BAB SATU

86 9 0
                                        


---

Hujan turun tipis di luar jendela dorm saat Jimin masuk ke ruang tamu dengan rambut masih setengah basah. Dia baru selesai mandi, mengenakan kaus oversized berwarna abu-abu yang sebenarnya bukan miliknya—dia mengambilnya dari tumpukan cucian Yoongi tiga hari lalu dan belum dikembalikan. Kakinya telanjang, menapak lantai kayu dengan langkah pelan seperti kucing yang tidak ingin mengganggu siapa pun.

Padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan semua orang masih terjaga.

Taehyung dan Jungkook sedang bermain game di sofa besar, saling berteriak kecil setiap kali kalah. Jin duduk di kursi samping dengan masker wajah sambil scroll ponsel. Namjoon membaca buku di pojok ruangan, sesekali mengangkat kepala untuk mengomentari sesuatu yang tidak penting. Hoseok sedang meregangkan tubuh di matras yoga dekat jendela.

Dan Yoongi? Yoongi duduk di lantai, bersandar ke sofa, laptop terbuka di pangkuannya. Telinganya ditutupi headphone putih besar, matanya fokus pada layar. Dia sedang mengerjakan mixing untuk lagu baru—semua orang tahu untuk tidak mengganggunya kecuali darurat.

Jimin berjalan melewati Taehyung, lalu tanpa berpikir panjang, tangannya menjangkau kepala Taehyung dan mengacak-acak rambutnya dengan sayang.

"Hyung, rambut aku berantakan!" protes Taehyung tanpa benar-benar marah.

"Sudah dari tadi memang berantakan," balas Jimin sambil tersenyum manis.

Dia melangkah lebih jauh. Jungkook menarik ujung kaus Jimin, memintanya duduk, tapi Jimin hanya tertawa kecil dan melanjutkan langkah. Matanya bergerak mencari tempat yang paling nyaman untuk bersandar, dan tanpa sadar—atau mungkin sadar sekali—kaki Jimin berhenti tepat di samping Yoongi.

Jimin melihat ke bawah. Yoongi tidak menengadah. Matanya masih di layar, jarinya masih mengetuk-ngetuk trackpad.

Tapi bahu Yoongi sedikit bergeser ke kanan. Hanya satu senti. Hampir tidak terlihat.

Jimin duduk. Bukan di sofa, bukan di kursi. Dia duduk di lantai, tepat di samping Yoongi, dengan jarak yang cukup dekat sehingga paha mereka bersentuhan. Kemudian Jimin membungkuk, mengambil remote AC dari lantai, mengatur suhu ruangan, lalu meletakkan remote itu kembali.

Itu alasan yang dibuat-buat. Semua orang tahu remote AC ada di meja, bukan di lantai. Tapi tidak ada yang mengomentari.

Jimin merebahkan kepalanya ke bahu Yoongi.

Yoongi tidak bergerak. Tidak mendorong. Tidak berkata apa-apa.

Hanya ada satu perubahan kecil: tangannya yang tadinya berada di atas keyboard laptop, kini berpindah ke samping—dekat dengan paha Jimin. Tidak menyentuh. Tapi cukup dekat sehingga jika Jimin sedikit bergerak, jari mereka akan bertemu.

Jimin bergerak. Jari kelingking Jimin menyentuh jari kelingking Yoongi.

Dan di sana, dalam keheningan ruang tamu yang dipenuhi suara game dan tawa, sesuatu yang kecil namun berat terjadi tanpa saksi yang benar-benar mengerti.

Kecuali Taehyung.

Taehyung melihat. Dari balik layar televisi, matanya sempat melirik ke arah Jimin dan Yoongi. Bukan karena dia sengaja mengintip, tapi karena dia sudah terbiasa mencari mereka berdua di setiap ruangan—sebuah kebiasaan yang terbentuk entah sejak kapan. Dan malam itu, Taehyung melihat jari kelingking Yoongi melingkar di jari kelingking Jimin dengan lembut, seperti benang yang menyambung dua ujung yang berbeda.

Taehyung tidak berkata apa-apa. Dia hanya tersenyum kecil, lalu kembali berteriak ke Jungkook karena karakternya mati.

---

Normal (Yoonmin)Where stories live. Discover now