"Din, bangun!" Gasendra menggoyangkan tubuh Nandini perlahan.
Si empunya tubuh hanya berbalik tanpa ada niat membuka kedua matanya. Gasendra kembali lagi menggoyangkan tubuh Nandini sedikit lebih kuat.
"Din, bangun dong. Lo sekolah nggak sih, nanti telat gue yang disalahin," omel Gasendra dengan suara keras agar Nandini mendengar.
"Gue masih ngantuk Sen," ucap Nandini kembali mengubah posisi tidurnya mencari tempat yang lebih nyaman.
"Pokoknya udah gue bangunin. Jangan salahin gue kalau lo telat," peringat Gasendra.
Gasendra meninggalkan Nandini menuju kamar mandi, membiarkannya melanjutkan tidur. Selesai membersihkan tubuh, ia bersiap ke sekolah sambil sesekali melihat Nandini yang masih tertidur pulas. Ia kembali menghampiri Nandini, mengangkat tubuh atas Nandini membuatnya dalam posisi duduk.
"Din, bangun," Gasendra menepuk-nepuk pipi Nandini hingga ia terpaksa membuka mata.
"Gue nggak suka lo telat apalagi bolos sekolah. Awas aja lo begadang lagi kalau paginya kayak gini," ancam Gasendra.
"Iya, iya, gue bangun. Minggir," dorong Nandini.
"Cepat, lima menit harus udah keluar," ucap Gasendra bersamaan pintu kamar mandi tertutup.
"Gue mandi, bukan cuma pipis doang!" teriak Nandini kesal.
Gasendra tertawa, ia mengecek penampilan di cermin, menyisir rapi rambutnya dan menyemprotkan beberapa parfum. Ia meninggalkan kamar, menuju dapur menyiapkan sarapan kilat untuk mereka berdua. Dua lapis roti dengan selai coklat menjadi pilihannya kali ini. Ia menegak habis kopi yang ia buat saat bangun tadi tepat saat pintu kamar terbuka.
Nandini muncul dengan penampilan yang tidak bisa dibilang rapi, tetapi tidak berantakan juga. Ia meletakkan tas di atas pantry, kedua tangannya merapikan rambut untuk ia kumpulkan jadi satu sebelum diikat rapi dengan jepitan karet favoritnya. Gasendra sendiri sibuk memasukkan sekotak susu coklat ke dalam tas Nandini sambil mulutnya mengunyah roti miliknya. Ia menyuapkan roti lapis bagian Nandini ke mulut yang sudah terbuka sejak tadi.
"Sen!" teriak Nandini dengan mulut penuh saat selai coklat tidak sengaja meleleh mengenai baju seragam miliknya.
"Udah untung gue kasih makan."
Gasendra mengomel alih-alih merasa bersalah. Nandini dengan cepat mengambil tisu yang dibasahi air untuk membersihkan lelehan itu, untung saja hanya bisa dihilangkan meski meninggalkan sedikit noda.
"Nggak ada waktu buat ganti baju, ayo berangkat!"
Gasendra meletakkan tasnya di bahu, dan menarik lengan Nandini untuk menbuatnya bergerak lebih cepat. Waktu tidak akan berhenti saat mereka meributkan hal-hal kecil. Mereka akan terlambat jika tidak berangkat sekarang.
"Nggak perlu naik bus, lo bareng gue," cegah Gasendra saat Nandini menekan tombol lobby.
"Tumben?"
"Gita bareng papanya."
"Tiap hari aja gitu, kan enak gue nggak perlu desak-desakan tiap pagi," gerutu Nandini perlahan.
"Lo sendiri yang nggak mau bareng gue."
"Dan harus dapat tatapan cemburu dari cewek lo, makasih deh. Mending gue naik bus."
***
Nandini mengecek tanggal di ponsel, angka tiga belas tertera pada screenlock ponsel. Pantas saja ia merasa hari ini sial sekali. Diawali pagi ini seragamnya kotor terkena selai, lalu pekerjaan rumah yang susah payah ia kerjakan hingga dini hari malah tertinggal di rumah dan kali ini tamu bulanannya datang tanpa peringatan.
VOUS LISEZ
Kita Nikah, Lo Istri Gue
Romance"Apa untungnya buat gue kalau kita nikah?" selidik Gasendra. "Lo bisa hidup bebas tanpa aturan bokap nyokap lo, bebas keluar kapan pun, mau main kapan aja terserah, terus bebas pacaran juga," jawab Nandini. "Terus?" "Apanya yang terus?" "Cuma itu do...
