Di meja kecil ruang tengah, beberapa camilan tersusun rapi. Pancake mini hangat dengan madu yang mengilap di atasnya dan fruit platter berisi potongan apel, kiwi, serta anggur segar. Satu cangkir teh hangat dan segelas susu menemani di sampingnya.
Zahra duduk santai di sofa, satu kakinya dilipat. Di sampingnya, Erik, lebih dekat dari biasanya. Zahra mengambil satu pancake mini, mencelupkannya sedikit ke madu, lalu menggigit pelan. Senyumnya langsung muncul.
"Ini enak banget," gumam Zahra ringan.
Erik melirik ke arah piring itu, lalu ke Zahra. "Kamu suka yang manis sekarang?"
Zahra mengangkat bahu kecil. "Kadang. Tergantung dia juga," jawab Zahra sambil mengusap perutnya pelan.
Erik mengikuti gerakan itu, tangannya ikut menyentuh perut Zahra, lebih lama dari sekadar kebiasaan. "Kalau kamu suka, berarti dia juga nyaman."
Zahra hanya tersenyum. Lalu tiba-tiba bicara lagi. "Kalau nanti dia lahir ...."
Erik menoleh. "Apa?"
Zahra tersenyum kecil. "Kamu bakal jadi papa yang kayak gimana?"
Erik tidak langsung jawab. Dia menyandarkan tubuhnya sedikit, lalu menatap ke depan sebentar sebelum kembali ke Zahra.
"Yang ada di rumah."
Zahra berkedip. "Serius?"
"Iya."
"Kerjaan kamu?"
"Aku atur."
Zahra menggeleng sambil ketawa kecil. "Nggak segampang itu."
Erik menatapnya lagi, kali ini lebih dalam. "Aku bisa buat segampang itu."
Zahra berhenti tertawa.
"Kalau dia lahir nanti ...," Zahra mulai lagi, suaranya lebih pelan, "kamu bakal gendong terus nggak?"
Erik menjawab tanpa pikir panjang. "Iya."
Zahra menggeleng sambil senyum. "Duh ... anaknya dimanja banget nanti."
Erik santai saja. "Memang."
Zahra menatapnya beberapa detik, lalu tertawa kecil lagi.
"Kalau dia nangis tengah malam?"
"Aku bangun."
"Kalau tiap malam?"
"Aku tetap bangun."
Zahra akhirnya diam sebentar, menatap Erik dengan ekspresi tidak yakin. "Capek loh."
Erik mengangkat bahu kecil. "Nggak."
Zahra mencebik, lalu tanpa sadar menyandarkan kepalanya sedikit ke bahu Erik. "Ya udah, kita lihat nanti."
Erik tidak menjauh. Tangannya mengelus perut Zahra. Momen itu terasa sederhana dan nyaman.
Sampai suara pintu depan terbuka.
Zahra menoleh sedikit. "Kayaknya ada yang datang."
Erik sudah berdiri lebih dulu. Beberapa detik kemudian, seorang wanita masuk.
Langkahnya tenang. Tatapannya langsung tertuju ke Zahra.
"Sore, Bu Zahra."
Nada suaranya datar.
Zahra mengangguk pelan. "Sore."
Erik menatap Zahra. "Dia Jena."
Zahra mengangguk, menatap wanita itu lagi. Berbeda dari Maya. Jena lebih diam. Lebih dingin. Jena hanya mengangguk sedikit, lalu mundur satu langkah. Tidak mengganggu, tetapi jelas memperhatikan.
YOU ARE READING
Luka Yang Menggoda
RomanceWARNING 21+ Yasmin Azzahra adalah gadis sederhana, ceria, dan percaya bahwa dunia masih menyisakan kebaikan. Akan tetapi, semua berubah saat hidupnya perlahan digerus oleh kehilangan. Toko bunganya digusur, pekerjaannya hilang, dan ayah yang terlili...
