Hinata menatap bayangannya yang terpantul di cermin besar kamar mandi. Malam ini perempuan itu memilih sebuah midi maxi black dress dengan panjang di bawah lutut yang bernuansa vintage. Berpotongan mengembang serta kerah V lebar dengan aksen pita di pundak, membuat tampilan Hinata sangat menawan. Gayanya makin elegan dengan tambahan aksesori kalung mutiara, sarung tangan berbahan tulle dan lipstik merah bata.
Setelah memastikan dandanannya maksimal, Hinata keluar dari toilet ballroom hotel Haruno. Masih sama seperti sebelum-sebelumnya, Hinata dengan cepat merasa asing dari sekitar. Ino Yamanaka dan Sai Shimura sudah pasti berkeliling bertemu dengan orang-orang. Hinata memaklumi hal itu karena mereka baru saja menikah.
Di saat yang sama, Kizashi Haruno yang beberapa rambutnya telah memutih—berdiri dari meja VVIP dan mengetuk gelasnya dengan sendok beberapa kali. Tanpa agenda utama, acara malam ini akan dimulai dengan pemotongan kue ulang tahun Haruno Corporation. Charity event tahunan ini memang salah satu cara Haruno Corporation untuk merayakan tahun demi tahun masa berdirinya.
Hiashi Hyuuga—ayahnya, sedang sibuk mengobrol dengan jajaran tamu-tamu VVIP malam ini. Hinata melihat Kizashi Haruno yang tak henti menepuk-nepuk bangga pundak Sasori—putra sulungnya. Dari cara pria itu membungkuk atau mengangguk sambil mendekap tangannya di dada, Hinata tahu pria itu mendapat banyak pujian hari ini.
Tanpa sadar Hinata tersenyum sendiri. Senang rasanya melihat Sasori—mantan kekasihnya dulu sewaktu remaja, sekarang sudah dipercaya untuk memimpin salah satu perusahaan keluarganya. Kehidupan pria itu terlihat sempurna dengan kehadiran seorang putri cantik yang menggemaskan dari pernikahannya dengan Shizuka Nadeshiko.
Hinata memilih duduk di meja sudut sambil mengudap makanan. Ia malas berbasa-basi dengan para lelaki yang mendekatinya dari tadi. Untung saja kue-kue kecil hidangan acara kali ini cukup menarik dan berbeda dari biasanya.
Hinata lalu melemparkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia melihat putri bungsu dari pemilik acara malam ini yaitu Sakura Haruno—teman satu angkatan dengannya saat SMA dulu. Saat ini, gadis itu sedang bersama dengan seorang pria asing yang memiliki postur tubuh yang sempurna.
Tampannya ... mungkin dia kekasih Sakura, pikir Hinata.
Tak lama, Hiashi Hyuuga datang menghampirinya bersama seorang pengusaha muda yang berdarah campuran Austria. Kata sang ayah, Pein Yahiko—si pengusaha muda itu berniat bekerja sama dengan perusahaan Hyuuga Group. Namun, lagi dan lagi, Hinata merasa ayahnya punya niat lain belakangan ini dengan memperkenalkan beberapa pria padanya.
Setelah cukup berbasa-basi, Hinata kemudian meninggalkan Pein Yahiko duduk sendirian di sana. Dia tadi pamit padanya untuk pergi ke toilet, dari obrolan pertamanya saja Hinata sudah malas. Dia tidak menyukai cara pria itu yang terlalu narsis, seolah-olah ia adalah wanita paling beruntung jika bersanding dengan seorang Pein Yahiko.
"Keruh sekali wajahmu, by the way siapa lelaki yang baru saja kau tinggalkan, Hinata?"
Tiba-tiba saja Ino menghalangi jalannya, bersama dengan Sai yang mengulurkan gelas berisi wine kepada Hinata.
Perempuan itu langsung meneguk minumannya sekaligus, kemudian mengerang sebal. "Biasalah ..." decaknya.
"Dikenalkan oleh paman Hiashi? Lagi?" tanya Ino sambil tertawa kecil.
YOU ARE READING
KALAU MEMANG JODOH
RomanceBagi Naruto, pertemuan pertama dan jatuh cinta bisa terjadi di momen yang sama jika kita membicarakan Hinata. Sayangnya, rintangan yang membentang seolah menghalangi Naruto dan perempuan itu untuk bersatu. Hinata tidak mengerti dengan keteguhan ayah...
