0: Kekacauan di Semanjaya

105 16 0
                                        

Pada siang hari itu, hujan turun tanpa aba-aba seolah-olah ikut meluapkan amarahnya. Semanjaya yang tadinya ramai kini berubah menjadi sunyi. Semuanya kacau karena event OSIS yang sudah diperjuangkan dengan harapan dan berbagai usaha kini hancur begitu saja di depan mata mereka.

Lapangan sekolah tampak rusak. Stan-stan yang tadinya ramai kini tinggal papan nama dan hiasan acara yang dibuat dengan sepenuh hati berserakan di mana-mana, panggung utama hancur. Spanduk acara masih terpasang miring, kursi-kursi kosong berantakan, dan bisikan kecewa terdengar di setiap sudut koridor.

Dia berdiri disana, seorang Ketua OSIS, Namanya Arkabumi H Deandra. Wajahnya yang biasanya tersenyum dan selalu tampak tenang itu kini dipenuhi dengan rasa kecewa. Tatapannya kosong, menatap lapangan yang rusak. Rambut hitamnya basah oleh hujan, rahangnya mengeras, dan kepalanya terasa panas.

"BANGSAT! LO PADA LIAT, ANJING. Apa yang udah mereka perbuat sama event yang capek-capek kita buat?!"

Suaranya kalah dengan hujan. Tak ada yang menjawab. Beberapa siswa hanya menunduk, sedangkan yang lain buru-buru mencari tempat berteduh.

Langkah kaki terdengar mendekat. Seorang siswa yang juga memakai almamater OSIS berhenti di sampingnya, sambil memberikan sebuah payung kepadanya.

"Dean," katanya pelan tapi tegas. "Cukup."

Dean menoleh. "Cukup gimana, Rey? Lo liat sendirikan? Event kita hancur gara-gara mereka. Bayangin kalo mereka ga dateng dan ga ngehancurin event ini, pasti ga bakalan jadi kayak gini!"

Rey berdiri tepat di depannya, menahan bahu Dean yang mulai gemetar. "Gua liat. Gua juga marah, kita semua marah. Tapi dengan lo teriak -teriak itu ga bakalan ngeselesain apapun."

Dean menghela napas kasar. "Terus gua harus gimana sekarang? Diam aja?"

"Engga," jawab Rey cepat. "Lo tenangin diri lo aja dulu." Lanjutnya sambil menepuk pundak Dean.

Hujan masih turun, tapi tidak sederas tadi. Dean menunduk, rambut hitamnya meneteskan air. Tangannya mengcengkram pegangan payung, sekuat mungkin menahan amarahnya.

"Gua ngerasa gagal," ucapnya lirih.

Rey menggeleng. "Ini bukan salah lo, ini salah mereka yang bikin rusuh di luar sekolah tapi malah bawa nama sekolah ke masalahnya," Rey menatap ke arah Dean, "Ini bukan cuma tanggung jawab lo. Ini tanggung jawab kita. OSIS itu bukan cuma lo doang, masih ada gua sebagai wakil lo dan anak-anak yang lain."

"Thanks."

Rey melirik ke arah langit yang mulai terang. "Kalo hujan berhenti, kita kumpulin yang masih ada. Panggil yang lain. kita beresin ini bareng-bareng. Terus bicarain ini ke kepsek alias Pak Yanto, biar dia omongin ke sekolah yang udah ngerusak acara kita."

Dean terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.

Dean dan Rey berlari kecil menuju teras aula, tempat yang masih cukup teduh dari hujan. Walaupun mereka memakai payung Almamater OSIS mereka tetap saja basah dan kotor.

Rey menyeka wajahnya. "Di sini dulu. Tunggu hujannya beneran reda baru kita gas."

Dean hanya mengiyakan. Amarahnya belum sepenuhnya hilang, tapi setidaknya pikirannya sudah tidak seberisik tadi. Ia melihat ke sekeliling, lalu mengeluarkan ponselnya.

"Gua panggil yang lain," katanya singkat.

Satu per satu, anak-anak OSIS mulai berdatangan. Wajah mereka sama lelahnya dan kecewa. Beberapa menunduk melihat lapangan yang hancur dari kejauhan.

Dean berdiri di depan mereka. "Gua tau hari ini kacau," katanya tegas. "Acara kita gagal. Tapi kalau sekarang kita diem aja, semuanya bakal beneran sia-sia," Dean menatap ke arah anggota OSIS yang lain. "Kita bersihin semampu kita."

BEYOND HATETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang