Gimana?”
Pertanyaan itu keluar dari bibir Amora Chantrea-atau yang lebih sering dipanggil Mora.
Mora duduk di samping Ocel, meletakkan susu kotak rasa cokelat di meja depannya.
“Apa gue out aja ya, Mor, dari debat?” suara Ocel pelan.
“Semenjak anak kelas sebelah daftar, kayaknya gue kurang deh sekarang, apa gue ngga fokus ya? , bukan berati gue iri sama dia ya, engga ko, cuman...kurang srek aja sekarang nya”
Mora diam, menyimak. Ia sudah hafal betul ekspresi sahabatnya saat mood-nya turun, pikiran nya juga jelas akan tertuju kemana mana.
Ocel-Raocello Arzellea-adalah anak debat kesayangan hampir semua guru di SMA Rajaspati.
Ironisnya, justru Ocel sendiri yang paling sering meragukan kemampuannya.
Menurut Mora, Ocel itu tipikal yang terlalu lama berkutat di satu pikiran. Padahal belum tentu pikiran itu mengarah ke hal buruk. Tapi bagi Ocel, apa pun yang dibicarakan orang tentang dirinya selalu terdengar seperti penilaian.
“Apasih, Cel,” Mora akhirnya bersuara.
“Out-out mulu. Bentar lagi debat provinsi. Jangan ngarang. Kenapa lagi sih?”
Ocel menoleh.
“Lo tau Archel, kan? Anak 11-3. Dia ikut debat juga. Gue dapet info kalau dia emang jago. Gue takut...”
Mora meraih susu kotak di depan Ocel, membukanya, lalu menyodorkannya.
“Cel,” katanya pelan tapi tegas.
“Lo udah bagus. Serius. Semua anak debat emang hebat, termasuk Archel. Tapi lo juga oke kok cell, oke banget malah, sahabat gue kan beda.”
Ocel terdiam, meminun susu kotak yang tadi di berikan Amora padanya,sambil menghembuskan napas.
“Cara lo berdiri, cara lo ngomong pas serius-itu bikin orang fokus ke lo. Inget, ya. Lo beda.”
“Eh, by the way,” Mora menyenggol bahu Ocel.
“Archel tuh udah putus belum sama Arjas?”
Alis Ocel menukik, kenapa pembahasannya jadi melenceng begini? Mira ini pusat informasi juga, semua informasi yang ada di Rajaspati, entah yang masih panas atau udah basi dia tau semua.
“Arjas? Kapten basket itu?”
Mora mengangguk.
“Kurang tau,” jawab Ocel.
“Tanya Verza aja.”
Mora membelalak, ngapain coba? Verza sendiri temen kelasnya mereka, anaknya emang keliatan kayak anak anak green flag gitu menurut mora, tapi belum tentu green flag beneran, mora sendiri juga jarang berinteraksi sama dia, soalnya anak nya sendiri kalo ditanya juga jawabnya seperlunya aja.
“Ngapain,” Mora mendengus.
“Gue nggak mau jadi bahan gosip circle-nya Arjas.”
Ocel terkekeh kecil. Setidaknya, kepalanya tidak seberisik tadi.
“Oh ya,” Mora kembali membuka topik.
“Anak podcast bakal ngundang satu cewek sama satu cowok buat podcast perdana mereka. Katanya nanti disuruh vote.”
Ocell sontak melihat ke arah mora, ohh, podcast perdana udah hadir ternyata-batinnya.
“Terus bahas apa?” tanya Ocel.
“Kurang tau cell, gue taunya dari anak jurnalis si Arjas juga ada di papan vote, selebihnya gue ngga tau”
Ocel mengangguk pelan.entah Siapa yang akan terpilih di podcast perdana SMA mereka, Ocel tahu satu hal-ia akan tetap duduk di bangku penonton, mendukung dari jauh.
YOU ARE READING
Where We Blur
Teen FictionJika waktu bisa diulang, Arjas ingin mengenal Ocell lebih awal-mengenal sosok yang mampu membuatnya tertawa tanpa ragu, tanpa beban. Pertemuan yang awalnya terjadi tanpa sengaja itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang disengaja. Bukan lagi sekadar...
