Mereka pernah saling mencintai dalam diam, dengan rahasia yang tak pernah terucap pada dunia.
Kim Seokjin, pewaris Lunea Group yang hidup di bawah bayang-bayang nama besar keluarganya. Terseret skandal dengan Shin Sekyung, kekasihnya sendiri yang me...
Pagi itu Seoul sudah sibuk bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi.
Suara klakson bersahutan, langkah kaki terburu-buru memenuhi trotoar, dan udara pagi terasa padat oleh ritme kota yang tak pernah benar-benar berhenti.
Di antara keramaian itu..
Sekyung berlari.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Aish... terlambat... terlambat..." gumamnya pelan sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
Langkahnya semakin cepat.
Hingga akhirnya, Ia berhenti.
Di hadapannya menjulang sebuah gedung tinggi dengan kaca yang berkilau memantulkan cahaya pagi.
Lunea One Tower.
Sekyung menatapnya sejenak. Napasnya masih belum teratur, dadanya naik turun. Namun di tengah lelah itu, senyum kecil perlahan muncul di bibirnya.
"Ini dia..." bisiknya pelan. Tatapannya turun ke sisi kanan bangunan.
Di sana pintu store masih tertutup, namun beberapa staf terlihat sibuk menyiapkan dekorasi. Pita besar terpasang di depan pintu kaca, bunga-bunga segar menghiasi sisi pintu masuk, dan beberapa orang mondar-mandir membawa kotak produk.
Ini adalah hari pembukaan store. Dan hari pertama kerjanya.
Sekyung menarik napas panjang. Lalu ia bergegas masuk ke dalam gedung.
Ia melangkah masuk ke ruang staf dengan cepat dan sedikit terengah. Ruangan itu cukup luas, dipenuhi cermin besar dengan lampu-lampu di sekelilingnya. Aroma hair spray, parfum, dan kosmetik bercampur di udara.
Beberapa karyawan baru sudah berada di sana. Ada yang merapikan rambut, ada yang memoles ulang make up, ada pula yang sibuk menghafal daftar produk.
Sekyung mencari ruang kosong. Ia menemukan satu ruang ganti kecil di sudut. Tanpa membuang waktu ia masuk, menutup pintu, lalu segera mengganti pakaiannya.
Seragam store sudah ia kenakan. Terlihat rapi, sederhana, namun tetap terlihat anggun.
Beberapa menit kemudian ia keluar, berjalan ke meja rias lalu duduk. Menatap dirinya di cermin. Tangannya mulai bekerja.
Ia merapikan alis.
Mengaplikasikan foundation tipis.
Menambahkan sedikit warna di pipi.
Gerakannya cepat, tapi tetap hati-hati. Sesekali ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya.