Suara tangisan ganda memecah keheningan jam lima pagi. Di kamar yang tidak terlalu luas itu, Chenle dengan mata setengah tertutup langsung bangkit, menepuk pelan paha Jisung yang masih mendengkur halus sebelum melangkah ke kasur bayi.
"Sstt, Nono, Nana, Bunda di sini, Sayang..." bisik Chenle sambil mengangkat dua bayi kembar yang baru berusia beberapa bulan itu ke dalam dekapannya.
Di kasur bawah yang digelar di depan TV, terjadi keributan lain. Haechan, jagoan kecil yang bulan depan akan masuk TK, menendang selimutnya hingga mengenai wajah Renjun.
"Echaaann! Kaki kamu bau!" teriak Renjun kesal, langsung duduk dan melempar guling ke arah adiknya.
"Nda bau! Njun yang bau!" balas Haechan tak mau kalah.
Dari arah dapur, Mark—anak sulung yang sudah kelas enam SD—muncul dengan rambut acak-acakan dan seragam pramuka yang baru setengah terkancing.
"Bunda, Ayah, abang hari ini ada bayaran buat foto ijazah kelulusan. Boleh minta uangnya sekarang?"
Jisung yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit leher, menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya yang masih basah, mencoba mengumpulkan nyawa di tengah hiruk-pikuk rumahnya yang tak pernah sepi.
"Iya, Bang. Nanti Ayah kasih sebelum berangkat, ya. Tolong bangunin adek-adeknya suruh mandi, jangan malah berantem," ucap Jisung lembut sambil mengacak rambut Mark.
Pagi itu, meja makan sederhana mereka dipenuhi piring berisi telur dadar dan kecap manis. Haechan sibuk berceloteh tentang tas Spider-Man yang ia lihat di pasar, menuntut untuk dibelikan sebagai tas masuk TK. Renjun makan dengan tenang, sementara Mark diam-diam melirik ayahnya.
Setelah anak-anak yang besar berangkat sekolah dan si kembar akhirnya tertidur pulas setelah minum susu, rumah terasa sedikit lebih bernapas. Jisung sedang merapikan dasinya di depan cermin lemari plastik mereka, sementara Chenle menghampirinya sambil membawa secangkir teh hangat.
"Yah," panggil Chenle pelan. Jemarinya sibuk memijat pelan bahu Jisung yang terasa kaku. "Susu formula si kembar sisa buat dua hari lagi. Terus pendaftaran TK-nya Echan harus dilunasin minggu ini. Belum lagi uang perpisahan sama foto ijazahnya Bang Mark."
Gerakan tangan Jisung terhenti. Ia menatap pantulan Chenle di cermin. Gaji sebagai staf administrasi biasa memang hanya cukup untuk kebutuhan standar. Bulan ini rasanya jauh lebih mencekik karena banyak pengeluaran besar yang datang bersamaan.
"Uang belanjanya kurang banyak ya, Bun?" tanya Jisung, memutar tubuhnya untuk menghadap Chenle. Ada raut bersalah di wajah lelahnya.
"Ayah coba minta lembur lagi ya bulan ini ke kepala bagian. Atau nanti akhir pekan Ayah coba cari kerjaan sampingan bawa motor keliling."
Chenle buru-buru menggeleng, merapikan kerah kemeja suaminya dengan senyum teduh. "Nggak usah memaksakan diri sampai sakit. Kita bisa hemat kok. Bunda nanti coba cari sayur yang lebih murah di pasar, terus susunya si kembar kita akalin pelan-pelan. Uang masuk TK Echan pakai uang tabungan Bunda dulu aja sedikit."
"Maafin Ayah ya, Bun. Gajinya masih segini-gini aja, padahal anak kita banyak," ucap Jisung, menarik pinggang Chenle dan memeluknya erat.
"Kamu pasti capek banget ngurus rumah seharian, ngurus lima anak sendirian waktu Ayah kerja."
Chenle tertawa kecil, menepuk punggung lebar suaminya. "Capek sih iya, banget malah. Kadang rasanya kepala mau pecah kalau Echan sama Njun udah rebutan remot TV, terus si kembar nangis barengan. Tapi yaudah jalanin aja, Yah."
Sore harinya, saat Jisung membuka pintu rumah dengan tubuh yang luar biasa penat, rasa lelahnya seakan tersapu bersih oleh pemandangan di depannya.
Haechan langsung berlari menubruk kakinya.
"AYAH PULAAANG! Ayah, kata Bunda Echan masuk TK pakai tas lama Bang Malk aja gapapa, nanti ditempelin stiker spiderman yang banyak!" lapornya dengan wajah bangga.
Di karpet, Renjun sedang belajar matematika bersama Mark, sementara Chenle duduk di sofa, menyusui salah satu bayi kembar sambil mengayunkan kaki untuk menggoyangkan boks bayi satunya.
Jisung tersenyum hangat. Ia mungkin bukan direktur kaya raya, dan keluarganya mungkin harus berhitung keras setiap akhir bulan hanya untuk bisa makan enak sesekali. Namun, melihat lima anak yang tumbuh sehat dan pasangan yang luar biasa mendukungnya, Jisung tahu ia adalah pria paling kaya di dunia.
"Ayo semuanya, siapa yang mau bantuin Ayah mijit kaki? Ayah bawa martabak manis nih!" seru Jisung, yang langsung disambut sorakan heboh dari Mark, Renjun, dan Haechan, membuat rumah kecil itu kembali bising oleh kebahagiaan yang sangat sederhana.
YOU ARE READING
Famiglia felice - Jichen ft dream
General FictionFamiglia felice atau keluarga bahagia yang hidup sederhana dengan banyak likaliku yang jisung dan chenle alami bersama 5 anaknya Mark as sulung Renjun anak ke 2 Haechan anak ke 3 Jeno Jaemin si kembar Bungsu mpreg missgendering bxb
