Bab 1

6 1 0
                                        

Dulu, aku berpikir bahwa kecantikan adalah seberapa banyak pasang mata yang menatapku. Aku bangga memperlihat kan  apa yang seharusnya disembunyikan, tanpaku  sadari bahwa setiap kulit yang ku buka adalah satu langkah yang menyeret ayahku mendekat ke dalam api neraka. 

Hingga suatu hari aku berdiri 

  di depan cermin,  melihat diriku bukan sebagai wanita cantik, melainkan sebagai hamba yang sangat angkuh. Saat itulah air mata jatuh, bukan karena sedih, akan tetapi karena teramat malu—malu kepada Allah yang tak pernah berhenti menutup aibku, meski aku terus-terusan mengabaikan perintah-Nya

hingga akhirnya di sepertiga malam, saat dunia tertidur, jiwaku  terbangun. Ia menatap cermin, menatap helai rambut yang dulu ia pamerkan, lalu air mata penyesalan jatuh. Malam ini, ia memutuskan untuk merobek lembaran masa lalu yang kelam dan menggantinya dengan sujud. Ia ingin kembali, menutup apa yang seharusnya dijaga, dan memeluk hidayah di atas sajadah basah.

Batas yang MemuliakanStories to obsess over. Discover now