Aroma biji kopi yang baru dipanggang selalu menjadi candu bagi Hana. Baginya, Kedai Kopi "Nostalgic" bukan sekadar tempat untuk menyesap kafein, melainkan tempat perlindungan. Di sudut meja kayu favoritnya—dekat jendela besar yang menghadap langsung ke jalanan kota yang sibuk—Hana merasa dunianya lengkap. Di atas meja itu, berserakan peralatan "perang"-nya: sebuah tablet grafis, beberapa pensil sketsa, penghapus yang sudah mengecil, dan segelas iced latte dengan bintik-bintik embun di dinding gelasnya.
Hana adalah seorang ilustrator lepas yang hidup di antara spektrum warna pastel. Dunianya penuh dengan merah muda stroberi, ungu lavender, dan kuning mentega. Hari ini, ia sedang mengejar tenggat waktu yang sangat krusial. Sebuah kompetisi ilustrasi tingkat nasional bertema "Keajaiban dalam Keseharian" akan ditutup dalam tiga hari, dan Hana baru saja menemukan nyawa untuk karakternya: Mimi, si kelinci kecil yang menari di atas kelopak bunga sakura.
"Sedikit lagi, Mimi. Jangan bergerak," gumam Hana pelan, seolah karakter di layar tabletnya bisa mendengar.
Jemarinya bergerak lincah di atas permukaan kaca tablet. Setiap goresan garis yang ia buat adalah hasil dari ribuan jam latihan dan mimpi untuk memiliki studio desain sendiri. Hana ingin membuktikan pada dunia bahwa warna-warna lembut yang ia cintai bukan sekadar "warna anak-anak", tapi memiliki kekuatan untuk menyembuhkan hati yang lelah.
Di luar jendela, matahari sore mulai turun, membiaskan cahaya oranye yang hangat ke dalam kedai. Hana mendongak sejenak, mengagumi bagaimana cahaya itu menyentuh permukaan mejanya. Momen seperti ini biasanya memberinya inspirasi tambahan. Ia meraih gelas latte-nya, meminumnya sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang kering, lalu kembali fokus.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Pintu kedai berdenting keras, menandakan seseorang masuk dengan terburu-buru. Hana tidak menoleh, ia terlalu asyik dengan detail bulu Mimi yang halus. Ia tidak menyadari bahwa seseorang dengan langkah lebar dan aura yang berat sedang bergerak ke arahnya. Pria itu sibuk menunduk, matanya terpaku pada layar kamera DSLR yang tergantung di lehernya, jari-jarinya sibuk menekan tombol preview dengan tidak sabar.
Lalu, bencana itu terjadi dalam hitungan detik.
Laki-laki itu, yang tampak tidak memperhatikan jalan karena terlalu fokus pada hasil fotonya, tersandung kaki meja kayu Hana yang sedikit menonjol. Tubuhnya yang jangkung limbung ke depan. Untuk menjaga keseimbangannya, ia refleks bertumpu pada pinggiran meja Hana.
BRAK!
Goncangan itu cukup keras untuk membuat meja kecil itu bergeser. Gelas iced latte milik Hana yang masih terisi tiga perempat penuh, bergoyang hebat sebelum akhirnya kehilangan keseimbangan dan terguling tepat di atas tablet grafis dan tumpukan kertas sketsa manual yang diletakkan Hana di sampingnya.
"ASTAGA!" Hana memekik, suaranya melengking di antara musik jazz pelan yang mengalun di kedai.
Darah Hana seolah berhenti mengalir saat melihat cairan cokelat susu itu mulai membanjiri layar tabletnya yang masih menyala. Cairan itu merembes cepat ke sela-sela tombol, lalu dengan rakusnya menjalar ke lembaran kertas sketsa yang berisi coretan ide-idenya selama seminggu terakhir. Kertas-kertas itu melengkung, tinta pensilnya luntur, menciptakan noda kusam yang merusak segalanya.
"Tidak, tidak, tidak! Kertas-kertasku!" Hana dengan panik mencoba mengangkat tabletnya, mengelapnya dengan tisu seadanya yang ada di meja. Namun, noda itu sudah menyebar. Kertas sketsa utamanya—yang berisi rancangan wajah Mimi—kini hancur total.
"Maaf, saya tidak sengaja. Tadi saya sedang mengecek fokus foto saya," sebuah suara rendah, berat, dan tanpa nada emosi terdengar dari atas kepala Hana.
Hana berhenti mengelap. Ia mendongak dengan napas terengah-engah karena marah. Di depannya berdiri seorang pria yang tampak sangat kontras dengan suasana kedai yang hangat. Pria itu mengenakan jaket bomber hitam pekat, celana kargo gelap, dan sepatu bot yang tampak kuat. Wajahnya tegas dengan rahang yang kokoh, dan matanya... matanya terlihat sedingin es, tanpa ada gurat rasa bersalah yang berarti.
"Tidak sengaja?" Hana berdiri, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan di tenggorokan. "Tuan, apa Anda sadar apa yang baru saja Anda lakukan? Ini bukan sekadar kertas basah! Ini pekerjaan saya! Ini persiapan lomba saya yang akan tutup tiga hari lagi!"
Pria itu, yang belakangan Hana tahu bernama Arlan, hanya mengernyitkan dahi tipis. Ia menatap kekacauan di meja seolah itu adalah masalah kecil yang bisa diselesaikan dengan uang. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan dompet kulit hitam, dan menarik beberapa lembar uang ratusan ribu.
"Ganti rugi untuk minumanmu. Dan saya rasa ini cukup untuk membeli beberapa rim kertas baru," ucap Arlan pendek. Ia meletakkan uang itu di atas meja yang masih basah dengan noda kopi.
Hana menatap uang itu, lalu menatap Arlan dengan pandangan tidak percaya. "Anda pikir semua hal bisa dibayar dengan uang? Ide yang ada di kertas ini, waktu yang saya habiskan untuk menggambar setiap detailnya... Anda tidak bisa membelinya di toko buku manapun!"
Arlan melirik jam tangan hitam di pergelangan tangannya, lalu kembali menatap ke arah luar jendela di mana cahaya matahari hampir menghilang. "Saya sedang mengejar golden hour di jembatan depan. Cahayanya tidak akan menunggu saya berdebat dengan Anda. Sekali lagi, maaf."
Tanpa menunggu balasan Hana, atau bahkan sekadar menawarkan bantuan untuk membersihkan meja, pria itu berbalik. Ia melangkah pergi dengan kamera DSLR tetap berada di genggamannya, seolah-olah Hana dan kekacauan yang ia buat hanyalah gangguan kecil dalam harinya yang penting.
Hana terpaku di tempatnya. Ia melihat punggung pria itu yang menghilang di balik pintu kaca kedai. Pria itu pergi begitu saja, meninggalkan Hana dengan tablet yang mungkin rusak dan tumpukan kertas yang kini hanya layak menjadi sampah.
Air mata kemarahan mulai menggenang di sudut mata Hana. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Pria arogan... pria monokrom menyebalkan!" umpatnya lirih.
Ia melihat uang yang ditinggalkan Arlan. Uang itu kini sedikit basah terkena sisa tumpahan kopi. Hana merasa terhina. Baginya, Arlan bukan hanya merusak karyanya, tapi juga meremehkan dedikasinya sebagai seorang seniman. Bagi Arlan, mungkin itu hanya kertas, tapi bagi Hana, itu adalah masa depannya.
Hana kembali duduk dengan lemas. Ia mencoba membersihkan sisa-sisa air di layar tablet grafisnya, berharap alat itu masih bisa menyala. Sambil terisak pelan, ia memunguti kertas sketsanya satu per satu. Saat itulah, ia melihat sesuatu yang tertinggal di bawah kolong meja.
Sebuah benda kecil bulat berwarna hitam. Penutup lensa kamera.
Hana memungutnya. Di bagian dalam penutup itu, ada stiker kecil bertuliskan: Arlan R. - Monochrome Photography.
"Arlan R..." Hana mengeja nama itu dengan penuh penekanan. "Jadi ini namamu, Tuan Penabrak."
Hana menatap penutup lensa itu dengan pandangan tajam. Sebuah ide liar muncul di kepalanya. Ia tidak akan membuang benda ini, dan ia juga tidak akan mengejar pria itu untuk mengembalikannya sekarang. Ia akan menyimpan benda ini sebagai "jaminan".
Hana menyeka air matanya dengan ujung lengan bajunya. Meskipun hatinya hancur melihat sketsanya rusak, sebuah api tekad baru mulai menyala. Ia akan mencari tahu siapa pria ini. Ia akan memastikan Arlan tahu bahwa warna-warna pastel yang ia remehkan jauh lebih berharga daripada semua foto hitam-putih miliknya.
Sore itu, di Kedai Nostalgic, pertemuan yang dimulai dengan tumpahan kopi pahit itu baru saja menumpahkan warna baru dalam hidup Hana. Warna yang mungkin tidak ia sukai pada awalnya, tapi warna yang akan mengubah cara ia melihat dunianya selamanya.
Hana mengemasi barang-barangnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia harus pulang, ia harus bekerja dua kali lebih keras malam ini. Sambil berjalan keluar kedai, ia menggenggam erat penutup lensa itu di dalam sakunya.
"Pertemuan kita belum berakhir, Tuan Arlan," gumamnya pada angin sore.
VOCÊ ESTÁ LENDO
LENSA HATI DIBALIK PASTEL
Ficção AdolescenteAroma kopi yang kuat bercampur dengan wangi roti panggang memenuhi ruangan berukuran sedang itu. Hana menghela napas panjang, jemarinya sibuk memoles layar tablet grafisnya. Di sana, sebuah karakter kelinci kecil berwarna pastel sedang menari di ant...
