01

1.2K 113 5
                                        

Siang itu, SMA Cakrawala seperti biasa tidak pernah mengenal kata tenang. Lapangan basket indoor yang terletak di tengah kompleks sekolah itu penuh sesak. Teriakan histeris dari pinggir lapangan menggema, memantul di dinding-dinding beton tinggi, menciptakan kebisingan yang nyaris memekakkan telinga.

​Pusat dari kegaduhan itu hanya satu: Kendry Mahendra.

​Laki-laki itu bergerak lincah di tengah lapangan. Keringat membasahi jersey nomor punggung 07 miliknya, membuat kain itu menempel pada otot punggungnya yang tegap. Kendry tidak banyak bicara. Ekspresinya datar, dingin, dan nyaris tanpa emosi meski ia baru saja melakukan three-point shoot yang sempurna. Sepasang matanya yang tajam hanya fokus pada bola dan ring.

​"GO KENDRY! HABISIN!" Alicia berteriak paling kencang di bangku penonton baris depan.

Gadis itu berdiri, melambaikan tangan dengan semangat yang berlebihan. "GILA! CAKEP BANGET SI KAPTEN GUE!"

​Cley, yang duduk di sebelah Alicia, hanya melirik sekilas sebelum kembali menyesap susu kotak cokelatnya. Wajahnya tenang, tapi auranya cukup untuk membuat orang di belakangnya tidak berani ikut berteriak.

"Berisik, Al. Suara lo kayak toa masjid rusak," gumam Cley datar. Kalimat singkat itu sukses membuat Alicia cemberut dan mengerucutkan bibirnya, meski ia tahu Cley tidak pernah main-main kalau sudah menegur.

​Arga, yang berdiri di antara keduanya, hanya bisa menghela napas panjang. Ia meletakkan tangannya di bahu Alicia agar gadis itu duduk kembali. "Duduk, Al. Malu dilihatin anak-anak lain. Lo juga Cley, jangan pedas-pedas kalau ngomong," bisik Arga menengahi.

​Kendry di lapangan tidak peduli dengan keributan teman-temannya. Ia menerima operan bola, melakukan dribble cepat melewati lawan, lalu melompat untuk melakukan lay-up. Namun, di saat yang bersamaan, perhatiannya teralih sekejap oleh sekelompok orang yang baru saja memasuki pintu besar di ujung lapangan.

​Gerakan Kendry sedikit meleset. Bola basket itu menghantam pinggiran ring dengan keras, memantul liar ke arah pintu keluar.

​"AWAS!"

​Teriakan itu terlambat.

​Suasana yang tadinya ricuh mendadak mati. Seperti kaset yang diputar lalu diputus kabelnya secara paksa. Hening yang mencekam menyergap seluruh sudut lapangan basket.

​Bola basket itu menghantam tepat di bahu seorang laki-laki yang baru saja melangkah masuk. Kekuatannya cukup besar hingga membuat iPad yang dipegang laki-laki itu hampir terlepas dari tangannya.

Samuel Cedric.

​Samuel berdiri mematung. Di belakangnya, dua orang anggotanya, Jordan, dan Aksa langsung memasang badan dengan wajah yang mengeras. Kehadiran mereka saja sudah cukup untuk mengintimidasi seisi sekolah, apalagi jika sang pemimpin 'disenggol' secara fisik.

​Samuel perlahan menurunkan iPad-nya. Wajahnya luar biasa tenang, namun matanya yang sehitam jelaga memancarkan hawa dingin yang bisa membekukan siapapun yang beradu pandang dengannya. Ia tidak meringis kesakitan, ia tidak marah-marah. Ia hanya diam, menatap bola yang menggelinding menjauh di lantai kayu.

​Kendry tidak mundur. Alih-alih merasa takut seperti siswa lainnya, sang kapten basket itu berjalan tenang mendekati kerumunan geng Samuel. Sepatu basketnya berdecit di lantai yang sunyi, menciptakan irama yang membuat jantung orang-orang yang menonton seolah ikut berdegup kencang.

​Jordan, yang bertubuh paling besar di antara mereka, sudah hendak maju selangkah untuk melabrak Kendry, namun Samuel mengangkat tangannya sedikit, memberi tanda agar teman-temannya tetap di tempat.

​Kendry berhenti tepat di depan Samuel. Jarak mereka sangat dekat, cukup dekat untuk mencium aroma maskulin masing-masing yang bercampur dengan udara dingin AC lapangan.

​Kedua laki-laki itu saling tatap. Dua kutub yang sama-sama beku kini bertemu di satu titik koordinat. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang berkedip. Lapangan basket yang tadinya adalah tempat paling berisik di SMA Cakrawala, kini berubah menjadi ruang hampa udara.

​Tanpa aba-aba, Kendry mengulurkan tangannya. Bukan untuk mengambil bola, melainkan untuk meraih pergelangan tangan Samuel.

​Tindakan itu membuat Juna dan Aksa terperanjat. "Eh, lo ngapain?!" gertak Aksa, namun lagi-lagi Samuel tetap diam, membiarkan tangan Kendry menyentuh kulitnya.

​Kendry menarik tangan Samuel sedikit lebih tinggi, matanya yang tajam menunduk, memperhatikan dengan saksama punggung tangan dan lengan Samuel yang terkena hantaman bola tadi. Ia mengecek dengan detail, seolah sedang memindai apakah ada memar atau luka gores di sana.

Gerakannya terkesan protektif sekaligus sangat asing bagi seseorang yang dikenal kaku seperti Kendry.

​Setelah memastikan tidak ada luka serius, Kendry mengangkat wajahnya kembali. Ia menatap langsung ke dalam manik mata Samuel yang masih sedingin es.

​"Maaf," ucap Kendry. Suaranya rendah, bariton, dan sangat stabil.

"Gue nggak sengaja. Ada yang sakit?"

​Samuel tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan tangan Kendry yang masih melingkar di pergelangan tangannya. Ada rasa hangat yang aneh merambat dari sana, kontras dengan udara dingin di sekitar mereka. Samuel menarik tangannya perlahan, melepaskan cengkeraman Kendry dengan gerakan yang elegan namun tegas.

​"Hati-hati kalau main," sahut Samuel singkat.

Suaranya tidak kalah dingin, nyaris tanpa nada.
​Ia kemudian memperbaiki letak iPad di pelukannya, lalu melirik sekilas ke arah teman-temannya. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Samuel melanjutkan langkahnya melewati Kendry seolah kejadian barusan hanyalah gangguan kecil yang tidak berarti.
​Jordan dan yang lainnya menatap Kendry dengan tatapan memperingatkan sebelum menyusul pemimpin mereka.

​Kendry masih berdiri di tempatnya. Ia tidak berbalik, namun tangannya perlahan mengepal, masih merasakan sisa suhu tubuh Samuel di telapak tangannya. Di pinggir lapangan, Alicia melongo lebar, Cley berhenti meminum susunya dengan kening berkerut, dan Arga hanya bisa memegangi kepalanya, sadar bahwa sesuatu yang besar baru saja dimulai.

​Samuel terus berjalan keluar menuju koridor, namun langkahnya sempat melambat tepat sebelum ia benar-benar menghilang di balik pintu. Ia tidak menoleh, tapi pikirannya tertinggal di tengah lapangan, pada tatapan mata laki-laki yang baru saja memegang tangannya tadi.

​Suasana di lapangan masih hening. Tak ada yang berani berteriak lagi. Pertemuan yang tak disengaja itu meninggalkan tanda tanya besar yang menggantung di udara, lebih berat dari sekadar bola basket yang meleset.











tbc

buat visual ada di percakapan.

 Hate or love | completed Where stories live. Discover now