Prolog: Runtuhnya Menara Pasir

16 3 9
                                        

Kepalaku rasanya seperti dipukul palu godam dari dalam. Denyutnya bukan lagi sekadar nyeri biasa yang bisa diusir dengan obat warung seharga dua ribu perak. Ini berbeda. Pandanganku berkunang-kunang, membuat tumpukan kardus di gudang ekspedisi tempatku bekerja ini tampak bergoyang, meleleh seperti lilin yang terpapar panas matahari Banjarmasin yang menyengat siang ini.

“Dam! Awas!”

Teriakan Hendra terdengar jauh sekali, seolah dia berteriak dari dasar sumur.

Aku mencoba mengerjapkan mata, berusaha mengembalikan fokus pada kemudi forklift yang sedang kupegang. Namun, tubuhku mengkhianati perintah otakku. Tiba-tiba saja, dunia menjadi gelap gulita. Hening. Hilang.

BRAKK!

Suara benturan keras menyentakku kembali ke alam sadar. Rasanya aku hanya hilang kesadaran selama dua detik, tapi kerusakan yang terjadi di depanku sudah tak terelakkan. Forklift yang kukendarai menabrak tumpukan keramik impor yang siap kirim. Pecahan keramik berserakan di lantai gudang, serpihannya berkilauan mengejek nasibku.

Napas tersengal, aku turun dengan kaki gemetar. Keringat dingin membasahi punggung seragamku yang sudah lusuh.

“Kamu ini niat kerja atau mau menghancurkan perusahaan, hah?!” Suara Pak Gunadi, kepala gudang, menggelegar membelah keheningan gudang yang kini dipenuhi tatapan para kuli angkut lain.

“Maaf, Pak… Saya… kepala saya tiba-tiba pusing sekali,” cicitku, suaraku terdengar menyedihkan bahkan di telingaku sendiri. Aku memegangi pelipis yang masih berdenyut gila-gilaan.

Pak Gunadi meludah ke samping, wajahnya merah padam menahan amarah. “Pusing, pusing, pusing! Itu saja alasanmu, Adam! Bulan ini sudah berapa kali kamu izin sakit? Berapa kali kamu melakukan kesalahan karena alasan ‘pusing’ itu? Kamu pikir ini yayasan sosial?”

“Saya janji akan ganti rugi, Pak. Potong gaji saya bulan ini tidak apa-apa,” aku memohon, merapatkan kedua telapak tangan. Aku membayangkan wajah Nanda di rumah. Uang belanja bulan ini sudah menipis, tapi aku tak punya pilihan.

Pak Gunadi tertawa sinis, tawa yang meremukkan sisa harga diriku sebagai seorang laki-laki. “Ganti rugi? Gaji kamu setahun pun belum tentu cukup buat ganti keramik ini! Dengar ya, Adam. Saya sudah cukup sabar. Perusahaan butuh orang yang sehat, yang kuat angkut barang, bukan orang penyakitan yang kerjanya cuma bikin rugi kayak kamu!”

Kata ‘penyakitan’ itu menghunjam dadaku lebih sakit daripada denyutan di kepala.

“Mulai hari ini, kamu kemasi barang-barangmu. Kamu saya pecat. Pesangonmu dipakai buat ganti rugi keramik ini. Pergi!”

Dunia seakan runtuh untuk kedua kalinya hari ini. Aku menoleh ke arah Hendra. Sahabatku itu menatapku dengan mata berkaca-kaca, ingin membela tapi tak berdaya. Aku hanya tersenyum tipis padanya, senyum getir yang menyiratkan, ‘Aku tidak apa-apa’, padahal jiwaku sedang hancur lebur.

Perjalanan pulang ke rumah kontrakan kami di gang sempit daerah Kelayan terasa sangat panjang. Motor tuaku menderu pelan, seolah turut merasakan beban yang dipikul tuannya. Langit Banjarmasin mulai jingga, suara azan ashar bersahutan dari kejauhan, tapi hatiku tak tenang.

Bagaimana aku mengatakan ini pada Nanda?

Hubungan kami sudah retak beberapa bulan terakhir. Masalah ekonomi menjadi hantu yang mencekik keharmonisan rumah tangga kami. Nanda yang dulu lembut, kini berubah menjadi wanita yang mudah meledak. Dan aku tak bisa menyalahkannya. Kemiskinan memang bisa mengubah malaikat menjadi pemarah.

Aku memarkirkan motor di depan rumah kayu bercat biru yang catnya sudah mengelupas di sana-sini. Hening. Biasanya jam segini Muthia sudah ribut menyambutku, atau setidaknya ada aroma masakan.

Nak, Ini Pesan Terakhir AyahHistórias para pegar e não largar. Descubra agora