Hal terakhir yang diingat Xander adalah suara decit ban yang memekakan telinga dan aroma aspal yang menguap terkena hujan. Lalu, senyap.
Saat ia membuka mata, langit-langit yang ia lihat buakan lagi plafon putih rumah sakit, melainkan susunan balok kayu tua yang berdebu. Xander mencoba duduk, kepalanya berdenyut hebat. Ia tidak berada di jalanan Olympara. Ia beraada di dalam sebuah gudang jerami yang pengap.
"Di mana....ini?" bisiknya. Suaranya terdengar sama, tapi tangannya terasa sedikit lebih kasar.
Ia merogoh sakunya. Ponselnya hilang. Dompet kulitnya pun lenyap. Sebagai gantinya, ada sebuah kantong kain kecil berisi 10 koin tembaga dengan gambar singa mengaum. Di pinggangnya, melingkar sebuah ikat pinggang kulit dengan belati pendek yang berkarat. Dan kartu identitas diri.
Data Diri:
Nama: Xander Valerius (Sekarang dikenal sebagai Xander si 'Pendatang')
Pekerjaan: Pencari Kerja (Unranked)
Afinitas: Mnemonic Resonance (Kemampuan mengingat dan memetakan pola sihir).
Xander melangkah keluar dari gudang. Silau matahari langsung menghantam matanya. Ia berdiri di sebuah lorong sempit yang terbuat dari batu bata merah. Di ujung lorong, sebuah jalan utama membentang. Pemandangannya seperti mimpi buruk bagi seorang analis data yang terbiasa dengan keteraturan.
Di jalan sana ia melihat kereta kuda. Orang-orang yang mengenakan jubah kain kasar, bukan kemeja kantoran. Bau menyengat dari campuran kotoran hewan, rempah-rempah, dan asap pembakaran kayu.
"Analisis dimulai," gumam Xander secara insting. Matanya mulai memindai sekitar. Di sinilah kemampuan Mnemonic Resonance-nya-kemampuan "merekam" Gerakan dan pola sihir yang pernah ia lihat-bangkit untuk pertama kali.
Tiba-tiba, ia melihat aliran cahaya tipis di udara-seperti sirkuit listrik transparan yang mengalir di antara bangunan-Itu adalah "Mana". Xander menyadari bahwa ia bisa melihat "logika" dari dunia ini. juga menyadari, bahwa ini bukan dunia yang ia tinggali sebelumnya. Dunia yang serba modern kini sudah tidak ada. Sekarang ia hidup di dunia lain dengan nama dan tubuh yang sama, yang membedakannya hanya tubuh yang sekarang lebih kurus dari sebelumnya. "Mungkin ini efek dari perpindahan dunia. Tapi ini sungguh di luar logika." gumamnya.
****
Logika tidak bisa mengenyangkan perut. Xander berjalan menuju sebuah kedai bernama The Rusty Tankard.
"Satu roti dan air," katanya sambil meletakkan satu keping tembaga. Si penjaga kedai, seorang pria besar dengan bekas luka di pipi, menatap Xander dari bawah ke atas. "Kau tampak asing. Pengungsi dari perang di Selatan?"
"Bisa dibilang begitu," jawab Xander singkat.
Saat ia sedang makan, tiga orang pria mabuk dengan pakaian kulit yang dekil mendekatinya. Salah satunya menendang kursi Xander. "Hei, Anak Baru. Kau duduk di meja kami," gertak pria itu.
Xander tidak gemetar. Otaknya justru bekerja cepat. Ia mengaktifkan Structural Weakness Detection-melihat titik rapuh pada objek atau makhluk hidup-Di matanya, sendi lutut pria itu berpendar merah redup, menandakan titik tumpu yang tidak stabil karena pengaruh alkohol.
"Maaf, aku tidak tahu. Aku akan pergi," Xander berdiri perlahan.
Si pria mencoba mencengkeram bahu Aris, tapi Xander sedikit bergeser-hanya dua inci-memanfaatkan momentum tubuh lawan yang berat. Pria itu tersandung kakinya sendiri dan jatuh menghantam meja kayu hingga hancur.
Xander tidak memukul balik. Ia hanya berkata pada penjaga kedai, "Dia yang menghancurkan mejamu, bukan aku." Lalu ia keluar dengan tenang sebelum keributan membesar.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
PETUALANGAN DI DUNIA LAIN
Fantasyhanya 44 part ~~~~~~ Terbangun di atas tumpukan jerami bukanlah cara yang Xander bayangkan untuk mengawali "kehidupan kedua." Ingatan terakhirnya hanyalah pendar lampu truk di jalanan Olympara yang hujan. Kini, ia berada di sebuah gudang jerami di k...
