---
Dua minggu berlalu sejak malam di restoran kecil itu. Dua minggu yang terasa seperti dua tahun bagi Jimin—bukan karena berat, tapi karena setiap harinya terasa begitu penuh sehingga waktu seolah melambat. Setiap sentuhan, setiap tatapan, setiap momen kecil bersama Yoongi terasa seperti sesuatu yang ingin dia simpan dalam toples kaca dan diletakkan di rak paling tinggi dalam memorinya, agar tidak pernah hilang.
Tapi hidup sebagai idol tidak pernah memberi ruang untuk berlama-lama dalam satu perasaan. Jadwal mereka padat, hampir gila. Latihan tari pagi, rekaman suara siang, sesi foto sore, rapat produksi malam. Belum lagi perjalanan ke luar negeri yang akan dimulai minggu depan, untuk tur Asia yang sudah dinanti-nantikan penggemar.
Di tengah semua kesibukan itu, Jimin dan Yoongi tetap bertahan pada rutinitas diam-diam mereka.
Rutinitas itu sederhana: Yoongi akan menyisakan satu botol air mineral di tas Jimin setiap pagi sebelum berangkat. Jimin akan memastikan Yoongi makan setidaknya sekali sebelum jam delapan malam. Yoongi akan mengirim pesan singkat "hati-hati" setiap kali Jimin bepergian sendirian. Jimin akan membalas dengan stiker beruang kecil yang selalu membuat Yoongi mendengus pelan di depan ponselnya.
Tidak ada yang dramatis. Tidak ada yang bombastis. Hanya perhatian-perhatian kecil yang terus berulang, seperti detak jam yang tidak pernah berhenti.
Tapi detak jam yang sama itu pula yang mulai terdengar oleh telinga-telinga lain di sekeliling mereka.
---
Hari Selasa, jam menunjukkan pukul tiga sore. Ruang rekaman di lantai tiga gedung HYBE terasa pengap meskipun AC menyala penuh. Jimin baru saja selesai merekam guide vocal untuk lagu baru, dan suaranya serak karena terlalu banyak take. Dia duduk di kursi putar di sudut ruangan, memegang teh jahe hangat yang diberikan staf, dan mencoba mengembalikan energinya yang terkuras.
Pintu terbuka. Yoongi masuk dengan langkah santai, hoodie hitam menutupi hampir separuh wajahnya, tangan di saku celana. Matanya langsung tertuju pada Jimin—seperti biasa, seperti selalu.
"Kedengeran dari luar," kata Yoongi sambil duduk di kursi di sebelah Jimin. "Suaramamu pecah di nada tinggi."
"Ya, aku tahu," jawab Jimin dengan suara serak. "Makanya aku istirahat."
Yoongi tidak menjawab. Dia malah merogoh tas selempangnya yang selalu dibawa ke mana-mana, mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna cokelat, dan meletakkannya di pangkuan Jimin.
"Minum ini."
Jimin mengambil botol itu, membuka tutupnya, dan mencium aroma madu campur jahe yang hangat. "Hyung, kamu bikin ini?"
"Aku beli di toko herbal dekat studio."
"Kamu pergi ke toko herbal? Kamu? Yang jarang banget keluar kecuali untuk jadwal?"
Yoongi memalingkan muka. "Dramamu keterlaluan."
"Hyung, aku serius. Kamu baik banget."
"Sudahlah. Minum."
Jimin tersenyum, lalu menyesap ramuan hangat itu perlahan. Rasanya manis, hangat, dan sedikit pedas—sempurna untuk tenggorokannya yang sakit. Dia menyesap lagi, lalu lagi, sampai setengah botol habis dalam diam.
Di balik kaca studio, produser dan sound engineer sedang berdiskusi. Tapi salah satu dari mereka—seorang pria muda bernama Kang PD—melirik ke arah Yoongi dan Jimin beberapa kali. Bukan karena dia curiga. Tapi karena dia penasaran. Selama bertahun-tahun bekerja dengan BTS, Kang PD belum pernah melihat Yoongi masuk ke ruang rekaman hanya untuk duduk di samping seseorang sambil diam-diam memastikan orang itu minum ramuan herbal.
