3. Jejak yang Tertinggal

38 10 2
                                        

                      ​Dering alarm ponsel membelah kesunyian kamar tamu yang dingin, suaranya melengking seperti sayatan pisau yang menusuk alam bawah sadar Kai

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

                      ​Dering alarm ponsel membelah kesunyian kamar tamu yang dingin, suaranya melengking seperti sayatan pisau yang menusuk alam bawah sadar Kai. Jemarinya bergerak liar dalam pejaman, meraba permukaan nakas yang sedingin es sampai ia menemukan benda pipih yang terus berteriak itu.

​Pukul enam pagi.

​Kai memaksa pelupuk matanya terbuka. Denyut di pelipisnya terasa nyata—efek hanya tidur tiga jam setelah dihajar alkohol dan sisa adrenalin dari pertemuannya dengan Kala semalam. Di sampingnya, atmosfer terasa berat. Arga masih terbungkus mimpi, namun Vier... adalah cerita lain.

​Vier, sang pemilik rumah, sengaja membiarkan Jose yang tak sadarkan diri menempati ranjang di kamar utamanya. Ia memilih tidur berhimpitan di kamar tamu ini, memposisikan dirinya tepat di tengah-tengah. Tubuh kaku Vier berfungsi sebagai pagar hidup, sebuah barikade daging yang memastikan Kai tidak akan melangkah keluar satu inci pun tanpa ia ketahui. Bahkan dalam tidurnya yang tampak tenang, aura posesif Vier tetap menguar kuat; ia tidak sedang tidur, ia sedang berjaga di gerbang nerakanya sendiri.

​Kai menyikut lengan Vier. “Vi, bangun! Minjem handuk, gue mau mandi.” Suara Kai serak, berat, dan hampir habis, beradu dengan sunyi rumah megah yang terasa tuli.

​Tak ada respon berarti dari Vier selain gumaman tidak jelas yang terdengar seperti peringatan. Kai mendengkus. Ia teringat ancaman ayahnya: Telat magang berarti turun kasta jadi Office Boy, atau angkat kaki dari rumah tanpa membawa satu sen pun. Didikan keras keluarga Roberts adalah rantai yang tak kasat mata, tak memberinya ruang untuk bermanja-manja meski kepalanya terasa mau pecah.

​Merasa gerah yang luar biasa karena sisa alkohol yang membakar kulitnya dari dalam, Kai menyentak lepas kaus pinjaman dari Vier yang melekat lembab di tubuhnya. Ia melemparkan kain itu sembarang, lalu melangkah keluar kamar dengan bertelanjang dada. Hanya ada celana panjang yang menggantung rendah di pinggangnya, memamerkan garis pinggul dan otot perut yang menegang karena hawa dingin rumah itu. Kai terlalu dikuasai kantuk dan emosi untuk peduli pada peraturan tak tertulis tentang kesopanan di "sangkar" milik orang lain.

​Langkah kakinya yang polos tidak mengeluarkan suara di atas lantai marmer yang pucat. Rumah ini terasa terlalu luas, terlalu kosong, dan terlalu diawasi. Kai berhenti di wastafel luar kamar mandi dekat dapur.

​Ia menyalakan keran, membiarkan air dingin mengguyur wajahnya dengan kasar. Kai menatap pantulan dirinya di cermin yang dikelilingi bingkai perak tua. Mata bulatnya merah meradang, rambut legamnya berantakan seperti benang kusut. Namun, saat ia menyeka air dari wajahnya, rasa kantuk itu menguap seketika, digantikan oleh sensasi dingin yang merayap dari tulang ekor hingga tengkuk.

​Horor murni.

​Di sudut cermin, dalam pantulan yang temaram, seekor serangga cokelat dengan antena yang bergerak lincah sedang berdiam diri. Makhluk itu tampak seperti noda busuk di tengah kemewahan wastafel marmer milik keluarga Malik.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: 2 days ago ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

GOLDEN CAGEWhere stories live. Discover now