Bab1 : Pertemuan tak sengaja

5 2 0
                                        

Pagi itu, sekolah SMA Bina Prestasi dipenuhi suara langkah kaki siswa yang tergesa-gesa. Gilang menenteng tasnya sambil menatap papan pengumuman. Ia baru saja mendapat nilai ujian matematika yang cukup mengejutkan, dan pikirannya melayang pada tugas yang menumpuk.

Saat berjalan di lorong, ia tidak sengaja menabrak seseorang. Buku-buku itu jatuh berserakan.

"Maaf! Aku nggak sengaja!" terdengar suara lembut, sedikit panik.

Gilang menatap ke arah suara itu. Seorang perempuan berambut panjang tengah menunduk, berusaha mengumpulkan buku yang berserakan. Wajahnya menebar senyum canggung.

"Tidak apa-apa... aku bisa bantu," kata Gilang sambil menunduk, mengambil beberapa buku yang jatuh.

"Aku... terima kasih," Milea menjawab, sedikit tersipu. Ada kehangatan aneh yang menjalar di hati Gilang saat melihat senyumnya. Entah kenapa, detak jantungnya terasa berbeda.

Setelah buku-buku itu tertata rapi, mereka berdiri berhadap-hadapan, agak canggung.

"Aku Gilang," katanya akhirnya, mencoba memecah keheningan.

"Milea," jawabnya, menatap mata Gilang sebentar.

Tatapan itu seakan membuat waktu berhenti sejenak. Gilang tersenyum tipis. "Senang bertemu denganmu, Milea."

"Senang juga," Milea membalas, sambil menatap langit-langit lorong sekolah.

Hari-hari berikutnya, mereka sering bertemu tanpa disengaja. Di kantin, Gilang duduk di dekat Milea, hanya sekadar saling menyapa. Di perpustakaan, Milea terlihat sibuk menulis catatan, sementara Gilang memperhatikan dari meja lain. Mereka tertawa bersama saat ada teman yang berkelakar, dan seiring waktu, senyum itu menjadi hangat, mengisi hati yang tadinya kosong.

Suatu sore, saat jam pulang, Milea menghampiri Gilang.

"Kamu selalu terlihat serius, Gilang," katanya sambil tersenyum.

"Ya... aku memang suka fokus," jawab Gilang, sedikit gugup. Hatinya bergetar saat Milea mendekat.

Percakapan itu ringan tapi terasa istimewa. Mereka berbagi cerita tentang guru favorit, kegiatan ekskul, hingga mimpi masa depan. Tidak ada yang terasa dipaksakan; dialog itu mengalir alami.

Gilang sadar, hatinya tak bisa lagi mengabaikan Milea. Setiap senyum, tawa, dan pandangan yang tertukar membuatnya jatuh hati perlahan. Dan Milea, meski diam, juga merasakan getaran yang sama.

Hari itu menutup bab pertama pertemuan mereka, sebuah awal yang sederhana tapi begitu berarti. Dua hati yang berbeda, bertemu secara tak sengaja, mulai menemukan satu sama lain. Sebuah perasaan baru lahir di tengah lorong-lorong sekolah SMA, dan hati mereka mulai memilih-tanpa sadar, tanpa ragu.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 12 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Hati Yang MemilihmuStories to obsess over. Discover now