PROLOG: SANGKAR KACA ADIGUNA

1.5K 31 0
                                        

Sore itu, langit Jakarta seolah terbakar, menyisakan warna jingga kemerahan yang memantul di permukaan dinding kaca sebuah gedung pencakar langit di kawasan SCBD. Di lantai paling atas, di dalam sebuah ruangan yang didominasi oleh marmer hitam dan kayu jati gelap, suasana terasa begitu sunyi—sunyi yang mencekam.

Liora berdiri mematung di depan jendela besar yang menampilkan siluet kota. Ia mengenakan gaun sutra tipis yang jatuh sempurna di lekuk tubuhnya. Parasnya, yang sering kali disebut sebagai mahakarya Tuhan yang terlalu indah untuk dunia yang fana, kini tampak layu. Matanya yang bulat dan bening menatap nanar ke arah jalanan di bawah sana, tempat orang-orang bebas berjalan tanpa rasa takut.

"Indah, bukan?"

Sebuah suara bariton yang berat memecah keheningan. Tak perlu menoleh, Liora tahu siapa pemilik suara itu. Langkah kaki yang tegas namun tenang itu mendekat.

Arya Adiguna.

Sepasang tangan kekar melingkar di pinggang Liora, menarik punggung kecil gadis itu untuk bersandar di dada bidangnya. Arya membenamkan wajahnya di ceruk leher Liora, menghirup dalam-dalam aroma vanila dan mawar yang selalu memabukkannya.

"Dunia di bawah sana terlalu bising, Liora. Terlalu kotor untuk kaki kecilmu. Di sini... kau aman. Di sini, tidak ada mata lelaki lain yang berani mengulitimu dengan tatapan mereka," bisik Arya, suaranya terdengar seperti pemujaan sekaligus ancaman.
Liora memejamkan mata, merasakan cengkeraman tangan Arya yang posesif. "Sampai kapan, Mas? Sampai kapan aku harus bersembunyi di balik kaca ini?"

Arya memutar tubuh Liora dengan satu sentakan lembut namun tak terbantahkan. Ia mencengkeram ini dagu Liora, memaksa mata madu itu menatap langsung ke dalam obsidian hitam miliknya yang penuh dengan kegilaan.

"Sampai kau mengerti bahwa kau adalah milikku. Napasmu, detak jantungmu, bahkan setiap inci kulitmu adalah teritoriku. Aku tidak membagimu dengan dunia, Liora. Karena bagiku, kau bukan manusia... kau adalah nyawaku yang kupenjarakan demi keselamatanku sendiri."

Di bawah temaram lampu kristal yang mewah, Liora menyadari satu hal: cinta Arya bukanlah pelabuhan, melainkan badai yang telah menenggelamkannya ke dasar samudera paling dalam.



A NOTE FROM AUTHOR
Halo semuanya! Selamat datang di dunia OBSESI SANG ADIGUNA: PENJARA PARAS ELOK. Nama saya Clara, penulis di balik kisah pelik antara Arya dan Liora ini.

Sebelum kalian melangkah lebih jauh ke bab-bab selanjutnya, saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang tulus. Sebagai manusia biasa yang juga sedang berjuang di dunia nyata, saat ini saya sedang menempuh masa-masa kritis mengerjakan Skripsi.

Oleh karena itu, saya mungkin tidak bisa update (up) cerita ini secepat yang kalian harapkan. Proses riset dan penulisan setiap bab yang detail membutuhkan waktu dan energi ekstra, sementara jadwal bimbingan dosen seringkali tidak bisa diajak kompromi.

Saya harap kalian bisa bersabar dan tetap setia menantikan kelanjutan kisah ini. Dukungan dan komentar kalian adalah bensin bagi saya untuk tetap menulis di sela-sela tumpukan revisi skripsi.

Selamat membaca, dan bersiaplah masuk ke dalam sangkar emas Arya Adiguna!

Salam hangat,
Clara

OBSESI SANG ADIGUNA (END)Where stories live. Discover now