bahkan saat Rizal dan Alyana masih hidup dulu, mereka selalu berharap mendengar perdebatan yang sama setiap harinya. Mereka pasti akan tertawa, lalu melerai dengan penuh kasih sayang. Namun sekarang, yang terdengar hanya tinggal perdebatan Rama dan Azwar saja. Sementara suara-suara leraian dari Rizal dan Alyana tak pernah lagi ada.

"Tetap saja ada yang kosong di rumah ini, setelah Tuan dan Nyonya meninggal dunia. Mas Rama dan Mas Azwar pun pasti merasakan hal yang sama," batin Murdiyah.

Setelah selesai makan malam, dimsum dan siomay telah tersaji di meja ruang tamu. Televisi dinyalakan dan Azwar terus mengganti ke channel yang tepat, agar mereka bisa menonton pertandingan bola. Rama datang sambil membawa dua gelas kopi susu. Membuat Azwar tersenyum senang, karena lengkap sudah persiapan mereka sebelum menonton bola malam itu.

"Sudah mulai?" tanya Rama.

"Belum, Mas. Masih komentator, tuh, yang muncul," jawab Azwar.

Azwar menyesap seteguk kopi susunya. Senyum di wajahnya semakin mengembang, saat merasakan gurihnya kopi susu yang pas dengan seleranya. Rama memang selalu tahu apa saja yang Azwar sukai. Sama seperti Azwar yang selalu tahu soal apa yang paling Rama sukai. Mereka baru saja akan mencicipi dimsum serta siomay, ketika Murdiyah mendadak datang ke ruang tengah untuk mengabarkan sesuatu.

"Maaf, Mas Rama ... Mas Azwar ... itu, di luar ada tamu yang memaksa ingin masuk. Tapi Pak Dadang melarangnya masuk, seperti yang Mas Rama pesankan satu tahun lalu," ujar Murdiyah, menyampaikan.

Kedua pria itu pun batal menyuap dimsum dan siomay ke mulut masing-masing. Mereka meletakkan kembali sumpit pada tempatnya, lalu bangkit dari sofa ruang tengah.

"Tamu yang mana, ya, Bi?" tanya Azwar.

"Itu, Mas Azwar. Tamu yang datang ke sini waktu Almarhum Tuan meninggal dunia. Yang Mas Rama bilang jangan dikasih izin masuk gerbang, kalau mereka datang lagi," jawab Murdiyah.

Ingatan Azwar dan Rama pun langsung tertuju pada keluarga dari pihak Almarhum Ayahnya. Kedua pria itu pun mulai menduga-duga sesuatu, meski mulut mereka terkunci rapat.

"Pasti mau bahas soal warisan lagi," bisik Rama.

"Bukannya kita sudah menyerahkan warisannya, ya? Kok, masih mau dibahas lagi?" tanya Azwar, ikut berbisik.

Kedua pria itu tiba di teras. Keberadaan Tirta terlihat oleh mereka. Tampaknya, yang datang hanya Tirta seorang malam itu. Tidak dengan anggota Keluarga Pramardi yang lain seperti satu tahun lalu.

"Nak Rama ... Nak Azwar ... tolong izinkan saya masuk, Nak. Ada hal yang perlu saya sampaikan pada kalian berdua," mohon Tirta, tampak sangat putus asa.

"Ada perlu apa, Pak Tirta? Kami enggak mau mendengar apa-apa, kalau tujuan kedatangan Pak Tirta ke sini hanya untuk membahas soal warisan. Kami enggak ada urusan lagi sama—"

"Tolong beri saya kesempatan menjelaskan lebih dulu, Nak Rama. Tolong. Saya mohon," potong Tirta, benar-benar putus asa.

Rama dan Azwar pun saling menatap satu sama lain. Mereka tampak sedang mempertimbangkan, apakah Tirta harus dibiarkan masuk atau tidak. Dadang jelas tidak akan membukakan gerbang, karena Rama sendiri yang berpesan padanya. Namun Tirta juga tampak tidak bisa diusir, meskipun mereka tidak membukakan gerbang. Takutnya, Tirta malah membuat keributan dan mengganggu para tetangga.

"Bukakan gerbangnya, Pak Dadang. Biarkan dia masuk," putus Azwar.

"Tapi setelah itu jangan lupa panggil sekuriti komplek, ya, Pak. Biar gampang kalau kami ingin mengusir dia secepatnya," tambah Rama.

"Baik, Mas Rama," tanggap Dadang, patuh.

Gerbang pun dibuka. Tirta segera kembali ke mobilnya dan masuk ke halaman rumah yang luas itu. Dadang segera menghubungi sekuriti komplek, saat Tirta tiba di hadapan Rama dan Azwar sambil berlutut.

"Tolong saya, Nak. Tolong maafkan saya yang lebih memilih mendukung Nyonya Nirmala dan mengkhianati isi wasiat dari Almarhum Tuan Yudho. Tolong, Nak. Saya masih mau menjalani hidup yang tenang," mohon Tirta.

Rama dan Azwar pun hanya bisa memasang wajah kaget, saat Tirta berlutut dan memohon seperti itu.

* * *

SAMPAI JUMPA BESOK 🥰

WARISANWhere stories live. Discover now