Chapter 1: The Unwanted Agreement

256 18 0
                                        

Lantai enam puluh dua Moretti Tower bukan sekadar kantor; itu adalah sebuah ekosistem yang dirancang untuk mengintimidasi. Dinding kaca yang membentang dari lantai hingga langit-langit menyuguhkan pemandangan cakrawala kota yang berkabut, sementara lantai marmer hitamnya memantulkan bayangan Isabella Venturi dengan ketajaman yang tidak menyenangkan.

Isabella menyesuaikan letak kacamata berbingkai tipisnya, jemarinya mencengkeram erat tali tas kulit vintage-nya. Ia telah menghadapi dewan direksi yang haus darah dan negosiasi vendor yang alot, namun berjalan menuju pintu kayu ek ganda di ujung lorong ini terasa seperti melangkah menuju tiang gantungan yang sangat mahal.

"Mr. Moretti sedang menunggu Anda, Ms. Venturi," ucap sekretaris di depan pintu dengan nada suara sedatar robot.

Isabella menarik napas panjang, menegakkan bahunya yang terbalut blazer cream yang pas di badan, dan melangkah masuk.

Aroma pertama yang menyambutnya adalah campuran kayu cendana, kopi espresso pahit, dan sesuatu yang berbau seperti kekuasaan murni. Di balik meja kerja minimalis yang luasnya hampir menyamai luas apartemen pertama Isabella, duduklah pria itu.

*𝙇𝙤𝙧𝙚𝙣𝙯𝙤 𝙈𝙤𝙧𝙚𝙩𝙩𝙞 𝘼𝙡𝙚𝙨𝙨𝙖𝙣𝙙𝙧𝙤.*

Nama itu sering muncul di kolom bisnis sebagai "Si Jenius Bertangan Besi" dan sesekali di kolom gosip sebagai "Lajang Paling Tidak Tergapai". Lorenzo tidak mendongak saat Isabella masuk. Ia tetap fokus pada tablet di tangannya, jemarinya bergerak cepat dengan efisiensi yang mematikan. Cahaya sore menyinari rahangnya yang tegas dan rambut gelapnya yang tertata rapi, memberikan kesan bahwa ia dipahat dari batu granit, bukan dilahirkan.

"Tepat waktu," suara Lorenzo rendah, bariton yang menggetarkan udara di ruangan yang sunyi itu. "Duduklah, Isabella."

Isabella tidak suka bagaimana pria itu menyebut namanya—tanpa gelar, tanpa formalitas, seolah-olah ia sudah menjadi miliknya. "Terima kasih, Mr. Moretti. Tapi saya lebih suka kita langsung ke intinya. Saya di sini karena pengacara keluarga saya mengatakan ada masalah mendesak terkait merger Venturi Logistics."

Lorenzo akhirnya mendongak. Matanya yang berwarna abu-abu gelap, setajam silet, mengunci pandangan Isabella. Tidak ada kehangatan di sana. Hanya kalkulasi dingin.

"Masalah mendesak adalah pernyataan yang terlalu halus," Lorenzo meletakkan tabletnya dan mendorong sebuah map kulit tipis ke arah Isabella. "Perusahaan ayahmu berada di ambang likuidasi. Utang-utang lama yang disembunyikan di bawah karpet selama satu dekade mulai muncul ke permukaan. Dalam tiga bulan, Venturi Logistics akan dinyatakan bangkrut. Dan kau, sebagai pewaris tunggal, akan menanggung seluruh bebannya."

Darah Isabella seolah surut dari wajahnya. Ia tahu keadaan sedang sulit, tapi "bangkrut? Itu tidak mungkin. Kami baru saja mengamankan kontrak dengan pihak pelabuhan—"
"Kontrak yang aku batalkan pagi ini," potong Lorenzo dengan nada santai, seolah ia baru saja membicarakan cuaca.

Isabella berdiri mendadak, kursinya berderit keras di atas marmer. "Kau apa? Kau sengaja menyabotase kami?"

"Aku menyelamatkan kalian dari penderitaan yang berkepanjangan," Lorenzo ikut berdiri. Ia jauh lebih tinggi dari yang Isabella bayangkan.

Kehadirannya mendominasi ruangan, membuat Isabella merasa kecil meskipun ia memakai sepatu hak tinggi sepuluh sentimeter. "Aku bisa melunasi semua utang itu dalam semalam. Aku bisa mengembalikan kejayaan Venturi Logistics. Tapi, tentu saja, tidak ada yang gratis di dunia ini."

"Apa maumu?" desis Isabella. "Uang? Kau sudah punya terlalu banyak. Saham? Kau bisa membelinya di pasar terbuka."

Lorenzo berjalan memutari mejanya, mendekat hingga ia berada di ruang pribadi Isabella. Ia mengeluarkan selembar kertas dari map tadi. Sebuah dokumen dengan judul yang mencolok: **CONTRACT OF STRATEGIC ALLIANCE.**

"Aku tidak butuh uangmu, Isabella. Aku butuh citra," Lorenzo menjelaskan, matanya menatap intens ke arahnya. "Dewan komisaris Moretti Group menganggapku terlalu 'agresif' dan 'tidak stabil' untuk memimpin ekspansi global tahun depan. Mereka menginginkan sosok pendamping yang bisa melembutkan citraku. Seseorang yang cerdas, memiliki reputasi bersih, dan berasal dari keluarga lama yang dihormati."

Isabella mengerutkan kening, firasat buruk mulai merayap di tengkuknya. "Maksudmu..."

"Kau akan bekerja sebagai konsultan senior di kantorku selama dua belas bulan ke depan. Secara resmi, kau adalah otak di balik restrukturisasi logistik Moretti. Secara tidak resmi..." Lorenzo menjeda, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang tidak mencapai matanya. "Kita akan bertunangan. Dunia harus melihat bahwa Lorenzo Moretti telah dijinakkan oleh seorang Venturi yang brilian."

Isabella tertawa hambar, suara yang terdengar asing di telinganya sendiri. "Kau gila. Ini bukan abad pertengahan. Aku punya karier sendiri, ambisi sendiri. Aku tidak akan menjadi aksesori di lenganmu hanya karena kau punya masalah dengan dewan komisaris."

"Kariermu akan mati bersama perusahaan ayahmu, Isabella," Lorenzo mengingatkan dengan kejam. "Pikirkan ini sebagai investasi. Dua belas bulan. Setelah itu, Venturi Logistics bersih dari utang, kau mendapatkan modal segar untuk mengembangkan usahamu sendiri, dan kita berpisah sebagai rekan bisnis."

Lorenzo menyodorkan pena emas ke arahnya. "Atau, kau bisa keluar dari pintu itu sekarang dan melihat rumah keluargamu disita minggu depan. Pilihan ada di tanganmu, Independent Woman."

Isabella menatap pena itu, lalu menatap Lorenzo. Ia membenci pria ini. Ia membenci bagaimana Lorenzo bisa membaca situasinya dengan begitu akurat. Ia membenci bagaimana aroma parfum Lorenzo mulai mengaburkan logika sehatnya.

Namun, Isabella Venturi adalah seorang petarung. Jika ia harus masuk ke dalam kandang singa untuk menyelamatkan warisan keluarganya, maka ia akan melakukannya dengan kepala tegak.

Ia menyambar pena itu dari tangan Lorenzo.

"Satu syarat," ucap Isabella tajam. "Ini murni bisnis. Jangan harap aku akan berperan sebagai tunangan yang tunduk dan manis di depan kamera. Jika kau menuntut profesionalisme, maka aku akan memberimu profesionalisme yang paling dingin yang pernah kau rasakan."

Lorenzo menatapnya dengan minat yang baru, seolah-olah ia baru saja melihat seekor kucing rumahan yang tiba-tiba mengeluarkan cakar harimau.

"Aku tidak pernah suka sesuatu yang mudah, Isabella," bisik Lorenzo.
Dengan gerakan cepat dan tegas, Isabella membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut.

The Devil’s Contract. Ia baru saja menjual jiwanya pada iblis yang mengenakan setelan jas buatan Italia.

"Selamat datang di neraka, Mr. Moretti," ucap Isabella sambil meletakkan pena itu kembali ke meja dengan denting keras.

Lorenzo hanya tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang membuat jantung Isabella berdetak tidak keruan—entah karena marah, atau karena sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

"Kita mulai besok pagi, jam tujuh. Jangan terlambat, Fiancée."

Isabella berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi, mencoba mengabaikan rasa panas yang menjalar di punggungnya saat ia tahu Lorenzo masih menatapnya hingga pintu tertutup rapat. Perang baru saja dimulai.

The Devil's ContractTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang