13 - Dylan Namanya

13 3 0
                                        

Sebuah kertas muncul dari celah pintu, Nandini mendekat ke pintu melihat. Nandini mengambil kertas yang baru muncul dan membacanya.

Saya tetangga dari atas unit anda. Saya menjatuhkan baju ke balkon anda. Saya membutuhnya besok untuk acara penting. Bisakah anda menghubungi saya jika sudah ada dirumah.

0812xxxxxxxx

Nandini mematikan sambungan telponnya ke Gasendra. Nandini berlari kecil ke balkon, mengintip terlebih dahulu takut ada hal lain. Ia melihat seonggok kain tergeletak didekat kursi, ia bergegas mengambilnya. Ia mengangkat kain tersebut untuk melihat lebih jelas, ternyata jas almamater sebuah kampus.

Nandini menimbang akan menghubungi tetangganya sekarang apa menunggu Gasendra pulang. Nandini melihat ponselnya, pesan yang ia kirim tidak dibalas Gasendra. Akhirnya Nandini menghubungi nomor yang tertera, kasihan kalau harus menunggu.

0812xxxxxxxx

Saya sudah menemukan jas anda.

Send Picture

Tidak ada balasan, Nandini memutuskan untuk menunggu saja. Ia kembali meneruskan menonton drama yang tertunda. Tidak berapa lama bel kembali berbunyi, Nandini menghentikan lagi tayangan drama. Nandini sedikit ragu, ia mengintip lagi ke lubang intip. Tampak seorang pria yang berhoodie hitam seperti sebelumnya, hanya saja ia tidak mengenakan tudungnya. Nandini membuka pintu, menyambut dengan ramah.

"Selamat malam, maaf menganggu waktunya," kata si pria.

"Malam," sahut Nandini.

"Saya pemilik jas yang jatuh. Bolehkah saya mengambil jasnya?" tanya pria itu.

"Ah iya maaf, jasnya didalam. Silahkan masuk akan saya ambilkan," Nandini mempersilahkan pria itu masuk.

Entah apa yang dipikirkan Nandini membiarkan orang asing masuk. Pria itu menunggu Nandini di dekat pintu dengan tetap membiarkan pintu terbuka. Sedangkan Nandini mengambil jas yang ia letakkan di sofa.

"Din!" teriak Gasendra menerobos masuk sedikit menabrak si pria asing.

Nandini terkejut, Gasendra segera menghampiri Nandini, memegang bahunya, memastikan Nandini tidak apa-apa. Gasendra bernapas lega, ia mulai mengatur napas setelah berlari dari tempat parkir dan naik tangga.

"Lo nggak apa-apa?" tanyanya setelah napasnya kembali normal.

"I'm okay," jawab Nandini menenangkan.

"Maaf menunggu lama. Ini jasnya." Nandini menghampiri si pria yang masih menunggu dengan bingung.

"Terima kasih, maaf mengganggu," ucap pria itu sebelum meninggalkan unit.

Gasendra bergegas menutup pintu begitu pria itu keluar tanpa mempedulikan akan terdengar sopan atau tidak. Ia menarik Nandini ke sofa dan mendudukkannya. Gasendra bertumpuh pada kedua kakinya menghadap Nandini. Wajahnya tegang.

"Siapa tadi?"

"Oh itu tetangga atas. Tadi bajunya ada yang jatuh ke balkon. Trus dia ambil," jelas Nandini.

"Trus lo biarin masuk gitu aja? Kan gue udah bilang jangan bukain pintu buat siapapun," omel Gasendra.

"Gue udah nggak bukain tadi. Gue juga udah ngehubungin lo, tapi lo nggak balas pesan gue," ucap Nandini membela diri.

"Gue panik, nggak sempat balas pesan lo. Gue langsung balik pas baca pesan lo. Harusnya tetap nungguin gue. Kalau dia orang jahat gimana?" Nandini melihat kekhawatiran dalam setiap ucapan Gasendra.

"Awalnya gue nggak bukain. Trus dia nyelipin pesan di bawah pintu kalau baju dia ada yang jatuh ke balkon. Pas gue cek beneran ada jas almamater gitu jatuh di balkon. Ya gue hubungin dia, kasian di lagi butuh."

Kita Nikah, Lo Istri GueWhere stories live. Discover now