Bahagia

308 78 12
                                        

Satu-satunya hal yang Sasuke sesali dalam hidup ini adalah menikah. Tidak, bukan maksud Sasuke mendiskreditkan Sakura yang kini menjadi istrinya, atau kehidupan barunya bersama keluarga kecil mereka.

Tapi, Sasuke tidak bisa menyangkal bahwa dia tidak bahagia. Rasanya kosong. Iming-iming Kakashi tentang kehidupan setelah menikah akan bahagia ternyata omong kosong.

Di mana kebahagiaan itu? Sasuke tidak merasakannya. Tidak ada gelitik candu yang dia rasakan ketika banyak yang bilang jika seseorang yang sedang jatuh cinta akan mengalaminya, tidak ada keinginan mempunyai anak lagi ketika itulah yang diidamkan pria pada istri yang dicintainya.

Sasuke memang sudah sering salah jalan, dia mungkin memang cenderung lebih suka dengan kegelapan. Mungkin secercah cahaya yang ada di hidupnya sudah mati ketika semua keluarganya pergi. Pun jika orang-orang sering bilang bahwa Naruto adalah cahayanya, percayalah, bahwa Sasuke berharap demikian.

Namun, nyatanya setelah Naruto berkeluarga, Sasuke seringkali kehilangan cahaya dan sosok tengil sang sahabat. Sasuke ingin seperti dulu, seperti saat mereka berdua belum menikah dan punya anak.

Jika kehidupan bisa diulang, maka satu hal yang ingin dia ubah adalah tidak menikah dengan Sakura, ah tidak-tidak, maksud Sasuke, tidak menikah sama sekali.

Si pria Uchiha menatap pantulan wajahnya yang ada di permukaan danau. Rambut panjang tak rapih dengan poni yang menutup sebagian wajahnya, jubah hitam kusut yang menjadi saksi betapa panjang perjalanan yang pernah ditempuhnya.

Sasuke menghela napas, dia dulu adalah pria tampan yang digandrungi banyak wanita. Saat masih ikut Orochimaru, meski sang sannin ular itu terkenal sebagai penjahat, tapi Sasuke tetap dirawat dengan baik. Namun, lihat sekarang, padahal dia sudah punya keluarga, tapi penampilannya seperti orang yang tidak terurus.

Berbeda sekali dengan Naruto yang malah kelihatan semakin cerah, mungkin karena istri mereka berbeda. Sakura cenderung lebih sibuk di rumah sakit, sedangkan istrinya Naruto— yang Sasuke lupa namanya itu— memilih untuk jadi ibu rumah tangga sepenuhnya.

Meski Naruto kadang cerita bahwa Boruto sering membuat masalah, tapi Sasuke tidak melihat hal itu sebagai konflik yang besar. Tolong ingatkan Naruto bahwa saat kecil, dia lebih nakal daripada Boruto. Bukankah pepatah sudah mengatakan bahwa 'air cucuran atap, jatuhnya ke pelimbahan juga' yang artinya tabiat atau kelakuan orang tua akan menurun pada anaknya. Dan menurut Sasuke, perilaku Boruto cukup wajar, mengingat Naruto adalah orang tuanya.

Angin siang ini berembus cukup kencang, hingga rambutnya ikut bergerak seiring arah datangnya angin. Sasuke sudah bersiap untuk berdiri, tidak pantas juga dia membandingkan kehidupannya dengan orang lain terutama Naruto. Takdir keduanya sudah ditulis dengan baik dan Sasuke sebagai manusia harus mensyukurinya.

Ketika Sasuke akan berdiri, tiba-tiba tubuhnya terdorong ke dalam air, seolah ada orang yang mendorongnya sangat keras hingga rasanya sakit ketika wajah Sasuke menampar air danau yang dingin.

Sasuke adalah pria yang kuat, berkali-kali dia dihadapkan pada situasi hidup dan mati. Tapi rasanya, entah kenapa kali ini dia sangat yakin bahwa dia akan mati, di sini.

Tubuhnya kaku, dia bahkan tidak bisa mengeluarkan chakranya sedikitpun. Tangan kanannya terangkat meminta pertolongan, tapi lidahnya kelu, tenggorokannya tercekat hingga dia sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara.

Perlahan-lahan cahaya matahari sudah tak terlihat, napasnya melemah, pandangannya memburam.

Tidak, Sasuke tidak ingin mati sekarang, dia belum bisa merasakan yang namanya bahagia. Dia ingin bahagia, dia masih ingin hidup.

Namun, dadanya terasa penuh, mungkin air sudah masuk terlalu banyak ke dalam tubuhnya dan hanya ada satu hal yang akan terjadi, yaitu... kematian Uchiha Sasuke.

REWRITTEN LIFE Where stories live. Discover now