Prolog

60 5 0
                                        

Seorang wanita duduk terdiam memandang sendu ke arah jendela kamarnya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Seorang wanita duduk terdiam memandang sendu ke arah jendela kamarnya. Terdengar rintikan air hujan yang perlahan membasahi taman yang ada di balik jendela kamar itu. Wanita itu menarik nafas panjang, seolah lelah dengan kehidupannya.

"Sara!" pekik seorang wanita yang mendadak menerobos masuk ke dalam kamar.

"Ajeng, Aku terkejut!" Sara menepuk pelan bahu Ajeng, sahabat baiknya sedari kecil.

"Sara, lebih baik kamu segera melupakan mantan kekasihmu itu! Banyak pria tampan lain dan tentunya lebih kaya dari Eza," ujar Ajeng sembari duduk di ranjang empuk milik Sara.

Sara beranjak dari meja kerjanya, ia merasa sakit hati karena mantan kekasihnya, Eza. Pria itu berselingkuh dengan rekan kantornya. Hubungan mereka sudah terjalin selama 4 tahun, namun pria itu menyia-nyiakan seluruh waktu Sara begitu saja.

Sara, seorang pengangguran yang baru saja lulus dari kuliahnya. Ia sudah melamar ke berbagai perusahaan, namun tak satupun menerima lamarannya. Kini, asmaranya pun ikut kandas bersama mimpi-mimpinya.

"Ajeng, aku sangat muak! Berdiam diri di kamar, merenungi nasib sialku ini!"

Ajeng memeluk sahabatnya itu, ia menepuk pelan punggung Sara. Wanita itu berusaha menyemangati agar Sara terus berusaha dan kuat, ia juga berjanji untuk mencarikan pekerjaan untuk Sara.

***

Nampak seorang pria dengan setelan jas rapi tengah duduk di balik meja kerjanya. Pria itu menatap lekat sebuah potrait lukisan yang ada di dinding ruang kerjanya.

"Raden, Saya sudah memasang informasi lowongan kerja yang sesuai dengan keinginan panjenengan." Seorang pria paruh baya berbicara dengan penuh hormat pada pria yang diperkirakan berusia 30 tahunan itu.

"Terimakasih, Adi," jawab pria itu singkat. Pria paruh baya bernama Adi itu pamit undur diri dari ruangan itu. Pria itu menarik senyum tipis, ia beranjak dari kursi kerjanya dan berjalan ke luar ruangan dengan santai.

"Aku sangat menantikannya," lirih pria itu.

***

Halo readers! Setelah sekian lama vacumm karena banyak hal, akhirnya aku memutuskan untuk menulis cerita baru. Mohon maaf untuk beberapa cerita aku gak lanjut dan hiatus karena outline ceritanya ilang :) ceroboh si emang, tapi kalo outline aku suka aja nulis tangan ketimbamg diketik :)

Oke, back to the topic.
Cerita kali ini ada sedikit unsur historical😇 iya, lagi dan lagi ga bosen nulis hisfic ya... mostly latarnya modern ya guys...

Note : untuk nama desa itu fiksi dan untuk nama kota ataupun kerajaan itu berdasarkan kenyataan. Tapi, untuk kisah2 di dalamnya aku murni fiktif ya guys, walaupun nanti ada beberapa nama tokoh yang memang sudah tertulis di sejarah. Alur ceritanya semua fiktif, tidak ada maksud untuk menjelekkan ataupun memainkan sejarah ya guys karena cerita ini hanyalah fiksi belaka.

Dan bahasa yang aku gunakan bahasa yang baku ya, biar enak aja gitu hehe...

Makasi para reader yang udah dukung🥰🥰

RADEN NARATAMAStories to obsess over. Discover now