26 - KETIKA CAHAYA ITU PERGI

25 2 0
                                        

Di depan pintu kayu berwarna putih, seorang perempuan berdiri tegak dengan keraguan yang tak mampu ia sembunyikan. Tangannya sempat terangkat, hendak mengetuk, lalu diurungkannya. Pandangannya beralih pada bel kecil di samping pintu.

Ia menghela napas pelan, lalu meraih ponselnya.

Nanti langsung masuk aja.

Pesan singkat itu muncul sebagai notifikasi.

Melani mengembuskan napas perlahan, seolah sedang menenangkan dirinya sendiri. Ia mengulurkan tangan, memutar knop pintu dengan hati-hati, lalu melangkah masuk.

Ruangan luas dan mewah langsung menyambutnya. Ini pertama kalinya Melani menginjakkan kaki di rumah itu sendirian, tanpa Risma. Matanya menyapu sekeliling. Beberapa foto Risma terpajang rapi, foto pernikahan, potret berdua, dikelilingi ornamen-ornamen mahal yang tertata sempurna.

Pandangan Melani kemudian tertuju pada tangga di ruang tengah. Ia melangkah ke sana. Sesampainya di lantai dua, deretan kamar terbentang di hadapannya. Dengan ragu, ia mendekati salah satu pintu yang letaknya tak jauh dari tangga.

Semoga tebakanku tidak salah.

Ia mengetuk.

Tok. Tok.

“Itu kamu, Mel?”

Melani tersenyum kecil mendengar suara itu. Ia membuka pintu dan seketika terpaku.

Kamar itu begitu luas dan mewah. Nuansa putih dan emas mendominasi, menciptakan kesan elegan sekaligus hangat. Sebuah ranjang king size berdiri anggun di tengah ruangan, ditemani sofa besar di sudut kamar. Balkon terbuka langsung menghadap perumahan elite dan lapangan golf, menghadirkan pemandangan hidup yang menenangkan. Rasanya lebih pantas disebut kamar hotel bintang lima ketimbang kamar tidur pribadi.

Melani melangkah lebih jauh, masuk ke area walk-in closet. Deretan pakaian tergantung rapi, tas-tas berjejer, sepatu tersusun sempurna, jam tangan dipajang seperti koleksi galeri. Ia tersenyum tipis. Ia sangat mengenal Risma.

Risma selalu terlihat lebih membumi dibanding Aldi atau Fatan. Banyak barang miliknya yang sederhana, hasil belanja pasar, atau sekadar barang murah yang nyaman dipakai. Namun bukan berarti ia asing dengan kemewahan. Barang branded yang ia miliki pun tak sedikit.

Berbeda dengan Fatan.

Melani melirik deretan jam tangan milik lelaki itu. Tak satu pun bernilai puluhan juta. Semuanya berada di atas seratus juta, tanpa pengecualian.

Matanya kemudian beralih pada sebuah foto pernikahan berukuran sedang, tak terlalu besar, tak pula kecil. Di sana, Risma tampak anggun dalam gaun putih, sementara Fatan berdiri di sisinya mengenakan tuxedo hitam.

Keduanya terlihat begitu serasi.

Melani tersenyum kecil.

Mereka memang setara, dalam segala hal.

Dulu, banyak orang mengira pernikahan itu adalah hasil perjodohan. Dua keluarga terpandang, sama-sama konglomerat, wajar jika banyak yang menduga semuanya demi kepentingan bisnis. Namun Melani tahu kenyataannya tidak demikian. Fatan dan Risma menikah karena saling mencintai. Ia sangat yakin akan hal itu.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 21 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

The Real AffairWhere stories live. Discover now