(PROLOG)

28 3 0
                                        

Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar tenang. Suara bising dari  knalpot yang membelah jalanan protokol menjadi musik latar bagi mereka yang hidup di bawah bayang-bayang lampu kota.

Di sebuah gudang tua yang terbengkalai di pinggiran Jakarta Timur, aroma oli, bensin, dan keringat bercampur menjadi satu.

Puluhan pemuda dengan jaket kulit hitam seragam—bertuliskan "VULCAN" dengan logo tengkorak yang dilingkari rantai di punggungnya—berdiri tegak dengan wajah tegang.

Di tengah lingkaran itu, seorang pemuda duduk santai di atas motor sport Kawasaki Ninja H2-nya yang hitam legam. Ia mengenakan masker hitam yang menutupi setengah wajahnya, hanya menyisakan sepasang mata elang yang tajam dan dingin.

Tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan kulit tanpa jari, sesekali memutar gas motornya hingga menimbulkan suara raungan yang menggetarkan dada siapa pun yang mendengar.

Dia adalah Arzan Athariz Zavier seorang lelaki yang baru berusia 18 tahun,tetapi sudah menjadi seorang ketua geng motor yang terkenal dingin dan kejam di lingkungannya.

Tidak ada yang berani menatap matanya terlalu lama. Arzan dikenal sebagai ketua geng motor yang paling tidak terduga tenang namun mematikan.

"Siapa yang mulai duluan?" suara Arzan terdengar berat, rendah, dan penuh intimidasi.

"Geng sebelah, Bos. Mereka nyerang anak-anak kita yang lagi nongkrong di batas wilayah," lapor salah satu anggotanya dengan suara gemetar.
Arzan turun dari motornya.

Gerakannya tenang, namun penuh wibawa. Ia berjalan mendekati seorang pria yang sudah babak belur diikat di tiang gudang—penyusup dari geng lawan.

Arzan mencengkeram rahang pria itu dengan kuat, memaksanya mendongak.

"Katakan pada ketua kalian," bisik Arzan tepat di telinga pria itu, "kalau dia ingin bermain api, pastikan dia sudah siap untuk terbakar sampai jadi abu. Jangan sentuh wilayahku, atau aku akan menghancurkan segalanya yang dia sayangi."

Arzan memberikan satu hantaman keras ke perut pria itu hingga pingsan, lalu berbalik tanpa ekspresi.

"Bereskan ini. Aku ada urusan penting."

"Siap, Bos!" sahut puluhan orang itu serempak.

Arzan melirik jam tangannya. Sial, sudah jam delapan malam. Ekspresi dinginnya tiba-tiba berubah menjadi kepanikan yang aneh.

Ia segera berlari menuju sudut gudang di mana tas ranselnya tergeletak. Dengan gerakan kilat, ia melepas jaket kulit kebanggaannya, menyembunyikannya di dalam bagasi motor yang sudah dimodifikasi.

Ia menggantinya dengan sebuah sweater rajut berwarna biru muda yang lembut. Ia mengambil botol semprotan parfum bayi dari tasnya, menyemprotkan ke seluruh tubuhnya agar bau asap rokok dan bensin itu hilang total.

Rambutnya yang tadinya disisir ke belakang dengan pomade agar terlihat sangar, kini ia acak-acak sedikit ke depan hingga menutupi dahi, memberikan kesan anak SMA yang belum cukup umur.

Sepuluh menit kemudian, motor itu sudah terparkir rapi dua blok dari sebuah komplek perumahan elit. Arzan berjalan kaki sambil menunduk, sesekali merapikan kerah sweater-nya.

Langkah kakinya berhenti di depan sebuah pagar rumah minimalis yang sangat asri, penuh dengan tanaman hias yang tertata rapi. Di sana, seorang wanita cantik sedang menyiram tanaman sambil mendengarkan musik lewat earphone.

Wanita itu adalah Kiara Shafira Zenia, seorang model sukses yang masih  berusia 24 tahun. dimatanya, Arzan adalah anak tetangga yang manis dan lugu.

Arzan mengatur napasnya. Wajah dingin sang pemimpin Vulcan menghilang sepenuhnya, digantikan oleh raut wajah polos, mata yang berbinar-binar, dan senyum malu-malu yang menggemaskan.

"Kak Kia!" panggil Arzan dengan suara yang sengaja dibuat lebih lembut dan sedikit manja.

"Kiara menoleh, lalu tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Eh, Arzan? Kok baru pulang? Sekolahnya lama banget ya hari ini?"

Arzan berjalan mendekat, lalu sedikit mengerucutkan bibirnya. Ia memegang ujung baju Kiara, sebuah kebiasaan yang selalu membuat Kiara menganggapnya seperti adik kecilnya sendiri.

"Tadi ada tugas kelompok, Kak. Terus Arzan tadi hampir keserempet motor tau di jalan, serem banget. Arzan jadi takut pulang sendirian tadi."

Kiara langsung meletakkan alat siramnya dengan raut wajah khawatir.

"Hah? Kamu nggak apa-apa, kan? Ada yang luka? Makanya, kalau jalan itu hati-hati, Arzan.jangan sampe ceroboh kaya gini."

Arzan menggeleng pelan, lalu menatap Kiara dengan tatapan puppy eyes-nya.

"Nggak apa-apa kok, Kak. Cuma gemetaran aja sedikit. emh Boleh nggak kalau Arzan minta cokelat panas di rumah Kakak? Arzan takut sendirian di rumah, Mama belum pulang."

Kiara terkekeh sembari mengacak rambut Arzan.

"Ya ampun, kamu ini sudah kelas 12 tapi masih manja banget sih. Ya sudah, ayo masuk. biar Kakak buatkan cokelat panas sama Kakak  temenin belajar, ya?"

"Makasih, Kak Kia sayang!" seru Arzan riang, mengikuti Kiara masuk ke dalam rumah.

Di belakang punggung Kiara, saat wanita itu tidak melihat, Arzan menyeringai tipis.

Matanya sesekali melirik ke arah ponselnya di saku yang bergetar hebat—ratusan pesan dari anak buahnya yang menanyakan perintah selanjutnya untuk penyerangan balasan.

Arzan mengabaikannya.Baginya, memimpin ribuan orang di jalanan itu mudah, tapi memenangkan hati Kiara tanpa membongkar sisi gelapnya adalah tantangan yang jauh lebih berbahaya.

Arzan rela menjadi "kelinci" penurut di depan Kiara, selama ia bisa tetap berada di dekat wanita yang sudah ia cintai sejak ia masih berseragam SMP itu.

Kiara adalah satu-satunya rumah bagi jiwa Arzan yang penuh luka, meskipun Kiara tidak pernah tahu bahwa "adik kecil"-nya ini adalah penguasa jalanan yang paling  ditakuti oleh banyak orang.

inilah awal dari kisah mereka. Kisah tentang Arzan dan Kiara. ARZANKIA.
lanjutan nya di bab selanjutnya nya ya jangan lupa untuk vote nya.

VISUAL: Arzan Athariz zavier

VISUAL: Arzan Athariz zavier

Hoppla! Dieses Bild entspricht nicht unseren inhaltlichen Richtlinien. Um mit dem Veröffentlichen fortfahren zu können, entferne es bitte oder lade ein anderes Bild hoch.

VISUAL: Kiara Shafira zenia

VISUAL: Kiara Shafira zenia

Hoppla! Dieses Bild entspricht nicht unseren inhaltlichen Richtlinien. Um mit dem Veröffentlichen fortfahren zu können, entferne es bitte oder lade ein anderes Bild hoch.
ARZANKIA Geschichten, die süchtig machen. Entdecke jetzt