Dalam dunia yang diatur oleh insting, mereka berdua adalah penyimpangan yang saling menarik. Sebab terkadang, takdir tidak lahir dari darah... melainkan dari aroma yang saling mengenali.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Pada masa kini, di sebuah dunia yang tak berbeda jauh dari bumi manusia, sistem sosial berbasis insting genetik telah diakui sebagai bagian dari realitas biologis.
Manusia tidak lagi sekadar terbagi oleh ras, bangsa, atau kedudukan sosial, melainkan oleh kasta dominansi yang tertanam dalam struktur gen mereka.
Sistem itu dikenal dengan nama A/B/O — singkatan dari
Alpha, Beta, dan Omega.
Ketiganya membentuk keseimbangan yang rapuh namun mutlak dalam peradaban modern.
Alpha, lahir dengan kadar feromon tinggi, merupakan kasta dominan. Mereka memiliki daya kendali alami yang mampu memengaruhi lingkungan sekitarnya. Kebanyakan dari mereka menduduki posisi puncak dalam hierarki sosial seperti Pemimpin korporasi, pejabat, akademisi, dan individu berkuasa.
Feromon Alpha sering kali digambarkan kuat, menekan, atau menggoda—aroma yang menggetarkan naluri lawan jenis, bahkan mampu menimbulkan efek ketundukan pada Omega yang peka terhadapnya.
Beta, yang jumlahnya paling banyak, menjadi penghubung antara dua kasta ekstrem. Mereka hidup dengan stabilitas emosi dan fisiologi paling dekat dengan manusia normal. Beta tak memiliki pengaruh feromon yang kuat, namun juga tidak terpengaruh secara langsung oleh aroma dominansi Alpha atau Omega.
Omega, di sisi lain, merupakan kasta yang paling peka terhadap ikatan naluriah. Mereka mampu mengalami masa subur yang disebut heat cycle, di mana feromon mereka meningkat drastis dan mengundang reaksi dari Alpha di sekitarnya. Dalam sistem biologis yang telah dikaji secara ilmiah, baik Omega perempuan maupun laki-laki memiliki organ reproduksi sekunder yang memungkinkan proses konsepsi—sebuah fenomena yang dahulu dianggap mustahil.
Ikatan antara Alpha dan Omega biasanya ditandai oleh proses yang disebut marking, suatu penanda kimia dan emosional yang membentuk bond mendalam antara dua individu.
Namun, di luar tiga kasta utama itu, ada satu anomali yang masih dianggap sebagai mitos oleh sebagian ilmuwan dan masyarakat modern.
Kasta keempat yang tidak tercatat dalam buku-buku genetik resmi, namun keberadaannya mengguncang keseimbangan seluruh sistem.
Mereka disebut Enigma.
Enigma bukan Alpha, bukan pula Omega.
Mereka memiliki ciri dominansi yang tak dapat diukur, namun juga daya reseptif yang melampaui batas normal. Feromon mereka tidak menekan, melainkan menenangkan—seakan menyesuaikan diri terhadap aroma lawannya dan mengendalikannya perlahan dari dalam.
Beberapa catatan medis menyebut bahwa keberadaan Enigma mampu menonaktifkan insting dominansi Alpha, bahkan menekan heat cycle Omega hanya dengan kontak fisik ringan. Kekuasaan mereka bersifat psikis, bukan fisik. Ikatan yang tercipta dengan Enigma dikenal sebagai Bond Psikologis, sebuah hubungan yang tidak selalu berakar pada ketertarikan naluriah, melainkan pada resonansi emosi yang dalam dan nyaris supranatural.