Selama 49 tahun, Luna Sophia menjadi hantu di antara puing-puing kota tua di pesisir Italia. Kota yang dulu indah itu kini hanya berisi bangunan yang roboh dan tanaman liar yang merambat di sisa-sisa kemewahan masa lalu. Luna bertahan hidup dengan insting yang tajam, menjarah sisa-sisa persediaan, dan belajar bertarung melawan apa pun yang keluar dari bayang-bayang.
Di lehernya, selalu tergantung sebuah kalung perak usang dengan inisial "L"—satu-satunya benda yang menghubungkannya dengan memori masa kecil yang hangat bersama seorang anak laki-laki berambut poni yang dulu berjanji akan selalu menjaganya.
Pertemuan yang Tak Terduga
Suatu sore, sebuah tim taktis dari DSO melakukan investigasi di zona terlarang tersebut. Laporan intelijen menyebutkan adanya aktivitas biologis ilegal di reruntuhan Italia. Tim itu dipimpin oleh seorang pria veteran dengan jaket kulit cokelat dan tatapan mata yang lelah namun waspada: Leon S. Kennedy.
Saat Leon sedang memeriksa sebuah gereja tua yang sudah hancur, ia merasakan ujung laras senapan dingin menempel di tengkuknya.
"Jangan bergerak, atau kau akan menjadi bagian dari debu di kota ini," suara itu serak, dingin, namun memiliki nada yang entah mengapa terasa familiar di telinga Leon.
Leon perlahan mengangkat tangannya. "Aku di sini bukan untuk mencari masalah. Aku dari pemerintah."
Wanita di belakangnya—Luna—perlahan melangkah maju ke depan Leon tanpa menurunkan senjatanya. Rambutnya sudah memutih di beberapa bagian, wajahnya penuh dengan garis-garis perjuangan hidup, namun matanya tetap tajam.
Luna menatap wajah Leon dengan saksama. Detak jantungnya berhenti sejenak. Pria di depannya ini adalah versi dewasa dari anak laki-laki yang ia tangisi setiap malam selama puluhan tahun.
"Leon...?" bisik Luna, suaranya bergetar.
Leon mengerutkan kening. Ia menatap wanita asing itu dengan waspada. "Bagaimana kau tahu namaku?"
Luna tertegun. Ia mengharapkan pelukan atau air mata, namun yang ia dapati adalah tatapan kosong dari seorang pria yang telah melihat terlalu banyak kematian hingga memori masa kecilnya terkubur di bawah tumpukan trauma Raccoon City dan misi-misi gelap lainnya.
"Ini aku, Luna. Luna Sophia... dari panti asuhan di pinggiran kota," ucap Luna sambil menunjukkan kalung perak di lehernya.
Leon terdiam lama. Ia mencoba memutar kembali memori di kepalanya—mencari nama 'Luna' di antara ribuan nama orang yang pernah ia selamatkan atau ia tangisi. Namun, ingatannya tentang masa sebelum ia menjadi polisi di Raccoon City sangatlah kabur.
"Maafkan aku," ucap Leon pelan, suaranya tulus namun menyakitkan. "Aku... aku tidak ingat. Hidupku dimulai dari sebuah malam di Raccoon City. Segalanya sebelum itu... menghilang."
Luna menurunkan senjatanya. Hatinya hancur lebih hebat daripada gedung-gedung di sekeliling mereka. Pria yang ia tunggu selama 49 tahun untuk menyelamatkannya, ternyata telah melupakannya sepenuhnya.
Melihat pria yang selama hampir setengah abad menjadi satu-satunya alasan baginya untuk bertahan hidup, Luna tidak bisa lagi menahan sesak di dadanya. Senjatanya jatuh berdentang ke lantai marmer gereja yang retak.
Luna melangkah maju, memangkas jarak yang telah memisahkan mereka selama 49 tahun, dan langsung menyandarkan tubuhnya pada Leon. Ia memeluk Leon dengan erat—pelukan yang penuh dengan rasa lelah, kerinduan, dan keputusasaan yang tertahan.
Leon tertegun. Tubuhnya menegang, tangannya yang terbiasa memegang senjata kini menggantung kaku di samping tubuhnya. Ia bisa merasakan tubuh Luna yang bergetar karena tangis tanpa suara. Aroma debu, mesiu, dan wangi bunga lavender liar yang entah bagaimana masih melekat pada pakaian Luna, mulai menyentuh indranya.
"Hanya sebentar, Leon..." bisik Luna dengan suara yang teredam di dada Leon. "Hanya sebentar saja... biarkan aku merasa bahwa penantian ini tidak sia-sia."
Leon berdiri mematung. Sebagai agen terlatih, instingnya seharusnya menolak kontak fisik sedekat ini dengan orang asing di zona berbahaya. Namun, ada sesuatu dalam dekapan Luna yang terasa sangat familiar—sebuah kehangatan yang tidak berasal dari ingatannya, melainkan dari "memori otot" di hatinya yang paling dalam.
Perlahan, dengan ragu dan gerakan yang sangat kaku, Leon mulai mengangkat tangannya. Ia melingkarkan lengannya di bahu Luna yang terasa jauh lebih rapuh dari yang ia bayangkan.
"Kenapa..." Leon bergumam pelan, matanya menatap kosong ke arah altar gereja yang hancur. "Kenapa kau menungguku begitu lama di tempat seperti ini?"
Kepingan yang Mulai Retak
Luna semakin erat memeluknya, seolah takut jika ia melepaskannya, Leon akan menguap menjadi debu. "Karena kau berjanji akan kembali setelah diadopsi, Leon. Kau bilang kau akan menjemputku dengan seragam hebatmu... Aku tidak tahu kalau seragam itu akan membawamu sejauh ini dari ingatanku."
Mendengar kata-kata itu, Leon merasakan sakit yang tajam di kepalanya. Sebuah kilasan gambar hitam-putih muncul di benaknya: dua anak kecil duduk di bawah pohon besar, berbagi sepotong roti, dan sebuah janji yang diucapkan dengan kelingking yang bertautan.
Leon memejamkan matanya rapat-rapat. Ia tidak mengingat kejadiannya secara utuh, tapi rasa hangat yang sama saat ini sedang merayapi hatinya.
"Aku mungkin tidak ingat wajahmu di panti itu, Luna," ucap Leon serak, akhirnya membalas pelukan itu dengan sungguh-sungguh. "Tapi detak jantungmu... rasanya sangat akrab."
Momen yang tadinya penuh kehangatan itu seketika pecah. Saat Luna menyandarkan kepalanya di bahu Leon, matanya yang tajam karena puluhan tahun bertahan hidup menangkap sesuatu yang berkilau di jari manis Leon. Sebuah cincin yang melingkar di sana, tanda bahwa Leon telah memberikan hatinya pada orang lain di masa ia "menghilang".
Luna tersentak. Ia melepaskan pelukannya dengan kasar, melangkah mundur beberapa tindak hingga punggungnya menabrak pilar gereja yang retak.
Kenyataan yang Menghancurkan
Luna menatap tangan kiri Leon, lalu beralih ke wajah pria itu. Bibirnya mulai bergetar hebat, dan napasnya memburu. 49 tahun ia menjaga dirinya sendiri, menolak siapa pun yang mendekat, hanya demi satu nama yang ia simpan di hatinya. Namun, realita di depan matanya jauh lebih menyakitkan daripada peluru mana pun.
"Kau... kau sudah memiliki seseorang?" suara Luna nyaris hilang, hanya berupa bisikan yang pecah.
Leon melihat arah pandangan Luna dan menyadari apa yang wanita itu lihat. Ia menatap cincinnya sendiri dengan tatapan yang sulit diartikan—ada rasa hormat, tanggung jawab, namun juga rasa bersalah yang kini menghimpit dadanya.
"Luna, dengarkan aku—"
"Tidak," Luna menggelengkan kepalanya dengan cepat, air mata yang tadi ia tahan kini mulai mengalir membasahi pipinya yang kasar. "Bodohnya aku... Aku menunggumu di kota mati ini, sementara kau membangun hidupmu, memberikan janjimu pada wanita lain, dan melupakan setiap inci tentang kita."
Luna tertawa getir, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. Ia merasa seperti relik kuno yang tidak lagi punya tempat di dunia Leon yang baru.
"Aku bertahan hidup di antara mayat-mayat dan reruntuhan ini hanya untuk melihat cincin itu di jarimu?" Luna menarik kalung inisial "L" di lehernya hingga rantainya memerah di kulitnya. "Selama ini, bagiku waktu berhenti di usia 12 tahun. Tapi bagimu... aku bahkan tidak pernah ada."
Leon ingin mendekat, ingin menjelaskan bahwa cincin itu adalah simbol dari perjuangan panjangnya untuk menemukan kedamaian, mungkin setelah melalui badai bersama Ada Wong atau wanita lain dalam hidupnya. Namun, melihat hancurnya wajah Luna, Leon merasa seperti seorang kriminal.
Ia menyadari bahwa bagi Luna, Leon adalah seluruh dunianya. Sedangkan bagi Leon, Luna adalah halaman buku yang sudah robek dan hilang sebelum cerita dimulai.
"Maafkan aku, Luna," hanya itu yang bisa keluar dari mulut Leon. Kata-kata yang paling tidak ingin didengar oleh seseorang yang telah menunggu selama setengah abad.
Luna menatap Leon dengan mata yang penuh luka, lalu perlahan ia memungut senjatanya kembali. "Pergilah, Leon. Selesaikan misimu. Biarkan aku tetap menjadi hantu di kota ini. Jangan beri aku harapan jika kau tidak punya ruang lagi untukku."
YOU ARE READING
Resident Evil: Attention
Mystery / ThrillerLeon S. Kennedy, agen veteran yang telah melewati ribuan mimpi buruk bioteror, dikirim dalam sebuah misi investigasi ke sebuah kota mati di Italia yang hancur puluhan tahun silam. Namun, misi kali ini tidak menghadapkannya pada monster raksasa, mela...
