Layar monitor 27 inci di depan Arsa berkedip merah darah. Grafik candlestick PEPE di Binance baru saja terjun bebas, membentuk formasi Godzilla yang siap menelan seluruh margin yang tersisa. Arsa tidak berkedip. Di kepalanya, algoritma Tesseract sedang menghitung probabilitas pembalikan arah, tapi realitanya hanya satu: Margin Call.
"Sialan," gumam Arsa. Suaranya serak. Sejak tadi pagi dia hanya bicara pada bot AI sableng yang terus-menerus bertanya hal yang sama seperti pasien Alzheimer.
Arsa bangkit dari kursi gamingnya yang sudah mulai terkelupas. Di sudut ruangan, sebuah helm full-face bekas kurir paket tergeletak tak berdaya. Helm itu nampak arogan. Warnanya yang kusam seolah-olah mengejek status Arsa sebagai lulusan teknologi dengan IPK tinggi yang malah terjebak di kamar sempit, bertaruh pada koin katak hijau.
Tanpa aba-aba, Arsa melakukan gerakan yang tidak ada di manual bela diri mana pun. Dia meloncat, menari-nari di udara, dan mendarat tepat di depan helm itu dengan tarian yang lebih mirip ritual pemanggilan hujan.
BRAKK!
Satu pukulan mentah menghantam kaca helm. Bukan dengan teknik yang benar, tapi dengan seluruh rasa frustrasi atas kerjaan yang menumpuk dan AI yang amnesia. Arsa bisa merasakan sendi-sendinya berderit. Rasa sakit menjalar dari buku jari hingga ke pangkal bahu. Tangannya mulai membengkak hebat, membiru seperti bakso urat di pasar malam.
"Bagus," rintihnya sambil tersenyum miring.
Sepuluh menit kemudian, Arsa sudah berada di dalam IGD. Bau karbol menyengat indra penciumannya. Seorang perawat muda dengan nametag 'Nindi' menghampirinya, alisnya bertaut melihat tangan Arsa yang sudah tidak berbentuk.
"Mas, ini kecelakaan motor? Kok helmnya hancur tapi jaketnya rapi?" tanya Nindi heran.
Arsa menatap mata perawat itu dalam-dalam, mencoba tetap terlihat cool meski keringat dingin mulai mengucur. "Mbak Nindi, sebelum Mbak perban, ini alamat wallet saya. Saya mau bayar biaya penanganan pakai PEPE atau DOGE. Kalau kurang, saya tambahin SUI."
Nindi terdiam. Dia tidak tahu apa itu koin katak atau SUI. Di telinganya, Arsa cuma kedengaran seperti pasien somplak yang sedang halusinasi. Tepat saat Nindi ingin menjawab, seekor nyamuk besar hinggap di pipi kiri Arsa.
PLAKKK!
Refleks Nindi luar biasa. Satu tamparan keras mendarat telak di pipi Arsa sampai kepala cowok itu tertoleh ke samping.
"Aduh! Maaf, Mas! Maaf banget... Itu tadi ada nyamuk gede banget di pipi Mas," ucap Nindi panik, wajahnya memerah karena merasa tidak enak sudah menampol pasiennya sendiri.
Arsa terdiam sebentar, merasakan pipinya yang panas bersaing dengan rasa nyeri di tangannya. Dia merasa kesel karena niat pamer asetnya nggak dimengerti si suster, tapi egonya memaksa dia tetap tangguh. Arsa perlahan memutar kepalanya, menatap Nindi datar, lalu mengacungkan jempol kiri yang masih sehat.
"Mantap, Men," ucap Arsa singkat.
Tepat saat itu, ponsel di kantong celana Arsa bergetar panjang. Dengan sisa tenaga, Arsa merogoh ponselnya dengan tangan kiri. Sebuah notifikasi muncul di layar:
[Binance Futures] Your PEPE Position has been Liquidated. Balance: 0.00 USD.
Mata Arsa melotot. Nafasnya tertahan. Kombinasi rasa sakit di tangan, panas di pipi, dan saldo yang mendadak jadi abu membuat otaknya langsung shutdown. Dunianya mendadak gelap gulita.
BRUKK!
Arsa langsung tumbang pingsan ke lantai, meninggalkan Nindi yang makin histeris manggil dokter sambil teriak-teriak minta maaf karena dikira tamparannya yang bikin pasiennya mati suri.
YOU ARE READING
Nindi Token
RomanceArsa gabut x suster cantik Nindi ❤️ Arsa, si anak jenius yang IPK-nya nyaris sempurna. Tapi saldo rekeningnya pernah lebih tipis dari kertas struk Indomaret. Sampai dia ditampar suster galak karena..... Ini kisah tentang liquid jadi legend. Te...
