Nayrani Winduasmara adalah putri kelima keluarga Kusumadiningrat yang terkenal manja dan kekanak-kanakan.
Seluruh keluarga pun tahu jika gadis berusia 21 tahun itu berkelakuan seperti remaja kurang kasih sayang yang kerap membuat Ayah dan Ibu Kusum...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Angin laut berembus pelan, memainkan ujung gaun putih tulang yang jatuh longgar membungkus tubuh mungil itu. Di hadapan Nayrani Winduasmara, hamparan air asin membentang luas begitu gelap, dingin, nyaris tak bertepi. Laut malam selalu terlihat tenang dari kejauhan. Sama seperti banyak hal yang tampak baik-baik saja selama tidak didekati.
Ia berdiri tanpa alas kaki di bibir pantai rumah peristirahatan keluarga Linggarjati.
Sendirian.
Jemarinya meremas kain gaun di sisi paha hingga kusut, sementara air mata jatuh satu per satu tanpa suara. Tidak ada isak. Tidak ada tangis pecah. Hanya luruh pelan, seperti sesuatu di dalam dirinya yang terlalu lelah untuk terus ditahan.
Hari ini genap satu tahun sejak namanya berubah.
Satu tahun sejak Nayrani Winduasmara Kusumadiningrat resmi menjadi Nayrani Winduasmara Linggarjati. Satu tahun sejak ia sah menjadi istri Damaresh Linggarjati.
Lucu sekali.
Di hari yang seharusnya dipenuhi bunga, pelukan, atau sekadar ucapan selamat ulang tahun pernikahan... Nayrani justru berdiri sendiri di tepi laut, menunggu seseorang yang bahkan belum juga datang.
Atau mungkin memang tidak berniat datang.
Bibir Nayrani bergetar.
Dulu ia mengira menikah akan semudah dongeng sebelum tidur yang sering ia baca diam-diam di bawah selimut. Akan ada suami tampan, rumah besar, makan malam bersama, lalu sepasang lengan yang otomatis memeluk saat ia marah atau menangis.
Damaresh memberinya semua yang ada di daftar itu.
Rumah besar.
Kartu tanpa batas.
Perhiasan.
Kesabaran.
Lelaki itu tidak pernah membentaknya. Tidak pernah melarangnya membeli boneka-boneka aneh yang bahkan tidak muat lagi di lemari. Bahkan hafal rasa macaroon kesukaannya.
Damaresh adalah suami yang nyaris sempurna.
Nyaris.
Karena pada akhirnya Nayrani belajar satu hal yang tidak pernah ditulis dalam dongeng mana pun.
Seorang perempuan selalu tahu saat dirinya disentuh dengan tangan yang lembut, tetapi tidak dengan hati yang pulang.
Nayrani memejamkan mata. Satu nama kembali muncul seperti luka yang menolak sembuh.
Diajeng.
Nama itu hidup diam-diam di sela lemari pakaiannya, di kursi penumpang mobil suaminya, di sisi ranjang mereka setiap malam. Tidak terlihat, tetapi ada. Ia pernah pura-pura tidak peduli. Pernah pura-pura percaya saat Damaresh berkata semuanya sudah selesai.