TRIGGER WARNING!
DISTURBING STORY!
A DARK PSYCHOLOGY ROMANCE!
MORALLY GREY!
SLOW BURN!
__________________________________________________________________
Ixia Semi Terra dibesarkan di antara bunga-bunga segar. Ia tahu cara merangkai, merawat, dan me...
Halo halo apa kabar teman-teman? Di mana pun semuanya berada dan dalam kondisi seperti apa, saya harap semoga sehat-sehat ya ....
Rasanya udah lama banget kita nggak ketemu, soalnya selama setahun lebih, saya bener-bener kena writer's block. Ide banyak di kepala, tapi buat nuangin ke tulisan itu susah banget. Kayak apa-apa rasanya nggak pas. Kata-katanya nggak bisa keluar. Saya berusaha memperbanyak refrensi dengan membaca, tapi malah berakhir dengan .... buku-buku yang tertata di rak.
Hhmmm .... Jadi curcol.
Well, sebelum baca prolog, saya mau ingetin dulu ya. Dengan ketikan capslok: BAHWA INI BUKAN BACAAN SEMUA ORANG. BACAAN INI KHUSUS BAGI YANG SUDAH BERUSIA 21+ DENGAN KONDISI MENTAL STABIL ALIAS SEHAT.
KENAPA? KARENA CERITA SAYA KALI SAYA KASIH PAPAN PERINGATAN: TRIGGER WARNING!
A DARK PSYCHOLOGY ROMANCE ALIAS ROMANSA PSIKOLOGI GELAP
SERIUS, BAGI TEMEN-TEMEN YANG PUNYA MENTAL ISSUE, SAYA HARAP NGGAK BACA CERITA INI. KARENA INI MORALLY GREY STORY. YANG BENAR, BISA JADI SALAH. DAN YANG SALAH, BISA JADI BENAR.
SLOW BURN YA TEMAN-TEMIN.
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan vote, komen, atau benerin typo-typo bertebaran ya
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Ixia Semi Terra duduk di ranjang yang menghadap jendela kaca setinggi dinding. Rambut hitam panjang bergelombangnya terlepas dari ikatan, kusut di beberapa sisi. Blus satin hijau metalik yang melekat di tubuhnya terkancing tak rapi, satu lubang terlewat. Kainnya sedikit bergeser, memang dipakai kembali tanpa benar-benar dipedulikan. Tanpa bra.
Napas Ixia sudah teratur, meski dadanya masih naik turun pelan.
Di kamar lantai dua ini, cahaya dari luar menembus kaca bertirai transparan, bergoyang pelan akibat disentuh embusan pendingin udara. Ixia tidak menyalakan lampu utama. Hanya lampu tidur kuning yang terletak di dekat nakas.
Selagi tatapan Ixia menembus rumah seberang, pendengarannya dibelai oleh derit pintu tanda dibuka. Tanpa menoleh, melalui ekor mata, ia bisa melihat seorang pria masuk. Ixia baru menelengkan kepala ketika sosok itu menutup pintu kembali tanpa suara, lalu berjalan mendekat. Kasur mengalah sedikit ketika pria tersebut menjatuhkan tubuh di sisi lain, pegasnya berdecit singkat.
“Minum,” kata pria itu sembari mengulurkan air mineral.
Jari mereka bersentuhan sekilas kala Ixia menerimanya. Ixia meneguknya tanpa berkata apa-apa. Tenggorokannya bergerak perlahan. Tak luput dari perhatian sang pria. Botol kosong segera Ixia pindah ke nakas. Dan ibu jari pria itu mengusap bibir Ixia lembut, menghapus sisa minuman.
“Kamu capek.”
Pria itu bukan bertanya, melainkan memberikan pernyataan yang timbul dari buah kesimpulan berdasarkan fisik Ixia. Jemarinya lantas berpindah menyugar rambut Ixia. Juga menjumput anak rambut yang lengket di pipi Ixia dan menyelipkan ke belakang telinga wanita itu.
Mata Ixia terpejam sebentar dan menelan ludah sekali. “Setelah kayak gitu?” bisiknya. “Mustahil kalau aku nggak capek.”
Dengan tatapan dingin, pria itu mengangguk. “Tidur.” Kemudian ia menekan tombol lampu tidur. Cahaya meredup hingga padam total. Namun, sinar bulan masih memberikan efek remang-remang.
Napas berat terhela dari hidung Ixia. Ia tersenyum tipis sebelum merebahkan diri sepenuhnya.
Pria itu tidak tersenyum. Hanya memperhatikan wajah Ixia yang mulai terlelap, seolah-olah sedang menghafalnya. Dengan amat perlahan, ia menunduk. Sekilas, tatapannya tertuju pada bibir Ixia.
Napas Ixia belum sepenuhnya dalam. Ia tahu itu. Meski demikian, ia tetap mendekatkan bibir ke pelipis wanita di bawahnya itu. “Kalau besok dia hilang,” bisiknya, “nggak ada yang bakal nyangkut-pautin ke kamu.”
Pria itu menegakkan tubuh, lalu berdiri. Tatapannya tak pernah lepas dari rak kayu rendah di seberang ranjang. Di balik benda-benda yang tampak biasa, ia tahu persis letak revolvernya.
Ia selalu tahu.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.