chapter 1

99.3K 4.7K 54
                                        

Happy Reading

"Bila, mandinya cepetan atuh, periasnya udah datang," ucap Ibunya dari luar kamar mandi, suaranya terdengar sedikit terburu-buru.

Tak ada jawaban.

Rumah yang sejak tadi ramai oleh persiapan mendadak terasa aneh, terlalu sunyi di bagian belakang. Bu Ani mengernyit, lalu melangkah mendekat ke pintu kamar mandi. Ia menempelkan telinganya ke permukaan pintu yang dingin, berharap mendengar suara gemericik air atau sekadar sahutan dari dalam.

Hening.

"Bil..." panggilnya lagi, kali ini lebih pelan, namun penuh kekhawatiran.

Tetap tak ada jawaban.

Jantung Bu Ani mulai berdegup lebih cepat. Tangannya gemetar saat ia mengetuk pintu, awalnya pelan, lalu semakin keras. "Bila! Buka pintunya!" serunya, suara mulai meninggi.

Tak ada respon.

Rasa panik perlahan merambat, menjalar dari dada hingga ke ujung jemari. Dengan tergesa, Bu Ani berbalik dan memanggil suaminya. "Pak! Pak, coba ke sini, pintunya nggak dibuka!"

Suaminya datang bersama beberapa orang lain yang ada di rumah. Tanpa banyak bicara, mereka mencoba membuka paksa pintu kamar mandi yang terkunci dari dalam. Dorongan demi dorongan terdengar keras, memecah kesunyian rumah.

BRAK!

Pintu akhirnya terbuka.
Namun, yang terlihat justru membuat semua orang terdiam.

Kamar mandi itu kosong.

Tak ada Bila di sana.

Hanya sebuah handuk yang masih tergantung di paku, bergoyang pelan seolah baru saja tersentuh. Di sudut lain, jendela kamar mandi tampak rusak, kacanya pecah dan bingkainya terbuka ke arah luar, membiarkan angin malam masuk dengan bebas.

Udara dingin tiba-tiba terasa menusuk.

"Bila...?" suara Bu Ani bergetar, nyaris tak terdengar.

Matanya menyapu setiap sudut ruangan, seolah berharap anaknya hanya bersembunyi atau bercanda. Namun kenyataan di depan mata terlalu jelas untuk disangkal.

"BILAAA!!"

Teriakan itu pecah, penuh keputusasaan, menggema hingga ke seluruh rumah. Tubuh Bu Ani melemas seketika, kakinya tak lagi mampu menahan beban. Ia jatuh terduduk di lantai yang dingin, air mata mengalir deras tanpa bisa dibendung.

Suasana yang tadinya hangat oleh persiapan, kini berubah mencekam dipenuhi rasa takut dan tanda tanya yang menggantung di udara.


~~~~~~~~~~


"Bian nggak mau, Pak!" tolaknya mentah-mentah, suaranya tegas meski terdengar bergetar.

Ruangan itu terasa pengap. Lampu kuning redup menggantung di tengah, menambah suasana tegang yang sejak tadi tak kunjung reda.

"Bapak mohon, Bian... demi keluarga kita," ucap Pak Amar lirih. Suaranya berat, seolah setiap kata yang keluar membawa beban yang tak ringan.

Bian menunduk, rahangnya mengeras. Demi apa pun, ia tidak tega melihat kedua orang tuanya sampai harus memohon seperti itu. Namun, di sisi lain, hatinya menolak keras. Ia tidak ingin menggantikan posisi kakaknya, menikah dengan orang yang bahkan bukan pilihannya sendiri.

Ia menarik napas panjang, mencoba menahan emosi yang bergemuruh di dalam dada.

"Bagaimanapun Bian ini laki-laki, Pak..." suaranya mulai melemah, tapi tetap penuh penekanan. "Walaupun di desa kita hal begitu udah nggak aneh lagi, Bian tetap nggak mau."

Suasana kembali hening. Hanya terdengar suara kipas angin tua yang berdecit pelan di sudut ruangan.

"Bapak bilang sama keluarga Pak Tama kalau Kak Bila kabur dan pernikahannya nggak jadi. Pasti mereka ngerti, Pak..." lanjut Bian pelan, seolah mencoba mencari jalan keluar yang paling masuk akal.

Pak Amar menggeleng pelan. Wajahnya tampak lelah, garis-garis di dahinya semakin jelas.

"Bapak sudah telepon Pak Tama," katanya, suaranya datar namun menyiratkan sesuatu yang lebih berat. Ia menatap Bian dalam-dalam. "Dan beliau tetap ingin pernikahan ini dilanjutkan... walaupun itu kamu, Bian."
Kalimat itu menggantung di udara.

Seakan waktu berhenti sesaat, meninggalkan Bian dalam diam yang menyesakkan.

~~~~~~~~~~

TBC
Silahkan vote dan komennya!
⭐⭐⭐

PENGGANTIStories to obsess over. Discover now